
Setelah candaan kami di dalam mobil tadi, kini kami sudah sampai di parkiran restauran tante Shela karena mendadak Celine menyuruhku untuk mengantarkannya ke restauran milik tante Shela
Ku perhatikan mobil Gio masih saja mengikuti kami. Sungguh tidak ada lelahnya dia. Sedari tadi berada di dalam mobil mengikuti kami selama berjam-jam, apa dia tidak lelah dan bosan?
Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan dan dia pikirkan dengan mengikuti Celine seharian seperti itu. Apa yang akan dia lakukan setelah ini?
"Eh kamu ikut aku masuk atau langsung pulang Al?" Celine bertanya padaku.
"Aku yang akan mengantarkan kamu pulang Cel," jawabku padanya.
"Ah Al, aku sungguh terharu," candanya dengan ekspresi wajah yang sangat lucu.
"Aku gak nerima pujian Cel, tapi aku menerima cintamu jika kamu memberikannya padaku," candaku padanya.
"Apa yang kamu mau dari seorang janda sepertiku Al?" tanyanya padaku dengan tawanya yang membuatku semakin terpesona padanya.
"Karena itu dirimu. Coba kalau bukan dirimu, mana mau aku," jawabku dengan tawaku yang tak mau kalah dengan Celine.
"Yuk ah Al masuk ke dalam, bisa-bisa malah ngelantur jauh candaan kita," Celine mengajakku untuk masuk ke dalam restauran di depan kami yang merupakan milik dari tante Shela, tantenya Celine.
Aku pun masuk ke dalam untuk mengikuti Celine yang sudah hafal betul seluk beluk restauran ini.
"Hai keponakan cantik tante, apa kabar?" tante Shela menyapa Celine dan memeluknya serta mencium pipi dan kanannya.
"Baik dong tante, baik banget malahan," jawabnya dengan senyum lebarnya.
"Loh ini kan... Al-Alex ya?" tante Shela menebak nama Alex dengan mengingat-ingat namanya.
"Iya Tan, tante Shela apa kabar?" tanyaku padanya sambil menjabat tangannya.
"Baik, tante baik-baik saja. Kalian datang di saat yang tepat" ucap tante Shela dengan gembira.
"Ada apa tante? Apa ada masalah?" tanyaku padanya.
"Tidak, tidak sama sekali. Satu-satunya yang bikin tante gembira adalah kedatangan kalian berdua di restauran tante ini.
__ADS_1
"Apa kalian mau bernyanyi berdua di atas panggung itu? Sebentar lagi pemain musik dan penyanyinya akan tampil di sana," tante Shela berucap dengan sangat gembira seolah menyuruh kita untuk bernyanyi berdua.
Aku dan Celine saling memandang, kemudian kami pun mengangguk menyetujui permintaan dari tante Shela.
Kami berdua berjalan menuju panggung kecil yang memang telah disediakan untuk acara seperti ini.
Kami menyanyikan lagu yang dulu pernah kami nyanyikan ketika kami SMP pada saat kami sedang mengadakan kerja kelompok bersama
Lagu ini sangat berarti bagiku, setiap katanya dan alunan nadanya sangat berarti bagiku. Dan kini ku nyanyikan bersama dengan wanita yang menyanyi bersamaku waktu itu.
Celine terlihat sangat menghayati setiap baitnya hingga tidak terasa lagu itupun selesai kita nyanyikan bersama. Bagaimana aku bisa merasa bosan menyanyikannya jika di depanku kini ada seorang wanita pemilik hatiku yang sedang bernyanyi denganku. Hingga aku tidak mengira jika lagu itu bisa selesai dengan cepatnya.
Tepuk tangan dari pengunjung dan dari tante Shela membuat kami sangat tersanjung. Saking senangnya, Celine melingkarkan tangannya di lenganku ketika turun dari panggung.
Hatiku sangat berbunga-bunga digandeng oleh wanita idamanku.
