Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 24 Positif


__ADS_3

Dengan terpaksa dan berat hati aku menghapus kontak Celine. Entah nanti bagaimana caranya aku mendapatkan nomernya kembali. Celine juga sudah tidak ada di grup chat alumni SMP ku. Celine sudah dikeluarkan oleh Reni setelah Reni mempermalukannya.


"Ok, udah terhapus," aku memperlihatkan ponselku pada Reni yang berada di sampingku dengan tangannya yang masih memegang erat aset berhargaku.


Reni tersenyum puas dan dia kembali menunduk di hadapanku dan melakukan kegiatannya kembali.


Tiba-tiba saja ponselku berdering, namun ponselku segera dilempar ke atas ranjang oleh Reni. Sungguh aku tidak bisa menggapainya, terlalu jauh dan tubuhku hempasan Reni ke belakang. Aku terduduk di sofa dan Reni sudah berada di atasku.


Dia bergerak sangat lincah dan penuh dengan semangat. Sampai akhirnya kami mencapai kembali titik kepuasan kami berdua. Setelah itu kami menyudahinya.


Reni berada di atas ranjang dan masuk ke dalam selimut, sepertinya dia kelelahan. Aku berdiri dan berjalan menuju ranjangku untuk melihat panggilan yang berkali-kali bunyi dari ponselku.


Ternyata tadi Diana ya g berulang kali meneleponku, karena tidak aku angkat semua panggilannya, akhirnya Diana mengirimkan aku pesan.


[Sayang, aku hamil. Aku udah tes dan hasilnya positif. Akan aku kirim gambar testpack nya. Selamat, akhirnya Dave akan memiliki adik]



Mataku terbelalak membaca pesan dari Diana. Istriku, Diana sedang hamil anak kedua kami. Hatiku sangat senang karena penerusku bertambah, bukan hanya Dave saja yang kini akan menjadi kesayanganku.


"Apa maksudnya ini Lex?" tiba-tiba Reni sudah berada di sampingku dan ikut membaca pesan yang dikirimkan Diana padaku.

__ADS_1


"Dia istriku Ren, wajar aja dia hamil anakku," ucapku ketus melupakan seperti apa Reni jika tahu berita ini.


"Tidak Lex, tidak bisa. Kamu harus segera menikahiku," Reni kembali memaksaku untuk menikahinya.


"Istriku sedang hamil Ren, mengertilah," aku mencoba mengiba padanya.


"Lalu kenapa? Apa peduliku?" seperti biasa Reni tidak mau kalah.


"Bukan begi-"


"Enak aja, kalau sama aku kamu selalu memakai balon, tapi kalau sama istrimu kamu tidak memakainya," perkataan Reni sangat konyol menurutku.


"Lah mangkanya Lex, cepat nikahi aku biar aku bisa memberikan anak untukmu," ucapan Reni kali ini seperti boomerang bagiku.


Sangat bodoh diriku bisa berkata demikian sehingga membuatku mati kutu ketika Reni mengutarakan kembali niatannya untuk mengajakku menikah.


"Sebaiknya kita tidur Ren, mataku udah sangat ngantuk sekali," ku simpan ponselku di bawah bantalku dan kupejamkan mataku agar Reni tidak membahas lagi masalah pernikahan kami.


Reni pun ikut terpejam matanya dengan badannya yang ditempelkan ke badanku. Sungguh berniat menggoda sepertinya dia, agar aku bisa luluh padanya.


Hari-hari kulalui dengan masih adanya kehadiran Reni di apartemenku. Kini tibalah saatnya aku untuk pulang ke Jakarta karena janjiku pada Dave yang harus aku tepati.

__ADS_1


Reni, bagaimana dengan dia? Untung saja saat ini ada acara keluarga di rumah orang tuanya. Tadinya dia ingin aku ikut dengannya dan memaksaku untuk bersamanya menemui orang tuanya. Namun aku bisa menghindar kali ini karena tiket pesawat yang sudah aku beli.


Dave menungguku di Bandara. Dia berlari menyambutku ketika dia melihatku. Sungguh hal yang sangat membahagiakan sekali.


Tampak juga Diana yang berdiri tidak jauh dari kami tersenyum melihatku dan mengusap perutnya seolah dia mengatakan bahwa ada anak kami di dalamnya.


"Selamat datang Pa, anakmu ini ingin diusap Papanya," Diana mengarahkan tanganku pada perutnya.


Aku melihat senyum ketulusan darinya. Sungguh aku tak tega jika menyakitinya dengan mengingat Reni ada di tengah-tengah keluargaku.


Aku berniat dan berjanji akan menjauhi Reni. Selalu itu yang ku ucapkan dalam hati, namun nyatanya semua itu tidak bisa aku lakukan.


Aku masih berpikir, tiap hari aku mencari cara untuk menghindari Reni, namun bayangan Celine yang sedang melakukan dengan suaminya ada di otakku, aku jadi marah dan menjadikan Reni sebagai pelampiasanku.


Brengsek bukan aku?!


Hufft... ku hembuskan nafas perlahan untuk mempersiapkan semuanya, apapun itu akan kuhadapi, karena memang aku yang salah dan aku yang terjebak dalam situasi ini.


Maafkan Papa Dave...


Maafkan Papa sayang...

__ADS_1


__ADS_2