
Seperti biasa Diana tidak berbicara padaku, padahal hari ini hari terakhir aku di rumah, karena besok aku harus kembali ke kota tempat aku bekerja lagi.
Pagi-pagi sekali aku mengajak Dave joging di arena taman yang ada di komplek kami. Diluar dugaanku, Dave menyambut dengan senang ajakanku. Bangun di pagi hari dan menghabiskan waktuku bersama dengan anak-anakku, sungguh hal yang indah bukan, sangat menyenangkan.
Dengan senangnya Dave berlarian di taman dan mengajakku berkejar-kejaran seperti anak kecil lainnya yang sedang berada di taman bersama dengan kedua orang tua mereka.
"Pa, kenapa Mama gak ikut kita? Itu mereka semuanya sama Mama Papanya," Dave menunjuk anak-anak yang sedang bermain bersama kedua orang tua mereka di taman.
Memang hari ini akhir pekan sehingga banyak orang tua yang mengajak anak mereka bermain di taman meskipun masih sangat pagi. Mungkin ingin menikmati udara pagi yang bebas polusi, sama seperti aku dan Dave.
"Mama kan harus jaga Laura Sayang. Jadi Dave sama Papa aja ya," aku terpaksa berbohong di depan Dave agar dia tidak merasa sedih dengan keadaan orang tuanya yang selalu bertengkar di setiap kesempatan.
"Laura bisa diajak kan Pa, biar dia juga senang meskipun belum tau apa-apa," jawab Dave.
Aku tahu Dave masih kecil, dan terlalu kecil untuk tahu masalah kami, masalah orang dewasa yang disebut orang tua olehnya. Wajar Dave menginginkan bermain bersama kedua orang tuanya, karena dia masih kecil dan sering terpisah denganku.
"Dave, apa Dave mau kita jalan-jalan nanti? Terserah Dave mau ke mana saja nanti, pasti Papa turuti," aku mencoba menghibur Dave agar dia tidak sedih.
"Mau! Tapi sama Mama juga kan Pa?" Dave kembali menanyakan keikutsertaan Mamanya.
"Ya nanti Dave sama Papa coba bilang Mama supaya mau ikut ya. Sekarang kita main bola dulu yuk," aku kembali mencoba mengobati kekecewaan Dave.
"Yeee... ayo Papa kita main bola. Eh tapi Pa, kan kita gak bawa bola," aku tertawa, lucu sekali reaksi Dave ketika berbicara seperti itu.
"Ya kita main bola di halaman depan rumah saja kalau gitu. Bola Dave masih ada kan?" ucapku sambil mengangkat tubuh Dave untuk menggendongnya.
__ADS_1
"Masih dong Pa. Dave kan biasanya main bola di halaman rumah, tapi sendirian," ucapnya dengan ekspresi yang berbeda.
Tadinya Dave sangat bersemangat menjawab pertanyaaanku, tapi ketika dia mengatakan bermain sendiri, wajahnya berubah menjadi sedih. Aku sangat iba melihat Dave yang sepertinya sangat butuh kehadiranku. Dia butuh kehadiran kedua orang tuanya di setiap kegiatannya. Maklum saja karena dia masih kecil. Siapapun pasti akan seperti itu bukan?
Sepanjang perjalanan dari taman menuju rumah ku gendong Dave di pundakku. Sangat gembira sekali dia. Dengan celotehannya yang bercerita tentang sekolah dan teman-temannya, Dave membuatku tertawa dan dia pun tertawa senang ketika aku sedikit berlari mempermainkannya.
"Gol! Yeeee.....," teriak Dave sambil berjoget-joget untuk merayakannya.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan Dave yang sedang merayakan kemenangannya. Bagaimana aku bisa tidak merindukannya jika dia sangat menggemaskan seperti ini. Belum nanti Laura kalau sudah agak besar, pasti dia tidak kalah menggemaskan dari Dave.
"Dave, ayo sarapan dulu!" Diana berteriak dari teras rumah memanggil Dave.
"Bentar lagi Ma. Dave masih pengen main sama Papa," jawab Dave yang merubah raut wajah Diana menjadi kesal.
