
Sungguh aku syok mendengar apa yang diucapkan oleh Diana. Dia istriku, istri sah ku, tapi dia benar-benar meremehkan ku hanya karena aku melarangnya datang ke acara arisan dengan mama-mama teman Dave yang sosialita itu.
Bukan karena apa-apa aku melarangnya. Aku hanya tidak ingin Diana meninggalkan Laura yang sedang sakit hanya karena acara arisan yang pastinya akan berjalan sangat lama.
Aku heran apa saja yang mereka bicarakan sehingga acara mereka itu memakan waktu yang lama. Dan menurut yang aku dengar, budget untuk mereka satu kali jalan sama dengan uang belanja Diana selama beberapa hari.
Aku mendengarnya sendiri dari Diana. Dia yang dengan bangganya menceritakan tentang grup arisan mereka yang menghabiskan banyak uang.
"Apa kamu sungguh-sungguh akan meninggalkan Laura disaat dia sedang sakit seperti ini?" tanyaku padanya dengan suara lirih agar dia tidak kembali emosi.
"Bukannya ada kamu, Papanya yang jarang menemaninya? Apa gak bisa aku bebas sebentar dari anak-anak dan menikmati hidupku bersama teman-temanku? Lagipula kata dokter Laura sudah baikan," Diana benar-benar tidak mau mengalah, sama seperti sebelumnya.
"Iya benar, tapi dia masih kecil dan jarang bersamaku, jadi sudah pasti dia akan mencarimu jika dia terbangun nanti," aku masih mencoba bersabar untuk menghadapinya.
"Sudahlah, aku sudah lelah jika harus berdebat denganmu. Aku akan berangkat dulu. Dan cobalah menjadi Papa dan suami yang baik untuk kami," ucapnya sebelum membawa tas branded nya.
"Kamu benar-benar lebih memilih bersama mereka? Bersama orang-orang yang membuat Laura menjadi sakit seperti ini? Cukup kemarin saja teledormu untuk membuat Laura berada di rumah sakit. Jangan kamu tambah lagi dengan mengabaikan Laura tanpa kehadiran Mamanya di sisinya pada saat seperti ini," aku mencoba menyadarkan kembali Diana seperti sebelum dia mengenal teman-temannya seperti sekarang ini.
"Aku gak pernah melarang kamu meskipun kamu jauh di sana dan bertemu dengan siapa saja. Lalu... kamu berhubungan dengan-"
"Jangan bahas itu dan pelankan suaramu. Ini rumah sakit, tidak semestinya kita berdebat di sini," aku menyahuti ucapan Diana yang seperti biasanya, sedikit-sedikit selalu membahas tentang kesalahanku waktu itu, kesalahanku yang bisa terjebak oleh Reni.
Dengan kesalnya Diana meninggalkan kamar inap Laura, dan aku memang sengaja tidak melarangnya lagi karena aku sudah kesal dan tidak mungkin aku bisa melarangnya. Akan sangat sia-sia melarang Diana yang memang sedari dulu sudah keras kepala.
Ku pandangi seluruh kamar inap ini. Sungguh nyaman dan luas. Kamar VVIP memang beda. Entah berapa biaya yang akan dikeluarkan nanti setelah Laura akan meninggalkan tempat ini. Satu hal yang aku tahu, selera Diana memang bagus.
__ADS_1
Semenjak bergaul dengan teman-temannya itu dia selalu membeli barang yang dengan kualitas sempurna. Tak heran jika kamar yang dipilih untuk rawat inap Laura sekarang adalah kamar VVIP dengan fasilitas lengkap layaknya sebuah hotel.
Tanpa terasa aku tertidur dan bangun ketika Laura memainkan hidungku dan rambutku. Ku lihat senyum lebar Laura yang menampakkan giginya yang baru tumbuh beberapa, dan ku cium dia dengan gemasnya hingga terkekeh dan memukuliku.
Ku lihat jam yang terlilit di tanganku. Sudah hampir jam sepuluh malam dan Diana belum pulang. Sungguh aku benar-benar geram dan ingin sekali memberinya nasehat sebagai seorang suami. Namun aku rasa aku tidak akan melakukannya.
