Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 53 Tawanan hati


__ADS_3

Ternyata keberuntungan itu ada meskipun hanya sedikit saja diantara kesialan yang aku alami. Kini di hadapanku berdiri seorang wanita yang membuatku seperti orang gila dalam beberapa hari ini. Dia mampu menyita waktu dan pikiranku dalam beberapa hari ini.


Karenanya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karenanya aku tidak bisa fokus bekerja. Dan karenanya pula aku menjadi berantakan dan bertengkar dengan teman-temanku.


Entah sihir apa yang dia punya sehingga membuat diriku tidak bisa mengenyahkannya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya, kebaikan serta kharisma dari dirinya lah yang membuatku tak mampu berpindah ke lain hati. Celine Amartha, kau sungguh menawan hatiku.


Celine menatap nanar diriku, sepertinya dia iba padaku. Namun beberapa detik kemudian kulihat matanya berkaca-kaca melihat lebam di wajahku. Jemari lentiknya mengusap wajahku yang terkena pukulan dari teman-temanku tadi.


"Ikut aku Al!" ucapnya dengan menarik tanganku menuju apartemennya.


Aku tak menyangka jika aku bisa masuk ke dalam apartemen milik Celine. Aku terpaku pada satu foto yang terdapat di atas rak buku yang berada di ruang tamu. Cantik, sangat cantik. Senyumnya sungguh menawan meskipun hanya sebuah gambar.


Ah pantas saja hatiku memilihmu, bahkan hatiku memegang erat namamu agar tidak bisa hilang dari dalam hatiku, aku berbicara dalam hati dengan masih posisi masih memegang foto Celine dan menatap foto tersebut tanpa bosan.


"Duduklah Al!" ucap Celine tanpa senyum padaku ketika sudah mengambil kotak obat di ruang lainnya.


Aku duduk dengan menatap wajah Celine yang ada di hadapanku. Wajah itu tampak tidak ada kebahagiaan sama sekali.


"Cel-"


"Diamlah, aku masih mengobatimu Al," ucapnya datar tanpa ekspresi.


Sungguh aku benci Celine yang seperti ini, karena jujur saja membuatku sangat takut, takut dia marah, takut dia bersedih dan tentu saja aku takut kehilangannya.


"Cel apa kamu ma-"


"Enggak Al... aku gak marah sama kamu. Udah kamu diam aja dulu, biar aku obati ini semua," ucapnya sambil membuka obat yang akan dioleskan pada wajahku.


"Aww...," aku meringis kesakitan ketika Celine mengoleskan obat itu pada wajahku.


"Pasti sakit ya Al?" ucapnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Al selalu datang padaku dengan luka di badanmu?" Celine memarahiku, baru kali ini dia memarahiku dan entah mengapa itu membuatku bahagia, itu berarti dia tidak membenciku melainkan memperhatikanku layaknya ibu memarahi anaknya.


"Aku tadi di cafe-"


"Aku tau. Kenapa kamu harus menanggapi mereka? Kamu kan udah tau kalau mereka seperti itu," Celine kembali memarahiku.


"Tapi mereka menyebutmu-"


"Kamu gak harus membelaku Al. Biarkan aku membela diriku sendiri," Celine kembali menyela ucapanku.


"Bagaimana kamu bisa tau?" aku bertanya seperti orang bodoh.


"Bahkan aku tau jika di sini juga ada bekas pukulan mereka," jawabnya sambil menunjuk perutku yang memang nyeri terkena pukulan mereka tadi.


"Obatilah dulu Al," ucapnya sambil mengulurkan obat tersebut padaku.


"Cel, aku mencarimu ke mana-mana selama beberapa hari. Aku mendatangi semua tempat yang biasanya kami datangi. Tapi aku gagal menemukanmu," ucapku sambil mengoles obat di luka perutku.


Celine menghadap ke lain arah, dia tidak mau melihatku yang sedang mengobati luka di perutku. Namun aku tahu wajahnya menyiratkan beban kesedihan yang sedang dia rasakan.


"Tapi kenapa Cel, apa aku bersalah padamu?" aku tidak terima mendengar Celine sengaja menghindariku.


