Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 81 Apakah Tuhan mendengarkan doaku?


__ADS_3

Sejak malam itu aku belum mengetahui apa rencana Celine selanjutnya. Dia tidak menjawab pertanyaanku dan aku juga tidak mau memaksanya.


Siapa aku? Aku bukan siapa-siapanya Celine dan aku juga tahu itu. Aku hanya seorang sahabat yang diam-diam menaruh hati padanya. Seorang sahabat yang mengaguminya. Dan seorang sahabat yang mencintainya.


Sejak saat itu pula aku jarang ke rumah orang tuanya. Entahlah, sepertinya Celine masih tinggal di sana, aku sangat yakin sekali karena orang tuanya tidak akan membiarkan dia sendirian di luar sana.


Bukannya aku menghindar atau tidak peduli lagi padanya. Aku hanya tidak ingin Celine selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitarnya apabila dia bersamaku.


Aku memang mencemaskannya sama seperti mencemaskan anak-anakku yang kini tidak ada kabar sama sekali. Untung saja kedua orang tuaku memperkerjakan orang untuk mengawasi Dave dan Laura, hingga aku mengetahui kabar mereka dari orang tersebut.


Syukurlah mereka baik-baik saja dan aku yakin Diana sebagai ibunya akan memberikan yang terbaik untuk Dave dan Laura.


Kehidupanku saat ini sama seperti pria lajang pada umumnya, sayangnya aku tidak seperti pria lajang lainnya karena aku tidak mau pusing memikirkan tentang wanita.


Tujuan hidupku saat ini hanya untuk membahagiakan Dave dan Laura yang terpisah jauh dariku. Harapanku hanya mereka baik-baik saja dan bisa hidup dengan nyaman dengan uang yang aku kirimkan pada mereka tiap bulannya.


Aku memang pria brengsek, aku akui itu dan aku sadar sekarang aku tidak boleh lagi terjebak oleh keadaan seperti dulu, sehingga aku tidak mau berdekatan atau akrab dengan wanita lagi.


Bukankah setiap orang mempunyai kesempatan untuk bertobat memperbaiki dirinya? Bukankah aku juga berhak mendapatkan kesempatan kedua?


Jujur saja, aku sangat ingin sekali mendapatkannya. Namun aku hanya bisa pasrah dengan jalan yang diberikan sang kuasa padaku.


Diana, aku tau bagaimana keadaannya saat ini. Dia sudah memiliki pria lain yang lebih muda darinya. Dan dari sumber yang terpercaya aku dengar, pria tersebut hanya pria yang biasanya dibayar untuk memuaskan wanita yang membutuhkannya.


Entahlah, dia bersungguh-sungguh dengannya atau tidak. Aku tidak bisa memberi saran padanya, dan semoga saja perilakunya saat ini tidak berimbas pada kedua anakku, Dave dan Laura.


Aku terhenyak dari lamunanku ketika suara ponselku berdering lama. Mataku melebar ketika melihat nama kontak yang selama ini jarang sekali menghubungiku, bahkan hampir tidak pernah.


Ayah Celine menghubungiku. Beliau menginginkan bertemu denganku. Satu kalimat yang membuatku sangat cemas sekarang ini.


Alex, Celine sedang dirawat di rumah sakit saat ini. Dia stress dan berakibat buruk pada lambungnya. Sekarang dia dalam masa pengobatan di rumah sakit.


Berita yang diberikan oleh ayah Celine ini tentu saja membuat aku sangat ingin menemuinya sekarang ini.


Apa ini salahku yang dalam beberapa minggu ini tidak memperhatikannya?


Tak bisa ku tahan kakiku yang ingin segera berlari menemui Celine di kamar rawat inapnya.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu kamar itu ku buka dan aku melihat dengan jelas wajah pucat dari wanita cantik yang selama ini aku kagumi.


God...


Kenapa ini semua bisa terjadi? Wajah cantik itu kini terlihat lemah tak bertenaga.


Perlahan mata cantik itu terbuka, mungkin karena mendengar suara langkah kakiku yang tidak sabaran ini mendekatinya.


"Al," suara lemah dan lirih itu menyapaku.


"Maaf Cel kamu jadi terbangun karenaku," ucapku penuh penyesalan.


