Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 76 Menghilang


__ADS_3

Omelan dari kedua orang tuaku membuatku ingin sekali pulang ke sana dan mengambil anak-anakku. Dalam beberapa bulan setelah perceraianku dengan Diana, kedua orang tuaku tidak bisa bertemu dengan cucu mereka sendiri.


Laura dan Dave, mereka kini seperti sanderaan Diana, Mamanya sendiri. Sejak perceraian kami, mantan istriku itu tidak membiarkanku bertemu dengan Laura dan Dave.


Hingga pada saat kedua orang tuaku ingin menemui cucu mereka sendiri, mereka harus melalui drama yang menguras emosi mereka.


Diana bahkan tidak memperbolehkan Dave dan Laura bertemu dengan kakek neneknya yaitu kedua orang tuaku.


Pantas saja aku tidak bisa menghubungi nomer ponselnya, ternyata nomer ponselku diblokir olehnya.


Pernah aku datangi rumah kakaknya, tempat dia tinggal sekarang bersama kakaknya yang belum menikah. Benar kata kedua orang tuaku, Diana histeris tidak memperbolehkan aku bertemu dengan kedua anakku.


Aku juga tidak tahu di mana Dave dan Laura sekarang berada. Mengapa mereka tidak keluar di saat Papanya datang untuk bertemu dengan mereka.


"Dave!"


"Laura!"


"Papa datang!"


Sudah berkali-kali aku berteriak memanggil nama mereka, namun tak ada jawaban dari Dave.


Biasanya Dave akan berlari padaku ketika aku pulang dan memanggil namanya. Tapi sekarang? Dia tidak ada sama sekali mendekat padaku ataupun menjawab panggilanku.


"Mana mereka? Mana Dave dan Laura? Kau ke mana kan mereka berdua?"


Emosiku sudah tidak bisa ku tahan lagi. Sedari tadi aku sudah menahan emosiku pada saat Diana dan kakaknya tidak mengijinkan aku masuk.


Lalu, sampai kapan aku harus seperti ini? Tidak bisa bertemu dengan anakku sendiri. Bahkan mendengar suaranya pun aku tidak bisa.


"Aku mohon, temukan aku dengan Dave dan Laura. Aku merindukan mereka berdua. Bahkan aku sudah menuruti semua keinginanmu. Kurang apa lagi?"


Ku rendahkan harga diriku memohon pada mantan istriku. Aku berlutut memohon padanya. Ku tatap dia dengan tatapan mengiba. Namun apa yang ku dapatkan? Dia tersenyum merendahkanku.

__ADS_1


"Pulanglah, dan jangan kembali lagi!" ucapnya lalu pergi dari hadapanku, masuk ke dalam kamarnya.


Mas Ari, kakak dari Diana masih ada di hadapanku, mungkin dia menungguku pulang untuk menutup pintu rumahnya.


"Mas, aku mohon pertemukan aku dengan Dave dan Laura sekali saja. Aku hanya ingin memeluk mereka. Aku tidak akan membawanya pergi. Di mana mereka Mas?"


Tak henti-hentinya aku bertanya pada Mas Ari, tapi tetap saja dia hanya diam tidak bergeming. Aku tahu jika dia tidak diperbolehkan Diana untuk mempertemukan Dave dan Laura padaku. Aku tahu itu, karena sejujurnya aku dan Mas Ari sangat dekat. Tapi itu dulu, sebelum aku dan Diana bercerai.


"Baiklah, aku akan pulang. Tolong kabari aku jika Dave dan Laura ingin menemuiku."


Aku berjalan keluar rumah milik Mas Ari tanpa hasil apapun. Aku memandang rumah itu sebelum meninggalkannya, berharap ada Dave dan Laura yang melihatku dari balkon lantai atas.


Aku tersenyum menertawakan kebodohanku yang sama sekali tidak ku sadari tadi.


"Alex... Alex... kenapa kamu sebodoh itu? Percuma merendahkan harga dirimu toh hasilnya sama saja."


"Bagaimana Lex, apa kamu bertemu dengan Dave dan Laura?" Mamaku bertanya padaku.


Dan aku pun menggelengkan kepalaku. Memandang kedua orang tuaku yang menatapku dengan iba.


"Apa perlu kita pending uang bulanan untuk Dave dan Laura?" Mamaku kembali mengutarakan pemikirannya.