"Karena aku tau kamu akan membelaku dan membuat hubunganmu dengan mereka akan berakhir seperti sekarang ini. Lihat saja, kalian bertengkar, saling hantam dan pasti nantinya mereka masih akan dendam padamu," ucapnya dengan kesal menoleh padaku.


"Kamu tau aku tadi-"


"Ya, aku kenal pemilik cafe itu, dia memberitahuku jika kamu bertengkar dengan mereka dan saling pukul. Bahkan dia mengirimiku rekaman video kalian sedang saling baku hantam di dalam cafe," jawaban Celine ini membuatku bertanya-tanya.


Siapa pemilik cafe itu? Kenapa dia kenal dengan Celine? Bahkan sepertinya mereka terlihat seperti sangat dekat sekali, aku hanya mampu bertanya dalam hatiku saja.


Aku memandangnya penuh tanya. Aku tidak berani bertanya padanya karena aku takut dia akan marah padaku. Namun rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku. Mulutku sudah terbuka hendak bertanya pada Celine, namun dia terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Dia saudaraku Al, jangan berpikir macam-macam," ucapnya.


Aku melongo tidak percaya jika Celine mengetahui apa yang ingin aku tanyakan padanya.


"Kamu cenayang Cel?" ucapku tanpa ragu.


Dan itu sukses membuatnya tertawa. Bodohnya aku karena aku lupa jika Celine gadis sederhana yang tidak memerlukan barang mewah agar dia mau memaafkan dan tertawa meskipun sedang kesal pada orang itu. Hanya dengan guyonan recehku saja dia mampu tertawa.


"Setelah aku melihat video itu, aku berniat akan menyusulmu ke sana, dan ternyata kamu sudah ada di sini," ucapnya setelah tawanya berhenti.


"Oh jadi karena itu kamu berpenampilan seperti ini?" tanyaku berniat menggoda Celine.


"Karena aku gak sempat ganti Al. Aku khawatir sama kamu. Mereka bertiga dan kamu hanya sendiri, sudah pasti kamu menjadi bahan keroyokan mereka," jawaban Celine ini membuatku sangat terharu, dia bukan siapa-siapa ku tapi dia mengkhawatirkan aku.


"Cel, aku harap kamu gak akan menghindariku lagi, kecuali kamu benar-benar membenciku. Jika itu terjadi, aku akan ikhlas menjauh darimu dengan suka rela," ucapku tanpa sadar ketika melihat wajah Celine yang benar-benar telah membuat hatiku menjadi tawanannya.


Celine mengalihkan pandangannya dariku, sepertinya dia salah tingkah. Aku mengamati wajahnya yang benar-benar terlihat sedih, entah apa yang dipikirkannya.


"Pulanglah Al, udah malam," Celine mengusirku.


Oh tidak, aku tidak mau hanya begini saja keberuntunganku berakhir. Aku ingin sedikit lebih lama lagi bersamanya.


"Tapi Cel aku... apa kita bisa bertemu lagi?" tanyaku untuk memastikannya.


Celine mengangguk lirih seperti tidak yakin atas keputusannya. Sedangkan aku sangat gembira. Aku rasa aku akan salto dan berjingkrak-jingkrak jika aku hanya seorang diri sekarang.


"Pulanglah Al," ucapnya sambil berdiri dari kursinya.


Dengan terpaksa aku berdiri dan berjalan menuju pintu dengan Celine yang mengikuti di belakangku.


Hatiku sebenarnya enggan pulang, namun aku tidak mau Celine marah padaku. Ku langkahkan kakiku berat menuju parkiran mobilku. Meskipun aku senang karena bisa menemui Celine, namun hatiku sedih karena Celine seperti tidak nyaman, takut, bahkan sepertinya dia enggan mengatakan sesuatu padaku.

__ADS_1


Keesokan harinya, aku kembali menuju cafe semalam untuk membayar makananku. Apalagi aku tahu jika cafe ini milik saudara Celine, jadi aku harus terlihat baik di hadapan pemilik cafe ini.


"Alex?!" suara yang menyapaku ini membuat mataku terbelalak karena kaget bertemu dengannya.


__ADS_2