
"Ceraikan aku!"
Kata-kata dari Diana ini masih terngiang di telingaku hingga akhirnya aku mengambil keputusan untuk menceraikannya.
Satu minggu aku cuti dari pekerjaanku untuk mengurus percerianku. Dan sebelumnya, aku meminta saran pada kedua orang tuaku. Mereka menyetujuinya, memang berat memutuskan untuk bercerai, tetapi mereka melihat badanku yang selalu menjadi sasaran kemarahan dari Diana, akhirnya mereka pun menyetujuinya walaupun sebelumnya memarahiku habis-habisan karena kesalahanku.
Diana meminta bercerai dengan syarat semua hutang-hutangnya aku yang bayar dan kedua anak kami ikut bersamanya. Serta untuk rumah yang kami huni, dia meminta untuk dijual agar uang hasil penjualannya dibagi dua bersamaku.
Aku akui aku sudah muak dengan semuanya, hingga aku setujui saja syarat-sayaratnya kecuali kedua anak kami.
Dave dan Laura, sebisa mungkin aku mengusahakannya agar mereka berdua bisa ikut bersamaku.
Setiap persidangan ku usahakan untuk datang meskipun jarak yang ku tempuh bisa dibilang tidak dekat. Namun jarak itu tidak menyurutkan niatku untuk memperjuangkan anakku.
Hari ini adalah hari di mana penentuan sidang perceraian kami. Aku hanya berharap semuanya ini akan cepat selesai dan aku bisa bebas dari permasalahan rumah tangga yang selama ini membuatku sangat frustasi.
Sebelum aku memasuki ruang sidang, ternyata Diana sudah menungguku di depan ruang sidang. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu padaku.
"Alex tunggu, aku ingin berbicara padamu sebentar," ucap Diana sambil melangkah pergi ke arah tempat yang sepi.
Menurutku itu bukan permintaan, melainkan perintah. Apa tidak bisa dia memintaku dengan baik dan menunggu jawabanku untuk terakhir kalinya kita menyandang status suami istri?
Ah... apa yang aku inginkan dari wanita angkuh seperti dia?
Ku ikuti langkahnya menuju lorong yang sepi dan ku hentikan langkahku tepat di hadapannya.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Biarkan Dave dan Laura bersamaku. Selama ini mereka bersamaku dan tidak pernah bersamamu. Semua tentang mereka dan kebiasaan mereka hanya aku yang tau. Ditambah mereka masih sangat kecil jadi sangat butuh asuhanku, ibu kandungnya," ucapnya dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.
"Apa aku tidak berhak atas mereka?" pertanyaanku ini sangat bodoh menurutku.
"Kamu boleh mengunjungi mereka ataupun menghubungi mereka, asalkan... kamu gak pernah telat memberikan hak mereka setiap bulan. Jadi biarkan Dave dan Laura bersamaku agar proses perceraian ini berjalan dengan cepat. Aku yakin kamu sudah cukup lelah mengurusnya bukan? So, kita percepat ini semua dengan menyetujui keinginanku tadi," Diana mengucapkan semua itu tanpa ada beban dan kesedihan akan perceraian kami.
Setelah mengatakan hal itu, Diana segera pergi meninggalkan aku yang masih tidak menyangka akan apa yang dia ucapkan padaku tadi.
Menyuruhku menyetujui semua keinginannya dan mengingatkanku agar tidak lupa untuk memberikan hak Dave dan Laura setiap bulannya.
Sempat terlintas di benakku,
Apa karena hal itu dia mempertahankan Dave dan Laura bersamanya? Hanya demi transferan uang tiap bulan untuk Dave dan Laura dengan jumlah yang fantastis?
Pengacaraku dan kedua orang tuaku sempat tidak menyetujui jumlah fantastis yang diajukan oleh Diana sebagai uang untuk Dave dan Laura tiap bulannya.
Dan akhirnya aku setujui permintaannya dengan syarat aku bisa selalu bertemu dan bisa menghubungi Dave dan Laura kapan saja.
