
Dua orang anak. Tidak pernah aku bayangkan jika diriku akan mempunyai dua orang anak. Kini tanggung jawabku bukan hanya pada Dave saja. Aku bertanggung jawab pada anak yang masih dalam kandungan istriku.
Benar kata Celine, aku harus menjauhi Reni. Aku tidak bisa hanya menunggu, karena Reni tidak bisa menjauh dariku. Dia sudah terlalu bergantung padaku.
Sudah beberapa minggu ini aku menyibukkan diriku di kantor hingga larut malam. Kebetulan memang pekerjaanku sedang banyak-banyaknya. Reni pun tahu karena dia selalu menungguku di depan kantorku.
"Ren, ini udah terlalu malam. Sebaiknya kamu tunggu aku di rumahmu saja. Jika aku pulang sore seperti biasanya aku pasti akan menemuimu," aku mengatakannya sebelum aku masuk ke dalam mobilku.
Percuma saja bukan jika dia menjemputku dengan membawa mobilnya? Aku juga membawa mobil sendiri. Dan aku rasa itu hanya buang-buang tenaga saja.
Dan seperti perkiraanku, Reni tidak akan begitu saja menyerah padaku. Dia mengikutiku dengan mobilnya di belakang mobilku. Kebetulan aku memang sangat capek dan letih hingga aku mengantuk dan tidak sengaja mobilku menabrak trotoar.
Untung saja tidak ada yang parah denganku dan mobilku. Hanya kecelakaan kecil, dan sepertinya Reni yang menolongku dengan membawaku ke rumah sakit.
Tanpa sepengetahuannya, aku meminta bantuan teman kantorku untuk membantuku agar aku bisa beristirahat karena kecelakaan dan jika bisa aku meminta untuk dipindahkan kembali ke kantor Jakarta karena istriku sedang hamil.
__ADS_1
Untung saja temanku sangat pengertian, berbagai cara dia memperjuangkanku agar aku bisa pindah lagi ke kantor Jakarta, namun aku tidak boleh menolak jika aku kembali ditugaskan ke kota lain nantinya.
Aku pun setuju. Dan tanpa sepengetahuan Reni, aku meminta temanku untuk membelikanku tiket dan mengirimkan mobilku ke rumahku yang berada di Jakarta.
Edgar memang benar-benar teman baikku, dia selalu membantuku dengan harapan aku bisa membahagiakan istriku yang sedang hamil.
Reni? Dia menjengukku di rumah sakit pada saat dia pulang bekerja, hanya saja tidak lama, toh dia tidak bisa bermalam di sini. Aku bersyukur dengan kecelakaan ini sehingga Reni tidak bisa terus-terusan mengangguku. Ternyata ada hikmah dibalik bencana.
Jakarta.....
Thanks God aku bisa kembali ke Jakarta tanpa sepengetahuan dari Reni. Nomer ponselku pun aku ganti sebelum aku berangkat ke Jakarta. Aku berangkat pagi dari rumah sakit langsung ke Bandara dengan bantuan Edgar. Reni tidak tahu karena dia sedang bekerja.
Ah Celine, dia benar-benar tahu semua. Mengingat itu, aku jadi merindukan Celine. Sedang apa dia di sana? Apa dia bahagia dengan suaminya? Bolehkan aku merindukannya? Hanya merindukan apa salahnya bukan?
Kini aku benar-benar hilang kontak dengannya. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya dan berapa nomer ponselnya. Dia juga tidak mungkin menghubungiku karena nomerku berganti. Dan aku juga tidak mungkin datang ke kotanya, karena ya tau sendirilah, jika aku datang ke kota itu sama saja aku menyerahkan diriku pada Reni. Aku tidak mau usahaku sia-sia.
__ADS_1
Sudah beberapa bulan aku di sini, sangat menenangkan karena kini aku sedang memeriksakan kandungan Diana, dan ternyata anakku perempuan.
Lengkap sudah rasanya kebahagiaanku. Dua anak, laki-laki dan perempuan. Semoga anak perempuanku ini bisa membawa kebahagiaan untukku.
"Sayang... sayang... ini...auh... sepertinya aku akan melahirkan... auh...," Diana merasa kesakitan kemungkinan anak kami akan lahir.
"Ayo Sayang kita ke rumah sakit, sebentar aku ambil dulu tasnya," ucapku sangat bingung padahal ini sudah kedua kalinya aku menghadapi situasi seperti ini.
Aku berlari menuju kamar untuk mengambil tas yang berisi baju-baju bayi dan istriku serta perlengkapan mereka yang sudah tertata semua di dalam tas.
Dengan tergopoh-gopoh aku berlari dan membawa istriku ke dalam mobil. Dave sedang tidur siang, kebetulan memang hari ini aku sedang cuti karena dari semalam Diana sudah mengeluh kesakitan.
Ku bawa Dave ke dalam mobil dan aku menghubungi keluargaku dan keluarga Diana agar bisa mengambil Dave di rumah sakit sekalian mengabari mereka jika Diana akan melahirkan.
Aku menanti kelahiran anak keduaku ini tak kalah cemas dengan kelahiran Dave waktu itu. Aku berdoa agar anakku ini lahir dengan selamat dan tidak kurang satu apapun.
__ADS_1
"Selamat Pak, anak anda perempuan," seorang dokter dan perawat memberikan selamat padaku.
Kulihat dalam gendongan perawat seorang bayi mungil perempuan yang sangat cantik. Dialah anakku, dia anak keduaku, dia putriku, Laura Ferdinand, adik dari Dave Ferdinand. Dan mereka adalah anak dari Alexandre Ferdinand.