Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 69 Apa kau puas?


__ADS_3

Ternyata bukan hanya aku saja yang selama ini menahan keinginanku, ternyata istriku pun demikian. Lalu, kenapa dia selama satu tahun lebih kemarin selalu menolak ku?


Hingga aku lelah membujuk dan merayunya. Karena setiap aku mengajaknya, pasti dia selalu menolak ku dan mengungkit-ungkit tentang kesalahanku waktu itu. Dan lebih parahnya lagi, dia akan memukulku setiap kali emosi dan hilang kendali.


Aku memang pernah melakukan kesalahan, tapi apakah aku tidak ada kesempatan untuk berubah? Sudah ku buktikan selama ini, tapi apa daya, Diana seolah menutup pintu maafnya padaku.


Dan sekarang di saat dia menginginkannya, sialnya milikku tidak bereaksi padanya. Kenapa bisa seperti itu, aku pun tak tahu.


Aku yakin aku tidak sakit seperti yang dikatakan oleh dokter, karena entah mengapa milikku malah bereaksi setiap melihat Celine.


Jadi, apakah salah jika aku meragukan diagnosa dari dokter itu. Ataukah dia menyerah dengan pengobatannya karena selama ini tidak ada yang berhasil hingga mendiagnosa aku seperti itu?


Kini saatnya aku membuktikan pada Diana. Istriku ini memintaku untuk membuktikan pada dirinya jika milikku bisa bereaksi.


Sungguh aku ingin mengatakan yang sesungguhnya jika aku baik-baik saja. Namun aku tidak mempunyai alasan yang tepat untuk memberitahunya.


Tidak mungkin bukan jika aku mengatakan bahwa milikku bereaksi ketika melihat Celine? Jika ku katakan seperti itu, sudah bisa dipastikan dia akan memukulku habis-habisan.


Aku sungguh heran, kedua orang tuaku saja tidak pernah memukulku. Dan sekarang ketika aku beristri, kenapa aku sekarang menjadi sasaran kemarahannya? Harusnya seorang istri tidak berani memukul suaminya bukan? Tapi ini, Diana sungguh sudah sangat keterlaluan.


Mungkin dia sudah tidak bisa menahannya. Sekarang dia menginginkanku dengan cara mempermalukan ku. Walaupun menurutnya itu hal yang biasa, tapi aku sungguh malu melakukan itu di depan dia.


Ternyata dia menatapku dengan penuh minat ketika aku melakukannya. Dia mendekatiku dalam keadaan sudah tidak memakai apapun di badannya.


Dipraktikkannya apa yang dia lihat di film yang sedang kami tonton bersama. Film ini pilihan dia, film yang membuat orang ingin mempraktekannya ketika menontonnya.


Tadinya aku hanya disuruhnya untuk melakukannya sendiri dengan melihat film tersebut, namun dengan waktu yang lama, milikku tak kunjung bereaksi meskipun melihat film tersebut.


Jadilah dia kini yang sepertinya memang juga menginginkannya, membuatku terlena dengan sentuhan-sentuhannya dan perlakuan-perlakuannya yang dia contoh dari film tersebut.


Entah mengapa meskipun melihat aktris dalam film tersebut yang mempunyai tubuh seksi dan wajah cantik tak membuat milikku bereaksi. Dan kini yang benar-benar nyata adalah, Diana telah ada di hadapanku tanpa memakai apapun dan telah melayaniku sehingga aku merasa puas, tapi anehnya milikku tak kunjung bereaksi.

__ADS_1


Oh God... tolong aku...!


Ada apa ini sebenarnya?


Aku hanya mampu berteriak dalam hati saja. Dan....


"Brengsek!!!" Diana berteriak di hadapanku sambil menampar pipi kiri dan kananku bergantian.


"Tidak bermasalah? Apa ini? Lihat!" teriaknya histeris.


Sabar? Persetan dengan sabar!


Ku balikkan tubuhnya dan aku buat dia terbuai dengan semua yang aku lakukan padanya.


Lihatlah, dia sangat menikmatinya. Lalu kenapa selama ini dia menolak ku?


Kini dia sedang lemas terkulai karena menikmati apa yang telah aku lakukan padanya.


"Apa kamu menikmatinya Sayang?" tanyaku padanya.


Diana pun mengangguk, dia tersenyum padaku kemudian dia memejamkan matanya.


"Apa kamu puas?" ku tanya kembali dirinya untuk memastikan.


