Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 61 Permintaan


__ADS_3

"Lex ajakin mereka makan bareng kita lagi dong," Dani memohon padaku sejak tadi pulang dari makan siang.


Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku takut Celine akan mengerti akan diriku yang sedang mempunyai masalah.


"Lex, ayolah.... jangan pelit-pelit gitu. Gak kasihan apa sama kita yang masih jomblo?" Rian kini ikut memohon padaku.


Ku akui memang teman-teman Celine menarik, pantas saja Dani dan Rian si duo jomblo ini sampai memohon-mohon padaku seperti tidak ada capeknya.


"Bentar, aku tanyakan Celine dulu, mereka mau apa enggak," akhirnya aku memenuhi permintaan mereka yang sedari tadi mengganggu konsentrasi ku dalam bekerja.


Ku lihat wajah Dani dan Rian yang tampak senang karena aku menuruti permintaan mereka.


Setelah aku mengirim pesan pada Celine, beberapa menit berikutnya terdengar suara notifikasi pesan dari ponselku. Aku yakin jika itu balasan pesan dari Celine.


See... benar kan apa kataku, Celine lah yang mengirim balasan pesanku. Bibirku tersenyum membaca pesan dari Celine. Hatiku sangat senang karena bisa bertemu dengannya, namun aku masih merasa takut jika bertemu dengannya.


Aku bingung, bagaimana caranya agar Celine tidak mengetahui apa yang sedang terjadi padaku. Dan aku heran bagaimana bisa Celine yang notabene nya bukan pasangan hidupku tapi dia bisa dengan mudahnya mengetahui apa yang sedang aku rasakan.


Berbeda dengan Diana yang berstatus sebagai istriku, tapi dia tidak mengetahui apapun yang aku rasakan. Apa mungkin karena dia tidak peka? Atau memang dia tidak mau tahu?


Ah entahlah, rasanya aku merasa semakin stres mengingat tentang Diana. Hingga kadang aku berpikir, apa aku pamtas diperlakukan seperti ini oleh istriku sendiri? Memang ku akui jika aku pernah bersalah, tapi apa pintu maaf itu tidak bisa terbuka untukku?


Kadang aku merasa lelah memikirkannya, namun aku mengingat wajah Dave dan Laura yang membuatku tetap ingin mempertahankan rumah tangga kami.


Pasti semua yang tahu akan menyuruhku untuk menceraikannya. Asal kalian tahu saja bahwa Dian tidak semudah itu orangnya. Dia selalu konsisten, meskipun ini hanya pemikiran ku saja, tapi aku yakin jika kami berpisah sudah bisa dipastikan aku akan kehilangan Dave dan Laura karena setiap harinya mereka bersamanya.


Dan konsistennya itu pun menjadikanku sengsara lahir batin akhir-akhir ini. Apakah hukumanku ini sudah cukup, masih kurang atau terlalu berat?


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ku sendiri karena aku sangat bingung dengan apa yang aku alami akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Woiii... senyum-senyum aja, gimana?" tanya Dani mengangetkan lamunanku ketika berpikir tentang ketakutan ku akan kepekaan Celine pada setiap apa yang sedang aku hadapi.


"Mereka setuju," jawabku singkat dengan senyum getir mengatakannya pada mereka.


"Lex, sebenarnya apa sih hubunganmu dengan wanita tadi itu? Beneran kalian hanya berteman? Kok aku ngerasa kalian deket banget," Mina mulai mengatakan apa yang ada di dalam isi kepalanya.


"Emmm sebenarnya kami teman mulai SMP dan kami sangat dekat karena kami bersahabat, jadi lebih dari pertemanan biasa saja," jawabku menanggapi pertanyaan dari Mina.


"Kalian gak berselingkuh kan?" tanya Mina padaku dengan ragu.


Pertanyaan Mina ini membuatku teringat akan teman-temanku SMP yang menyebut kami pasangan selingkuh tempo hari. Dan itu membuatku sangat kesal.


Aku berdiri beranjak dari dudukku, karena aku ingin menghindari mereka yang banyak bertanya tentang hubungan kami.