"Tidak perlu Ma. Itu untuk keperluan Dave dan Laura. Jangan sampai mereka selalu menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya."


Aku tidak menyetujui pendapat dari Mamaku. Jujur saja aku juga ingin melakukan itu, namun aku ingat kembali jika akan sangat melukai dan merugikan bagi Dave dan Laura jika sampai aku melakukannya.


Akhirnya aku pulang ke kota tempat kerjaku saat ini tanpa membawa hasil apapun. Rinduku pada Dave dan Laura tidak terobati. Keinginanku untuk mencium dan memeluk mereka musnah sudah. Bahkan janjiku pada Dave untuk bermain dengannya ketika aku sedang libur pun tak bisa ku kabulkan sampai sekarang.


God..


Bantu aku. Bantu aku agar aku bisa menemukan jalan keluar agar aku bisa bertemu dengan Dave dan Laura.


Doaku selalu sama setiap hari. Ketika akan menutup mataku dan ketika aku baru saja membuka mataku.

__ADS_1


"Semangat Alex, hari ini bisa saja menjadi keberuntunganmu setelah beberapa bulan kami terpuruk karena perceraianmu."


Menyemangati diri sendiri. Cara itu aku lakukan untuk mengawali hariku agar semangat dalam bekerja, mencari uang untuk membayar hutang-hutang mantan istriku dan memberikan hak untuk kedua anakku.


"Dave... Laura... Papa merindukanmu nak," ucapku yang sedang melihat foto-foto mereka yang sangat ceria dan penuh dengan tawa.


Siang ini aku diajak kembali oleh Dian dan Rian untuk makan siang bersama dengan pacar-pacar mereka yang berarti teman-teman Celine.


Aku tidak tahu, Celine akan datang bersama dengan mereka atau tidak. Karena semenjak aku mengurus tentang pertemuanku dengan Dave dan Laura, aku sama sekali tidak menghubungi Celine meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya saja.


"Hai, sudah pesan makanan?"


Suara wanita di belakangku membuatku menoleh ke belakang. Dan ternyata benar dugaanku, dia bukan Celine. Mereka hanya berdua, Sari dan Levi, tanpa Celine yang biasanya selalu ada di antara mereka.


"Loh kalian cuma berdua? Celine di mana?" tanyaku pada mereka berdua dan masih melihat-lihat ke belakang mereka untuk mengetahui keberadaan Celine.


"Celine sudah dari kemarin tidak masuk kerja. Dan tidak ada kabar darinya. Tidak biasanya juga sih dia seperti itu," jawab Levi yang sudah duduk di kursinya.


Ke mana dia? Tidak mungkin di seperti itu. Pasti ada yang terjadi. Tapi apa itu? Arggggh.... bodohnya aku yang melupakannya dalam beberapa hari ini, aku bertanya-tanya dalam hati dan ingin ku teriakkan kebodohanku saat ini.


Pikiranku tidak tenang sama sekali semenjak makan siang tadi. Kini jam pulang kerja, aku langsung menuju cafe Celine, sayangnya dari kemarin dia juga tidak datang ke cafenya. Kemudian aku lajukan mobilku menuju cafe tante Shela, dan tante Shela mengatakan hal yang sama.


Aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Kenapa semuanya sama? Mulai dari kemarin dan sampai hari ini tidak ada kabar. Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku menceritakan masalah Celine pada tante Shela. Dahi tante Shela mengkerut. Dia tidak pernah tahu jika Celine bisa melakukan hal semacam itu, karena sepengetahuan tante Shela, keponakannya itu sangat bertanggung jawab, apa lagi soal pekerjaan.


Tante Shela segera menghubungi kedua orang tua Celine guna menanyakan keberadaan Celine di sana. Namun mereka mengatakan bahwa Celine tidak berada di sana sama sekali.


"Tante, aku akan mencari Celine di apartemennya."


"Baiklah Alex, tante harap kamu bisa menemukan Celine. Tolong kabari tante secepatnya. Ini nomer tante," ucap tante Shela sambil memberikan secarik kartu nama padaku.


Ku terima kartu nama tersebut, kemudian ku lajukan mobilku menuju apartemen Celine.

__ADS_1


"Sial!"


"Brengsek!"


__ADS_2