Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 26 Gio dan Reni?


__ADS_3

Hari ini Laura dan istriku sudah bisa pulang ke rumah. Kami benar-benar menjadi keluarga yang bahagia. Sekarang di rumah kami terdapat satu orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Sudah lengkap keluarga kami.


Aku harap keluargaku kini benar-benar menjadi keluarga yang bahagia. Tanpa gangguan dan tanpa kesalahan bodohku lagi. Aku sungguh bersyukur telah bisa kembali dari jalan yang membuatku tersesat.


Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulanginya lagi agar keluargaku bisa bahagia sebagai mana mestinya.


"Papa... Papa... dedek Aula cuma bisa nangis aja," Dave mengadu padaku karena sedari tadi Dave mengajak Laura berbicara, akan tetapi Laura hanya merengek dan menangis saja.


"Dedek Laura masih kecil Sayang, belum bisa ngomong. Dave aja yang bercerita, biar Dedek Laura dengerin cerita Dave," aku melihat ekspresi kekecewaan Dave yang sangat lucu sekali.


Sekarang aku jadi tidak ingin berjauhan dengan keluargaku, aku ingin sekali selalu berdekatan dengan anak-anakku, Dave dan Laura.


Ku unggah foto-foto lucu anak-anakku di media sosial milikku. Di sana aku melihat unggahan dari Celine.


Kenapa aku bodoh sekali? Aku bisa menghubunginya menggunakan media sosial milikku. Ku lihat semua unggahan miliknya, tampak bahagia sekali dia bersama Gio, suaminya.


Nampaknya aku harus mengikhlaskannya karena dia bahagia bersama Gio. Mungkin Gio sudah berubah sejak bersama Celine. Sama sepertiku yang bisa berubah karena selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Celine.


Baiklah, aku harus ikhlas. Aku akan memberikan ucapan selamat padanya.


[Selamat ya Celine atas pernikahanmu, maaf aku tidak bisa menghubungimu karena aku tidak memiliki nomer ponselmu dan nomerku kini berubah. Kita masih berteman bukan?]


Selang beberapa menit ada balasan darinya. Aku sangat senang sekali karena Celine dengan cepat membalas pesanku.


Celine memberikan nomer ponselnya padaku dan dia bertanya padaku tentang hubunganku bersama Reni, karena Celine mendengar dari teman-temannya jika Reni sangat marah padaku, dia mencariku ke semua tempat yang bisa dia tanyai tentang diriku beberapa bulan ini. Dan seperti biasanya, dia memakiku di grup chat alumni SMP kami.


Makian, hinaan serta sumpah serapah dia layangkan untuk diriku. Dan parahnya lagi semua teman-teman SMP ku percaya padanya. Terutama teman-teman laki-lakiku, karena tentu saja mereka lebih pro pada Reni daripada teman-teman yang lain. Entahlah mengapa mereka bisa sepercaya dan sedekat itu dengan Reni dibanding wanita baik-baik seperti Celine.

__ADS_1


Aku menceritakan tentang kisahku dengan Reni setelah Celine menikah. Dan seperti biasa Celine memang pendengar dan penasehat yang baik. Dia mengerti posisiku tanpa menghakimiku. Dia memang menyalahkanku karena terlalu mudah dibujuk jika berhadapan dengan hubungan ranjang.


Aku akui memang benar, wajar karena aku laki-laki normal. Celine pun tahu jika satu hal itu yang membuat manusia lupa diri akan apapun.


Itulah salah satu yang aku sukai dari Celine, dia menyikapi sesuatu dengan sabar dan mencari tahu kebenarannya.


Jika aku memujinya seperti itu, dia pasti bilang, '**I**tu karena aku bukan istrimu Al, jika aku istrimu aku pasti tidak akan memaafkanmu Al'. Dan perkataannya itu membuatku tertawa.


