Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 19 Perpisahan dan pertemuan


__ADS_3

Sebelum aku masuk ke dalam mobilku, Dave tidak mau turun dari gendonganku. Dia selalu merengek, meminta untuk ikut denganku. Aku sungguh tidak tega padanya.


Aku berjanji pada Dave akan segera pulang kembali dalam beberapa hari ke depan. Sangat sulit berpisah dengan jagoanku ini. Dia merasa sedih dan tidak mau berpisah, sama sepertiku yang tidak mau berpisah dengan Dave.


Sebangsat-bangsatnya aku, aku sangat mencintai putraku, dia benar-benar belahan jiwaku yang tidak bisa aku tinggalkan. Meskipun kami berpisah, aku tidak akan bisa menghapus darahku yang mengalir di tubuhnya.


Dave akhirnya mau dibujuk oleh adik iparku. Dengan syarat aku harus datang akhir pekan ini. Aku berjanji akan datang bagaimanapun caranya, karena aku tidak mau Dave kecewa padaku lagi karena selama ini aku jarang bisa pulang karena halangan dari Reni.


Sebenarnya siapa Reni? Apa perannya di hidupku? Kenapa dia selalu mengaturku? Kenapa dia selalu menghalangiku untuk mencapai kebahagiaanku? Padahal kita sama-sama diuntungkan, dia dan aku, kita sama-sama menjadi pemuas saja.


Ahhh... malang sekali nasibku bisa bertemu wanita seperti dia. Apa dia tidak akan pernah sadar jika dia harus menemukan sandaran hidupnya? Apakah dia akan sadar bahwa dia seorang wanita yang harus menjaga kehormatan dan kebanggaan dirinya.


Suara notifikasi pesan menyadarkanku dari pertanyaan-pertanyaan konyolku dalam hati sejak tadi selama aku berkendara.


Kutepikan mobilku di rest area. Ku buka pesan tersebut, ternyata seperti yang ku duga, Reni mengirim pesan bahwa dia menungguku di klub malam tempat biasanya dia menghabiskan malam untuk bersenang-senang dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Hahahaha... apa-apaan ini? Apa aku harus menurutinya dengan menemuinya di tempat terkutuk itu? Tidak akan! Jangan bermimpi Ren..!" seruku di dalam mobilku seorang diri.


Disaat lelahku, aku butuh istirahat. Ku langkahkan kakiku menuju rest area. Ku tinggalkan mobilku di parkiran rest area untuk melangkah masuk ke dalam rest area tersebut.


Minuman, makanan dan memulihkan tenaga yang kubutuhkan sekarang. Namun langkah kakiku terhenti ketika melihat sosok yang aku kenal.


Bibirku tersenyum melihat sosok pujaanku berada di sini, di tempat yang sama denganku.


Bujuk dicinta ulam pun tiba. Aku bertemu denganmu, Celine ku, wanita pemilik hatiku.


Kakiku maju dan tanganku ingin menggapainya, namun langkahku terhenti ketika ada seorang pria memeluk pinggangnya, dan kini aku mengerti bahwa dialah Gio, suami Celine, pria yang menikahi Celine kemarin.


"Al, kamu disini?" sapa Celine ketika dia berbalik dan kaget melihatku tidak jauh berada dibelakangnya.


"A-a-aku...," aku gugup hingga terbata-bata.

__ADS_1


"Al... kamu gapapa kan?" Celine melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajahku.


"Siapa sayang? Teman kamu?" Gio menanyakan siapa diriku pada Celine dan tangannya, tangannya masih bertengger di pinggang Celine.


"Kenalin, dia Alex temanku sekelasku di SMP," Celine memperkenalkanku pada Gio.


"Alexandre Ferdinand," ucapku memperkenalkan namaku sambil mengulurkan tanganku.


"Giovani Mahendra, suami Celine," ucapnya sambil menjabat tanganku, membuatku kesal.


Sialan, pria brengsek itu membuatku kesal. Dia berani menyebutkan dirinya sebagai suami Celine di depanku. Entah dia tahu wajah kesalku atau tidak. Aku sudah berusaha sekuat mungkin agar wajah kesal dan marahku tidak kelihatan.


Aku hanya memandang wajah Celine dengan tatapan sedih. Diapun hanya sekilas memandangku dan mengembangkan senyum manisnya, namun kemudian dia tidak berani memandangku kembali meskipun dia berpamitan denganku.


Kini kakiku lemas tak ada tenaga lagi. Maksud hati ingin mengistirahatkan badan dan pikiran, menyiapkan tenaga untuk menghadapi segala ulah yang nantinya akan diperbuat Reni padaku.

__ADS_1


Namun kini.... aku seperti hilang arah dan pikiranku hanya karena Celine dipeluk oleh pria lain yang baru beberapa hari menyandang status sebagai suami Celine.


God.. kenapa sesakit ini?!


__ADS_2