Ah... mungkin dia hanya berpegangan agar tidak jatuh saja, aku berkata dalam hatiku untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Ups sorry Al," ucapnya sambil melepaskan tangannya yang melingkar di lenganku ketika dia tersadar dan kaget mendapati tangannya berada di lenganku.
Aku memang tidak sepenuhnya melihat ke arah mobil milik Gio yang mengikuti kami, namun aku sesekali berpura-pura menoleh agar Gio tidak mengetahui bahwa kami mengetahui keberadaannya.
Ternyata Gio benar-benar tidak menyerah. Dia masih berada di sana. Aku jadi penasaran dengan apa yang akan dilakukan atau direncanakan oleh Gio.
Dan ini menjadi tugasku untuk mewaspadainya dan menjaga Celine dari rencana busuknya.
Hari sudah malam dan aku sudah tidak melihat mobil Gio lagi. Dengan berhati-hati dan selalu waspada aku mengantarkan Celine pulang ke rumah orang tuanya sesuai dengan keinginan Celine yang semula.
Jika berada di rumah orang tuanya aku bisa lega, karena paling tidak Celine ada yang menemaninya. Jika dia berada di apartemennya dan diintai oleh Gio, apakah aku bisa tidur dengan nyenyak?
"Mau mampir Al?" tanyanya padaku ketika kami sudah berada di depan rumah kedua orang tua Celine.
"Gak usah Cel, udah malam, gak enak sama tetangga. Lain kali aja ya," aku menolak ajakan Celine untuk mampir di rumah orang tuanya.
"Loh Cel kok gak pulang kalau mau ke sini?" suara itu membuat kami menoleh ke belakang di mana sumber suara itu berasal.
__ADS_1
"Ayah... Ibu... kalian dari mana?" tanya Celine pada ayah dan ibunya sambil memeluk mereka berdua.
"Dari pengajian di masjid. Kamu kok tumben malam-malam gini ke sini?" ibu bertanya pada Celine.
"Habis pulang kerja terus makan di tempatnya Tante Shela bu. Eh malah gak terasa ngobrol sama Tante Shela, akhirnya kemalaman deh. Dan Celine ke sini karena Celine sangat merindukan kalian," jawab Celine dengan bermanja pada ibunya.
"Yowes... ayo sekarang kita masuk ke dalam. Gak baik lama-lam ngobrol di luar," ibu berkata dengan kekehannya.
"Ayo nak ikut sekalian ke dalam, kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar," kali ini ayah Celine yang berbicara dan mengajakku untuk mampir ke dalam rumahnya.
Aku pun tidak tau lagi harus menolak seperti apa. Dan sesuai ajaran orang tuaku, aku harus menghormati orang yang lebih tua dan tidak boleh membantahnya. Karena alasan inilah aku mengikuti keinginan ayah Celine dan berjalan masuk mengikuti mereka.
"Nama kamu siapa?" ayah Celine mulai bertanya padaku.
"Maaf Om saya belum memperkenalkan diri saya. Nama saya Alex," ucapku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan bersama dengan mereka.
"Jangan panggil Om, panggil Ayah saja sama seperti Celine," ucap ayah Celine sambil terkekeh padaku.
"Baik Ayah," ucapku tertunduk malu.
"Kamu ini apanya Celine?" tanyanya kembali.
"Saya teman SMP nya Celine Yah. Dan kami masih jadi sahabat dekat sampai saat ini,"jawabku dengan sedikit takut namun masih bisa ku atasi, jadi tidak akan terlihat oleh kedua orang tua Celine.
"Oh sahabat, teman. Ayah kira kamu-"
"Ayah!" seru Celine untuk menghentikan ucapannya.
Kalau jadi pasangan hidup Celine dengan senang hati saya mau Pak, aku membatin dan menetralkan ekspresi ku agar tidak terlihat takut dan menyuguhkan senyumanku agar aku tidak terlihat buruk di mata mereka.
"Kenapa kalian tidak pacaran saja? Atau langsung menikah mungkin?" ibu Celine bertanya pada kami berdua.
Deg!
Mau Bu.... kalau ibu merestuinya, aku pun langsung membatinnya.
__ADS_1