Mulai hari ini aku kembali dekat dengan Celine, namun bukan untuk tujuan lain, kami hanya berteman. Karena seperti yang aku tahu, Celine tidak mudah didapatkan. Setiap aku mengingatkannya akan perasaanku, dia selalu mengingatkanku untuk lebih mencintai dan menghargai istriku.


Sungguh sangat sempurna dia, Celine Amartha, seorang wanita cantik yang baik hati dan penuh dengan pesona. Namun sayangnya dia tidak bisa kudapatkan.


Hari-hariku semakin berwarna karena hadirnya Dave dan Laura dalam hidupku. Dan sekarang aku bisa bertukar cerita dengan Celine kembali.


Sial! Reni kembali berulah, dia membuat Celine terluka, kini aku harus apa?


Gio memang bukan seorang CEO, namun karirnya lumayan bagus, dia mempunyai jabatan dan ruangannya sendiri.


Celine langsung menuju ruangan Gio karena dia sudah biasa berkunjung ke sana. Dan karyawan di sana pun mengetahui jika Celine adalah istri Gio.


Karena sudah malam, banyak karyawan yang sudah pulang, hanya yang bekerja lembur saja yang masih ada di tempatnya.


Celine spontan menjatuhkan kantong plastik yang berisi makanan yang dia bawa untuk makan malam Gio.


Namun kenyataan yang ada di depannya membuat jantungnya seakan diremas saat mendapati suaminya sedang bermesraan dan menikmati hentakan tubuh yang tanpa busana apapun dari seorang wanita yang duduk di atasnya.


Kedua sejoli itu menoleh saat mendengar benda terjatuh. Gio spontan melompat berdiri saat melihat Celine yang berada di depan pintu melihat kelakuan mereka berdua.

__ADS_1


Air mata mengalir deras di kedua pipi Celine dan parahnya lagi, wanita itu adalah teman Celine, dia adalah Reni Wijaya.


Reni tersenyum puas melihat Celine menangis. Celine tidak mengira jika Reni bisa menjadi duri dalam kehidupannya.


"Sayang, a-aku... aku bisa jelasin semuanya," ucap Gio terbata seraya membenarkan resleting celananya.


Celine menggelengkan kepalanya dengan air mata yang dengan derasnya membasahi pipinya.


"Aku... aku pikir, aku pikir kamu sudah berubah, aku pikir apa yang kamu bilang dulu benar, kamu... kamu bilang kamu gak pernah selingkuh, ternyata....," Celine benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak bisa menerima kenyataan yang ada di hadapannya.


"Sayang, aku bisa jelasin," Gio mencoba mengambil tangan Celine, namun ditepis oleh Celine.


Celine berlari meninggalkan Gio dan Reni di ruangannya. Celine menangis tersedu-sedu di depan kantor Gio, dan kenyataan lainnya membuat Celine tidak bisa membayangkannya.


Gio tidak mengejar Celine hingga Celine sudah beberapa menit berada di depan kantornya. Sepertinya Gio kembali menikmati tubuh Reni yang masih belum memakai bajunya pada saat Celine keluar dari ruangan Gio.


Celine mengusap kasar air mata di pipinya dan dia menghubungiku yang kebetulan pada saat itu aku sedang lembur dan akan pulang dari kantor.


Aku kaget melihat nama Celine tertera di layar ponselku. Sungguh tidak pernah kubayangkan aku mendapatkan telepon dari seorang Celine di malam hari. Dia sangat anti mengirim pesan padaku jika tidak pada jam kerja, apalagi menghubungiku di malam hari, sangat aneh bukan?


Ku angkat telepon darinya dan hatiku sangat teriris ketika mendengar suara tangisnya.


Celine menangis tersedu-sedu menceritakan semuanya. Sungguh kurang ajar dua manusia sialan itu.


Aku tidak bisa memeluk Celine untuk menenangkannya. Aku ingin sekali berada di dekatnya untuk menenangkannya dan menghiburnya sekarang ini agar kesedihannya bisa sedikit berkurang.


"Lalu apa rencanamu sekarang Cel?"

__ADS_1


__ADS_2