
Tok... tok... tok..
Suara pintu ruangan kami diketuk oleh seseorang.
"Masuk...," Celine menyuruh orang yang mengetuk pintu tersebut untuk masuk ke dalam ruangan kami.
"Maaf Bu, apa makanannya sudah bisa dihidangkan?" tanya seorang waitress yang masuk ke dalam ruangan kami.
Celine pun mengangguk mempersilahkan waitress tersebut untuk menghidangkan makanannya.
Ada dua orang waitress yang menghidangkan makanan kami. Dan mereka meninggalkan kami setelah semua makanan yang mereka bawa dengan troli sudah mereka hidangkan di meja kami.
"Apa semua ini untuk kita?" tanyaku pada Celine karena tidak percaya melihat begitu banyaknya makanan yang terhidang di meja mereka saat ini.
"Ini semua menu yang ada di sini, cobalah Al dan katakan pendapatmu," Celine mengatakannya sambil mengambilkan nasi di atas piringku.
Sungguh terpanah aku melihat Celine yang melayani aku makan seperti aku adalah suaminya. Timbul rasa bahagia dan ingin memilikinya, menjadikannya istri dari Alexandre Ferdinand.
"Kenapa harus memesan sebanyak ini Cel? Pasti kita gak bakalan bisa habiskan ini semua," aku memprotesnya karena aku tidak ingin membuatnya sungkan telah mengajakku ke tempat pilihannya.
"Anggap aja test food Al. Dan jangan lupa kasih penilaiannya ya, agar kami bisa tau apa kelemahan kami," Celine mengatakannya dengan sangat gembira sekali seperti ada gemerlap bintang di matanya.
"Cel, apa kamu benar bekerja di sini? Lalu pekerjaanmu di sana bagaimana?" tanyaku pada Celine untuk menuntaskan rasa keingintahuanku.
__ADS_1
"Pekerjaanku di sana masih Al. Dan di sini, ini tempatku untuk investasi kemampuanku dan uang hasil bekerjaku Al," Celine mengatakannya dengan mata yang sungguh berbinar-binar sepertinya dia sangat bahagia berada di cafe ini.
"Investasi?" aku mengulang kata yang agak menggangguku.
"Iya Al, ini usaha pertamaku dan cafe pertamaku. Aku harap semuanya akan berjalan dengan lancar," Celine mengucapkannya tanpa ada keraguan dalam setiap perkataannya.
"Wow... apa benar itu?" aku bertanya karena tidak mengira jika pemilik Cafe yang sempat aku puji tadi adalah Celine.
Celine mengangguk dan tersenyum sangat cantik, hingga senyumnya itu mampu mengalihkan duniaku.
"Kamu hebat Cel. Jujur saja ketika aku tadi memasuki cafe ini, aku sangat terpukau dan aku mengatakan dalam hati jika pemilik cafe ini pasti sangat mengerti kenyamanan dan trend untuk saat ini. Dan see... benar bukan? Kamu lah pemilik cafe ini dan.... pemilik...," aku menggantungkan ucapanku karena takut Celine akan marah padaku, namun dengan aku memegangi dadaku, sepertinya Celine mengetahui apa yang akan aku ucapkan.
"Al...," Celine sepertinya mengingatkanku kembali akan posisi kami dan status kami sekarang ini.
"Aku mengerti Cel, hanya saja aku ingin kamu mengetahuinya, sampai kapanpun itu tidak akan berubah meskipun kita tidak bersama," aku sedih mengucapkan itu, rasanya luka di dalam hatiku kembali menganga.
"Makasih Al, semoga Allah akan memberikan kita yang terbaik. Dan aku harap meskipun kamu kembali datang di kota ini, kamu tidak akan terjebak kembali oleh wanita itu ataupun wanita lain," ucapnya yang seolah menyentil lukaku, luka yang ingin aku sembuhkan meskipun perlahan perlu proses dan banyak usaha yang aku kerahkan.
Aku tersenyum bahagia melihat wanita yang namanya selalu ada dalam hatiku kini sudah kembali ceria dan senang, kembali menjadi Celine yang masih belum terjamah oleh Gio.
"Cel, apa kamu pernah bertemu dengan Gio?" aku hanya ingin memastikan bahwa Gio tidak lagi menemui Celine.
"Entahlah Al, sejak aku pulang dari Jakarta aku tidak pernah bertemu dengannya ataupun Reni. Aku juga tidak mencari tahu apakah mereka masih bersama atau mereka tidak jadi bersama," Celine tersenyum getir mengatakannya.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan pikirkan mereka lagi. Maafkan aku yang menanyakan hal itu padamu," ucapku yang merasa tidak enak pada Celine.
"Gapapa Al, kita makan aja sekarang. Dan aku harap ini semua sesuai dengan seleramu," Celine kembali menyantap makanannya.
Selang beberapa jam kami selesai menikmati semua hidangan yang disajikan dengan bercanda dan membicarakan banyak hal. Dan satu lagi yang membuat kita semakin dekat, kita bisa membicarakan masalah bisnis dengan Celine. Dan itu membuat bahasan kita tidak ada habisnya.
Aku diantar oleh Celine menuju apartemen yang baru aku tempati. Apartemen yang aku minta carikan pada temanku karena aku tidak punya waktu untuk mencarinya.
Mobilku masih belum sampai dari pengiriman. Sepertinya besok atau lusa mobilku sampai di kota ini.
"Terima kasih Cel, terima kasih udah menjadi tempat berbagi cerita dan terima kasih untuk semuanya," ucapku yang sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih untuk tujuan lainnya.
Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih telah mengijinkanku dekat denganmu, terima kasih telah membuat hatiku menjadi tenang karena namamu yang terukir indah jauh dalam lubuk hatiku yang terdalam.
"Ah biasa aja Al, gak udah sungkan kayak gitu. Aku pulang dulu ya, see you again," Celine segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menjauhiku.
Baru saja aku akan masuk ke dalam lobi apartemen, ternyata dari lift keluar Reni dengan laki-laki lain. Aku segera bersembunyi karena aku tidak mau dia mengetahui keberadaanku di kota ini.
Kini aku bimbang, akankah aku tetap tinggal di apartemen ini? Ataukah aku harus mencari tempat tinggal lain?
Ku lihat kembali Reni yang menggandeng laki-laki tadi. Dia sangat dekat dan manja pada lelaki itu, hingga timbullah pertanyaan di pemikiranku,
"Apakah orang itu pasangannya di ranjangnya sekarang atau mungkin mereka sudah menikah?" aku bergumam sendiri sambil melihat kepergian Reni bersama seorang lelaki yang umunya sepertinya lebih tua darinya.
__ADS_1
Aku segera masuk ke dalam lift dan menuju apartemen yang ku tinggali saat ini. Aku teringat bahwa aku belum mengabari Diana jika aku sudah sampai dengan selamat.
Aku pun mengabari Diana setelah itu aku juga mengabari Celine dan memastikannya pulang dengan selamat.