
Hari ini sidang putusan cerai Celine dengan Gio. Dan hasilnya sesuai dugaan, mereka kini resmi bercerai dan itu berarti kini Celine menjadi janda.
Janda cantik dan baik seperti Celine pasti banyak yang berminat padanya. Jujur aku merasa khawatir jika dia kembali memilih orang yang salah. Karena aku masih sangat peduli padanya.
Minggu ini Celine ternyata ada tugas luar kota yang kebetulan berada di kotaku. Bisa diketahui bukan bagaimana perasaanku? Senang dan teramat senang sekali hingga aku tidak bisa berkata-kata.
Aku menyempatkan diriku bertemu dengannya. Sungguh mataku tak bisa berpaling darinya, Celine uang sekarang lebih memikat dan lebih cantik dari terakhir aku bertemu dengannya.
Entah mengapa terpancar aura wanita dewasa yang sangat memikat ada pada diri Celine saat ini. Pantas saja Gio kelabakan saat ditinggal oleh Celine dan dia tidak terima pada saat putusan pengadilan tentang perceraian mereka.
Gio masih sering menteror Celine dengan pergi menemuinya setiap saat. Oleh karena itulah Celine meminta kesempatan pada saat perusahaanya memberangkatkan karyawannya untuk tugas luar kota agar Gio tidak bisa menemuinya walaupun hanya sementara.
"Hai Al," sapa Celine ketika sudah ada di depanku.
__ADS_1
"Hai Cel, kamu bertambah cantik dan menarik ya sekarang," mulutku tidak bisa menyembunyikan pujian untuk Celine yang sudah ada di pikiranku.
"Kamu itu bisa aja Al," Celine masih saja sama seperti dulu, wajahnya merona ketika mendapatkan pujian dariku.
"Kamu tinggal dimana Cel?" aku mengalihkan pembicaraan agar Celine tidak lagi malu dan agar dia mau menatapku, karena jika dia malu pasti dia menundukkan kepalanya, mungkin agar aku tidak melihat wajahnya yang merona karena malu.
"Aku sudah disediakan tempat dari kantor Al," dan benar saja dia kini menjawab dengan
memandangku.
Ah, aku jadi teringat waktu dulu ketika kami masih duduk di bangku SMP. Aku mencari tahu tentang Celine dari teman-temannya. Dan aku mengikutinya karena ingin tahu rumahnya.
Jika ada yang bertanya, kok gitu banget sih? Kalian tidak tahu Celine bagaimana. Dia tidak pernah mau diantar oleh cowok manapun. Dan jika didekati oleh cowok, pasti dia akan menghindar. Entahlah mengapa dia seperi itu, tapi aku suka Celine yang seperti itu karena dengan begitu tidak ada cowok yang berani mendekati dia.
__ADS_1
Sebenarnya banyak cowok yang mendekati Celine, namun kebanyakan dari mereka menyerah karena Celine tidak pernah merespon mereka. Dan aku hanya perlu menjadi teman dekatnya jika aku ingin dekat dengannya.
Meskipun bukan sebagai pacar, aku tetap senang karena aku bisa dekat dengannya dan aku bisa tahu semua tentang dia. Tentang sifatnya, tentang sikapnya, bahkan tentang kebiasaannya.
"Boleh aku antar kamu pulang Cel? Kamu masih baru tiba di sini, pantas kan jika aku mengkhawatirkanmu?" aku mencoba menawarkan untuk mengantar Celine pulang karena aku ingin tahu tempat tinggalnya ketika dia berada di kota ini.
"Ya udah, kebetulan aku capek banget, pengen cepat istirahat," Celine memijat-mijat bahu belakangnya dan tengkuk lehernya.
"Oke, habiskan dulu makanmu, setelah ini akan aku antar kamu pulang," aku tersenyum senang dan lega karena Celine kini berada di hadapanku.
Sungguh tidak bisa ku bayangkan sama sekali, kini dia benar-benar bersamaku meskipun sama seperti yang dulu. Ya, kita masih berteman baik, itu yang Celine katakan. Dan setidaknya aku masih bisa dekat dengannya walaupun hanya sebatas teman.
Setibanya aku di rumah, aku dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang tidak pernah aku duga dan tidak pernah aku harapkan kedatangannya di rumahku. Dia sudah duduk di ruang tamu dengan beberapa suguhan berupa cemilan, kue dan minuman.
__ADS_1
"Hai Lex," ucapnya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanyaku yang sudah emosi walau hanya melihatnya.