Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 23 Penyiksaan


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Reni dengan memperlihatkan chatku bersama Celine.


Alamak... mampuslah aku, benar dugaanku, Reni melihatnya, dia melihat pesan-pesanku bersama dengan Celine tempo hari.


Aku takut pada Reni? Tentu tidak, aku tidak takut sama sekali padanya. Hanya saja aku takut jika dia kembali membuat Celine menderita.


Cukup aku saja yang dibuatnya menderita. Jangan Celine, dia wanita yang baik, terlalu baik malah hingga aku ingin sekali memilikinya.


"Aku yang salah. Sudah kembalikan ponselku. Aku juga tidak ada peluang bersamanya. Mereka sudah menikah dan bahagia," ucapku agar Reni segera mengembalikan ponselku dan semoga dia tidak merencanakan hal lain pada Celine.


"Hahahaha... bahagia? Apa benar dia bahagia?" Reni bertanya padaku sesuatu hal yang membuatku curiga.


"Tentu saja, mereka baru menikah, sudah pasti mereka bahagia," jawabku pasti.


"Apa benar-benar mereka akan bahagia?" Reni bertanya kembali padaku dan itu membuatku semakin curiga padanya.


"Apa lagi yang kau rencanakan Ren? Ingat, Celine tidak ada hubungannya dengan kita, jadi jangan sentuh dia, biarkan dia bahagia," aku memberikan peringatan tegas pada Reni.


"So sweet....," Reni terkekeh menertawakan peringatanku.

__ADS_1


"Awas aja Reni jika kamu membuat Celine menderita," kuperingatkan dia kembali.


"Uuuh takuuuuut...," ekspresi ketakutan dan bergidik dilakukan oleh Reni.


Sungguh menjengkelkan wanita ini. Aku benar-benar ingin menyingkirkannya. Aku diam sepersekian detik dengan menatapnya secara intens.


"Kenapa kau lakukan itu Ren? Kenapa kamu membuat Celine terpaksa menyetujui pernikahan itu?" ucapku lirih memelas dengan menatap manik matanya.


"Supaya dia tidak mengganggu kita untuk selalu bersama," jawabnya dengan cepat tanpa ragu.


"Dia tidak ada hubungannya dengan kita Ren. Aku udah menikah dan mempunyai anak, itu bukan dengan Celine, lalu kenapa kamu memusuhinya?" aku sangat frustasi dengan Reni yang sangat keras kepala melebihiku.


"Lex aku heran, mengapa kamu bisa menikah dan mempunyai anak jika kamu menyukai Celine?" Reni mencoba memprovokasi aku.


"Udahlah Ren, itu hanya masa lalu, dan aku akan hidup di masa kini," aku sudah lelah berdebat dengan Reni.


Namun anehnya, dia malah menyeringai dan dengan cepatnya tangannya kini sudah berada di asetku yang tidak aku lindungi dengan pakaian dalam.


Reni, si wanita ini menarik milikku untuk dimainkannya. Aku menolaknya namun hanya kesakitan yang aku rasakan.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskannya Lex. Kamu pilih enak atau sakit?" dua pilihan yang sama sekali tidak ada niatan untuk ku pilih.


Namun si brengsek Alex, sisi sialan dalam diriku memilih untuk merasakan enak daripada merasakan kesakitan, karena kini tangan Reni kembali menarik milikku.


Oh God, wanita ini gila! seruku dalam hati.


Dengan berat hati dan terpaksa, aku memilih pilihan yang pertama.


"Baiklah, aku pilih enak," jawabku dengan berat hati.


"Ok, mulai sekarang hapus kontak Celine dari HP mu, dan ingat Lex, jangan sekali-kali kamu menghubunginya. Jika tidak, tamatlah ini," dia menunjuk milikku dan mengusap-ngusapnya dan diarahkan ke mulutnya.


Aku kira dia hanya ingin menempelkannya pada bibirnya saja, ternyata tidak, dia malah memasukkannya ke dalam mulutnya dan memainkannya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa buatku.


"Cepat hapus kontaknya," Reni memerintahku dengan menyodorkan ponselku dan melihatku untuk menghapusnya.


Tanganku bahkan tidak menyentuh layarnya, karena aku tidak mau menghilangkan nomer Celine dari ponselku, aku tidak mau kehilangan kontak lagi dengannya.


Namun, Reni membuatku harus menghapusnya karena dia kembali membuatku terbuai dengan memasukkan milikku ke dalam mulutnya dan mengeluarkannya disaat aku sedang melenguh. Sungguh sangat tersiksa, ternyata itu ancaman Reni agar aku menghapus kontak Celine sendiri dari ponselku.

__ADS_1


"Ayo hapus, jika tidak, ini tidak akan aku teruskan, dan kamu akan tersiksa Lex!"


__ADS_2