"Maaf Lex jika aku menyinggungmu. Kamu tau sendiri bukan jika aku memang selalu ceplas ceplos dan tidak bisa menghentikan rasa penasaranku terhadap sesuatu?" Mina berusaha menghentikan langkah kakiku.


"Jangan biasakan Min, apalagi kamu seorang wanita yang harusnya disegani kaum pria. Jika kamu masih seperti itu, aku ragu mereka akan bisa menerimamu," ucapku tanpa sadar dan berpikir panjang.


Seketika aku jadi merasa bersalah pada Mina. Memang dia menyinggungku, tapi sepertinya aku lebih menyinggungnya. Aku jadi bingung kenapa aku harus kesal setiap aku disebut selingkuh dengan Celine. Apa mungkin karena aku trauma dengan kata 'selingkuh'?


"Maaf Min. Entah kenapa aku selalu kesal jika kami dikatakan selingkuh oleh orang lain. Padahal kami tidak pernah berselingkuh. Dan mereka gak mau tau dengan jawaban dari kami. Itulah yang membuat aku marah jika ada yang mengatakan kami pasangan selingkuh. Karena Celine pernah menjauhiku dan bahkan dia menghindariku setelah teman-teman kami menyebutnya dengan sebutan yang sangat memalukan," aku tanpa sadar menjelaskan pada Mina setelah aku meminta maaf padanya.


"Maaf Lex, aku gak ngerti kalau itu semua udah pernah terjadi dan membuat hubungan kalian bermasalah," Mina kembali meminta maaf padaku.


Dan aku pun kembali duduk di kursi kerjaku. Dani dan Rian yang tadinya bersemangat menungguku mengatakan jawaban dari teman-teman Celine, kini mereka diam mendengarkan Mina dan aku yang sedang sedikit berdebat.


"Emmm... Lex, gimana hasilnya?" Dani bertanya kembali padaku dengan sungkan.


"Apa mereka setuju Lex," kini giliran Rian yang ragu ketika bertanya padaku.

__ADS_1


Sekilas kulihat Dani menarik Rian agar bertanya padaku setelah dirinya bertanya padaku.


Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum pada mereka agar suasana tidak canggung. Dan akhirnya mereka pun ikut tersenyum lega melihatku tersenyum dan mengetahui jawaban dari teman-teman Celine.


"Kapan?"


"Di mana?"


Dani dan Rian bertanya bersamaan karena terlalu bersemangat. Aku hanya terkekeh melihat mereka yang sangat antusias layaknya ABG yang akan melakukan kencan buta.


"Nanti sepulang kerja, dan tempatnya.... nanti akan aku beritahu," jawabku tanpa memberitahu jika tempat itu merupakan tempat yang penting bagiku.


Setelah jam kantor kami usai, dengan segera kami menjemput Celine dan teman-temannya di kantor dengan mobil yang kami kendarai sendiri-sendiri.


Pada saat aku menunggu Celine di tempat biasanya aku menunggunya, aku melihat ada sosok Gio di sana. Apa mungkin dia masih belum bisa move on dari Celine? Atau mungkin dia ada pekerjaan di perkantoran ini?


Mataku memicing tatkala aku melihat Gio tersenyum senang ketika melihat Celine keluar dari kantor dan berjalan beriringan dengan teman-temannya dengan senyuman dan candaan yang membuat Celine lebih menarik.


"Al!" Celine berseru memanggilku dengan melambaikan tangannya ketika pandanganku masih pada Gio yang sedang memperhatikan Celine.


Namun pada saat Celine berseru memanggilku dengan senyuman yang ceria dan melambaikan tangannya padaku, seketika Gio menoleh ke arahku dan aku melihat ke arah Celine.


Sempat aku meliriknya, Gio tampak sangat marah dan menatapku tajam penuh dengan kemarahan.


"Udah lama Al?" tanya Celine padaku.


"Enggak, baru aja," jawabku sambil melirik ke arah Gio.


Brukk!!!

__ADS_1


Benar, Gio merasa sangat marah dan membanting pintu mobil dengan keras hingga aku bisa mendengarnya.


__ADS_2