Dia membuka matanya, menatapku dengan intens selama beberapa detik, kemudian dia tersenyum kembali dan mengangguk.


"Apa kamu mau lagi?" tanyaku dengan antusias agar aku bisa menyenangkannya dan agar aku tahu bagaimana caranya menangani milikku agar mau bereaksi pada saat berhubungan dengan Diana, istriku.


Dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku lelah, besok saja lagi," jawabnya sambil tersenyum, kemudian dia memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


Ku tutup tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di ranjang kami. Ranjang yang semula dingin ini kini menjadi ranjang panas yang berantakan dan penuh dengan peluh kami berdua, khususnya Diana yang ku buat sangat puas dengan peluh yang keluar banyak dari tubuhnya. Hingga tubuhnya berkali-kali menggelinjang kenikmatan.


Ku cium dahinya dan ku bisikkan kata cinta di telinganya agar dia mengetahui bahwa aku tidak ingin bercerai dengannya.


"Aku mencintaimu istriku," bisikku di telinganya dan benar saja, itu membuat Diana tersenyum meskipun matanya terpejam.


Setelah itu ku tinggalkan dia untuk membersihkan badanku. Di dalam kamar mandi ini ku rasa begitu sunyi dan dingin. Entah kenapa aku merasakan kosong dalam kesendirian.


Ku lihat diriku dalam cermin yang ada dalam kamar mandi ini, dan sialnya aku malah melihat wajah Celine yang tersenyum manis padaku dan memanggilku dengan nama yang ku anggap nama kesayangan darinya.


"Al...!" suara lembut dan senyum Celine menbuatku tersenyum melihatnya, meskipun hanya bayangan di cermin saja.


Sial! Kenapa tidak bereaksi? Apa yang salah? Apa karena aku tidak menginginkannya? Salah, aku menginginkannya tapi dia tetap tidak bereaksi. Apa karena aku tidak mencintainya? Cinta? Hahahaha... Bagaimana aku bisa mencintainya jika dia selalu melampiaskan emosinya terhadapku? Apa karena dia bukan Celine? Aaaargh.... Kenapa ini terjadi padaku? Bahkan aku saja tidak bisa memiliki wanita yang ku cintai. Apa aku bisa bertahan menghadapi semua ini? batinku memberontak mengatakan semua itu.


Ku rasa aku harus istirahat dan menjernihkan pikiranku agar aku tidak merasa frustasi seperti ini. Terasa berat beban hidup yang aku lalui sekarang ini, hingga aku ingin berteriak dan lari dari kenyataan ini.


"Sudahlah, lalui ini semua Alex. Kamu pasti bisa! Sekarang lebih baik aku tidur saja," ucapku untuk menyemangati diriku sendiri dengan berbicara pada bayanganku di cermin setelah aku selesai melakukan ritual mandiku.


Ku peluk tubuh Diana agar dia tahu keseriusanku untuk tidak melepaskannya dan anak-anak. Seberengsek-berengseknya aku, keluargaku adalah yang utama bagiku. Aku tidak mau semua berakhir begitu saja meskipun nantinya aku yang tersiksa.


Tengah malam aku dengar Laura menangis sangat kencang. Anehnya Diana tidak mendengarnya, sepertinya dia tertidur sangat pulas sekali.


Ku hampiri Laura yang ada di kamar sebelah dan ku gendong dia. Ku tenangkan Laura dengan penuh kasih sayang, dan anehnya dia langsung terdiam dan memejamkan matanya kembali setelah ku berikan minumannya yang telah aku buatkan di dalam dotnya.


Sepertinya Laura mengerti dan merasakan cinta serta kasih sayang dariku, Papa yang selalu merindukannya dari kejauhan.


Setelah Laura tenang, ku kembalikan dia dalam box besarnya. Kemudian ku langkahkan kakiku menuju kamar Dave.


Kasihan kamu Dave, harusnya Papa bermain denganmu tadi. Karena Mamamu yang seenaknya sendiri, kamu jadi bermain sendiri dan tertidur sendiri. Sungguh anak yang pengertian dan mandiri. Apa ini didikan yang dimaksud oleh Diana? Bagus sih, tapi Dave masih kecil dan masih butuh perhatian dari orang tuanya agar dia tidak merasa diabaikan, aku membatin dengan melihat wajah polos Dave.


Apa aku salah berpikiran seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2