Celine tidak menjawab, dia hanya tersenyum lemah, namun terlihat tetap manis senyuman itu meskipun terlihat dari wajah pucatnya.


"Kamu kenapa Cel?" tanyaku ketika sudah berada di sampingnya.


"Duduklah Al. Jangan seperti bodyguard yang berdiri untuk menjagaku," candanya dengan senyum lemahnya.


Aku pun menurutinya. Ku duduki kursi yang berada di samping bed Celine.


Melihat Celine yang mengeluarkan candaannya padaku, aku juga berinisiatif untuk memberikan candaanku padanya.


Celine tersenyum melihatku. Dia menatapku dengan intens, kemudian dia mengatakan sesuatu padaku.


"Bagaimanapun aku harus siap Al. Kamu nantinya pasti akan menikah dan hidup dengan istrimu dan keluargamu yang baru. Dan jika itu terjadi, aku mohon kamu jangan ulangi kesalahanmu lagi. Dan jika perlu jauhi aku Al. Aku takut jika istrimu nanti akan mempermasalahkan hubungan persahabatan kita."


Kalimat ini, kalimat yang entah mengapa sangat menusuk dalam hatiku. Kalimat ini seperti menghancurkan semestaku, menghancurkan kehidupanku.


Aku terdiam, aku tidak ingin Celine mengetahui kesedihanku karena mendengar perkataan darinya.


Hening selama beberapa menit, hingga akhirnya aku mulai bersuara karena sepertinya Celine benar-benar menunggu kata-kata yang keluar dari mulutku.


"Maafkan aku Cel, tapi...."


Sungguh aku tidak kuasa mengatakan apa yang ada dalam pikiranku.


"Kenapa kalian tidak menikah saja?"


Tiba-tiba ada suara yang membuat kami menoleh ke arah pintu. Dan sosok itu adalah sosok yang kami hormati.

__ADS_1


Ayah dan Ibu Celine ternyata mendengar percakapan kami sedari tadi. Entah berdiri di mana mereka sejak tadi hingga aku dan Celine tidak menyadari kehadiran mereka di sana.


"Ayah, Ibu," Celine menyapa kedua orang tuanya dengan lemah.


Ayah dan ibu Celine mendekat ke arah kami dan ayah Celine kembali mempertanyakan hal yang sama.


"Kenapa kalian tidak menikah saja?"


"Ayah, kami hanya bersahabat, tidak lebih dari itu," jawab Celine dengan lemah.


"Benarkah Alex kamu tidak mempunyai perasaan apapun pada anak Ayah ini?" ayah Celine bertanya padaku dengan menatapku secara intens.


"Saya mencintai Celine dari dulu Pak."


God... aku mengatakanya!


Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulutku. Dan tanpa sadar juga aku segera melihat Celine yang sangat kaget mendengarnya.


"Alhamdulillah... kita nikahkan saja mereka Bu. Ayah dan Ibu tau perasaan Celine bagaimana padamu. Ayah dan Ibu tau karena kami orang tuamu."


Ayah Celine terlihat bahagia ketika mengatakannya.


"Tapi Yah, Alex-"


"Saya duda Pak, Bu. Dan saya mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan yang ikut dengan ibunya. Saya tidak sebaik yang Bapak dan Ibu pikirkan."


Aku mengatakannya dengan tegas menyela ucapan Celine, karena aku tahu jika Celine keberatan dengan rencana pernikahan ini.


"Bagus. Ayah dan Ibu bangga karena melihat kesungguhanmu. Kamu pria yang hebat dan bertanggung jawab menurut kami berdua. Dan kami rasa pilihan kami sekarang tidak salah."


Ucapan Ayah Celine ini membuatku merasa sangat bersalah.


Salah Pak, saya tidak sehebat itu. Saya hanya pria brengsek yang pernah melakukan kesalahan sehingga rumah tanggaku berakhir.


Tentu saja semua itu hanya aku ucapkan dalam hatiku saja.


"Lalu bagaimana Cel, apa kamu menerima pernikahan ini?" ayah Celine bertanya kembali padanya.


Aku kira mereka akan menilai diriku buruk, ternyata mereka sangat baik sehingga memberikan padaku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dalam pernikahanku sebelumnya. Aku rasa Tuhan mendengarkan doaku kali ini.

__ADS_1


__ADS_2