Ku hembuskan nafasku, berat, sangat berat ku rasa. Aku tidak menyangka jika imbas dari kesalahanku waktu itu akan sangat berat untukku. Seperti apapun aku berusaha untuk memperbaikinya, terasa percuma. Karena Diana tidak lagi menganggap ku dan dia sibuk dengan dunianya sendiri.
God, aku harus bagaimana? Apa aku harus bertindak tegas padanya? Ataukah hanya membiarkannya saja? Tapi sampai kapan? Sampai kapan dia akan bersikap seperti itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu semua ada di dalam benakku dan aku akan memikirkannya malam ini. Karena waktu cutiku tinggal beberapa hari lagi. Harapanku adalah, aku ingin mengajak anak dan istriku untuk tinggal bersamaku di kota tempatku bekerja saat ini.
Aku mengajak Laura bermain karena dia masih belum ingin tidur kembali. Dan dalam celotehannya dia selalu menanyakan mamanya.
Kini jarum jam sudah menunjukkan jam sepuluh tepat. Dan benarlah suara sepatu yang ku dengar adalah milik Diana.
Dengan sumringahnya dia masuk ke dalam kamar inap Laura dan akan memeluknya. Namun segera aku hentikan dia.
"Sebaiknya kamu membersihkan tangan dan badanmu dahulu. dan jangan lupa berganti pakaian, karena Laura sedang sakit. Bisa-bisa dia diare lagi nanti."
"Ah kamu, kayak aku bawa virus dan bakteri aja," ucapnya sambil menaruh beberapa paper bag di atas sofa yang terdapat di ruangan ini.
"Virus dan bakteri tidak ada yang bisa melihatnya. Jadi lebih baik kita harus seefektif mungkin menjaganya daripada Laura kembali lemas seperti kemarin," aku menasehatinya kembali.
Akhirnya Diana menuruti ku, dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi namun dengan mengomel lirih hingga aku tidak mendengarnya.
__ADS_1
Kemudian kami pun tertidur setelah Laura meminum obatnya dan mengantuk karena efek dari obat yang diminumnya.
Diana tidur di bed bersama dengan Laura dan aku tidur di bed sebelahnya. Memang ada dia bed di kamar inap tersebut yang diperuntukkan bagi keluarga yang menunggunya.
Keesokan harinya, pada saat dokter melakukan visit, Laura sudah diperbolehkan pulang hari ini, namun harus menghabiskan cairan infusnya terlebih dahulu.
Setelah siang hari, kami mulai mengurus kepulangan Laura. Diana menyiapkan semua perlengkapan Laura yang berada di dalam kamar tersebut. Dan aku membayar biaya perawatan Laura selama berada di rumah sakit ini.
Mataku terbelalak sempurna ketika melihat nominal tagihan yang harus ku bayar. Sungguh jumlah fantastis yang harus di bayar.
Asuransi milik kami tidak mengcover untuk biaya kamar dan obat-obatan Laura karena memang obat dan kamar yang ditempati tidak sesuai dengan uang didapatkan oleh asuransi kami.
Ku akui memang semua obat-obatannya mahal, tali memang sangat ampuh. Lihat saja Laura yang katanya terkena diare parah, hanya dalam beberapa hari saja dia sudah sembuh dan ceria kembali.
Ku hembuskan nafasku dan memberikan kartu kredit yang selalu akau bawa ke mana pun aku pergi.
Setelah sampai di rumah, Laura yang memang masih tergolong bayi karena masih belum berusia lima tahun, sedang tertidur pulas dalam gendonganku saat ini.
Setelah aku tidurkan dia di tempat tidurnya, aku mulai berbicara dengan sangat lembut pada Diana.
Aku mulai mengutarakan keinginanku untuk mengajak mereka ke kota tempat aku bekerja sekarang ini. Dan seperti biasa, dia menolaknya. Diana mengancam balik padaku ketika aku memaksanya.
"Aku... aku minta kita bercerai, bagaimana? Apa kamu mau menceraikan ku?" tampak sekali Diana menantang ku.
"Enggak. Gak akan. Aku gak akan menceraikan mu!"
__ADS_1