Persidangan perceraian kami pun telah usai. Semua permintaan Diana sudah aku setujui. Hutang-hutangnya semua aku tanggung pembayarannya. Rumah tempat kami tinggal harus dijual dan dibagi dua untuk kami. Serta Dave dan Laura ada dalam asuhannya dengan hak mereka yang harus aku berikan tiap bulannya yaitu sejumlah uang yang tidak sedikit menurutku, kedua orang tuaku dan pengacaraku.
Pasti semua orang tahu bagaimana perasaanku saat ini. Bahagia? Tentu tidak, siapa yang bahagia jika bercerai? Berpisah dengan keluarga adalah hal yang paling aku takutkan. Membayangkannya saja aku tidak akan sanggup.
Berpisah dari Dave dan Laura? Ah... aku merasa tidak sanggup. Semoga saja Diana benar-benar melakukan sesuai dengan perjanjian kami.
Sedih? Aku memang sedih berpisah dengan Dave dan Laura, namun ada perasaan lega dalam hatiku mengingat semua sikap Diana yang sudah berubah sangat memuakkan.
"Alex, Papa harap kamu bisa menjaga dirimu sekarang. Dan Papa harap kamu tidak akan terjebak oleh wanita seperti itu lagi," Papaku ini selalu menceramahiku, namun nasehatnya kini sangat berarti bagiku.
__ADS_1
"Alex, Mama selalu berdoa agar kamu mendapatkan wanita yang benar-benar menjadi jodohmu. Wanita yang baik dan sayang padamu dan anak-anak kalian nantinya. Dan satu lagi, dia harus bisa menerima Dave dan Laura seperti anaknya sendiri. Doa Mama selalu menyertaimu. Tolong jangan kecewakan kami lagi," untaian kata dari Mamaku ini sangat merdu di telingaku, berbeda dengan omelannya di waktu dulu.
Rasanya hatiku sangat trenyuh mendengar nasehat-nasehat dari kedua orang tuaku. Sebesar itu rasa sayang dan khawatirnya padaku meskipun aku sudah dewasa.
Kini saatnya aku kembali bekerja. Semua kini terasa berbeda. Sepertinya ada yang hilang dalam hidupku, namun ada rasa lega yang bisa membuatku lebih hidup.
Seketika aku teringat wajah Dave dan keceriaannya pada saat bermain denganku. Ku hubungi Diana untuk sekedar berbicara pada Dave. Sayangnya dari sekian banyak panggilanku tidak ada yang diangkatnya.
Perasaanku semakin tidak enak. Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Ataukah mungkin dia menghindariku? Ah rasanya tidak mungkin, dia kan sudah berjanji padaku untuk membiarkan Dave dan Laura bertemu denganku.
Ku enyahkan rasa itu agar aku tidak berpikiran buruk lagi terhadap mantan istriku itu. Dan ya... ok lah besok aku akan menghubunginya lagi. Semoga firasat burukku tentang mantan istriku salah.
Malamnya aku kembali diajak oleh Dani, Rian, Levi dan Sari untuk bergabung bersama mereka menikmati makan malam di suatu restoran yang baru saja buka.
Ketika aku sibuk mengurusi perceraianku, aku tidak berhubungan sama sekali dengan Celine. Bahkan aku lupa jika sebelum-sebelumnya Celine selalu diikuti oleh Gio, mantan suaminya.
Dan apakah malam ini aku akan bisa bertemu dengannya?
"Al kamu di sini juga?"
Suara ini, suara yang selalu aku rindukan. Dan dia sekarang ada di sini. Tapi, ada apa dengan jantungku? Kenapa berdetaknya secepat ini? Apa karena ada Celine? Biasanya juga tidak secepat ini jika bertemu dengannya. Atau mungkin....
"Kamu ada masalah Al?"
Pertanyaan Celine ini mungkin yang sebelumnya membuat jantungku berdetak lebih cepat. Mungkin itu suatu pertanda jika aku akan mendapatkan pertanyaan ini dari Celine.
"Yuk kita ke dalam. Aku sudah pesan makanan untuk kita semua tadi sebelum kalian datang," kedatangan Sari untuk mengajak kami masuk ini untuk sementara menyelamatkan aku dari pertanyaan yang diajukan oleh Celine.
__ADS_1