Berbeda dengan Diana, justru aku sangat trenyuh hatiku mendengar ucapan Dave. Keinginanku untuk memboyong mereka untuk ikut denganku semakin bulat. Aku akan berusaha membuat Diana menyetujui rencanaku.
"Ok Papa. Tapi gendong Dave lagi ya," ucap Dave sambil berlonjak-lonjak meminta gendong padaku.
Aku tertawa, aku sangat terhibur oleh tingkahnya. Aku gendong Dave kembali ke atas pundakku. Aku jadi teringat Celine yang mengatakan bahwa akan lebih bahagia bila aku dekat dengan anakku.
See... benar sekali apa yang dikatakan oleh Celine. Ah... aku jadi teringat Celine yang belum aku kabari jika aku sudah sampai. Tapi percuma saja, Celine tidak akan mau membalas ataupun mengangkat teleponku jika aku berada bersama keluargaku. Dia wanita yang sangat baik, dia tidak mau istriku berpikir macam-macam tentang hubungan pertemanan kami.
"Papa... Papa... nanti Dave belikan bola yang baru ya buat main di rumah kita yang di sana," ucap Dave pada saat akan menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Tentu saja Dave. Papa akan belikan apapun yang Dave mau," jawabku sambil tersenyum melihat Dave yang sangat lahap sekali memakan makanannya.
__ADS_1
"Siapa yang akan pindah?" Diana dengan lantangnya menyahuti percakapan kami.
"Kita akan ikut Papa di sana kan Ma? Dave senang sekali Ma bisa berkumpul dengan Papa. Jadi Dave bisa main bersama Papa setiap hari di sana," Dave sangat pintar sekali menjawab pertanyaan Mamanya.
"Papa sangat sibuk Dave, pulangnya selalu malam. Jadi percuma saja jika kita ikut Papa pindah di sana. Lebih baik kita menunggu Papa saja pulang setiap minggu seperti ini," Diana mematahkan harapan Dave dan tentunya harapanku juga untuk bisa berkumpul bersama seperti ini.
"Benarkah Pa?" tanya Dave padaku.
Aku akan menjawabnya, namun tatapan mata Diana seolah ingin membunuhku jika tidak menyetujui ucapannya. Terpaksa aku tidak menjawab karena aku tidak mau berbohong pada Dave.
"Lebih baik sebentar lagi kita jalan-jalan saja sesuai dengan keinginan Dave tadi," aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar Dave lupa akan bahasan soal pindahan tadi.
"Oh iya, Dave lupa," Dave memukul dahinya sendiri, sangat lucu sekali ekspresinya hingga membuatku kembali tertawa.
"Mama, Mama harus ikut ya. Kita jalan-jalan bersama ke.... mmm... Dave pengen jalan-jalan ke... taman hiburan Pa. Boleh kan?" Dave sama seperti anak kecil lainnya yang suka sekali pergi ke taman hiburan.
"Ok, kita ke Dufan ya," aku putuskan untuk mengajak Dave ke Dufan.
"Mama gak boleh nolak, pokoknya harus ikut. Dave pengen kayak anak-anak lainnya yang jalan-jalan dan bermain dengan Mama Papanya," Dave sangat pintar memberi perintah.
Diana pun tidak bisa menolaknya, dia diam saja tapi pada akhirnya kami berangkat juga berempat bersama Laura.
Benar kata Dave, sangat menyenangkan bepergian bersama keluarga. Hanya dengan melihat tawa Dave saja aku sangat bahagia. Andaikan aku bisa melihat tawa itu setiap hari, pasti itu bisa menjadi obat lelahku dikala pulang bekerja.
"Papa... Dave naik kuda-kudaan ya," ucapnya dengan antusias sambil menunjuk wahana komedi putar.
__ADS_1
Aku antarkan Dave untuk duduk di kuda pilihannya. Sedangkan aku menunggunya di luar wahana dengan Diana dan Laura yang ada pada baby stroller.
"Apa kamu yang mempengaruhi Dave untuk ikut denganmu?" pertanyaan Diana yang bernada ketus itu mampu membuat mood ku menjadi berubah.