Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 41 Misi


__ADS_3

"Papa.....!" Dave berteriak kesenangan melihatku berdiri di depan gerbang ketika menjemputnya di tempat bimbingan belajarnya.


Aku melebarkan tanganku ke samping dan berjongkok bersiap untuk menyambut Dave yang berlari ke arahku.


"Papa kapan datangnya?" tanya Dave yang sudah masuk dalam pelukanku.


Kupeluk erat tubuh mungil jagoanku itu. Ku hirup dalam-dalam aroma tubuhnya, kemudian ku cium kedua pipinya dengan gemas bergantian. Ada rasa haru dan kasihan melihat Dave yang terlihat lelah. Mungkin dia kelelahan dengan padatnya aktifitas dia yang tiap hari sepadat itu hingga waktunya untuk bermain berkurang.


"Baru saja sayang. Papa tadi nyari Dave loh di bandara. Biasanya Dave kan jemput Papa di bandara," ucapku sambil melihat wajah Dave dan ku cubit hidungnya dengan gemas.


"Mama gak ngajak Dave jemput Papa. Dave kira Papa gak pulang hari ini. Dave juga masih ada les setelah pulang sekolah. Papa kok bisa pulang hari ini, bukannya ini masih hari kerja Pa?" aku menatap Dave dengan bangga ketika melihat dia berbicara, diumurnya saat ini ternyata pemikirannya sangat luas.


"Semua pekerjaan Papa selesaikan kemarin supaya hari ini bisa ketemu sama kalian," aku kembali mencium pipi Dave yang sangat aku rindukan.


"Oooh ini ya Papanya Dave? Ganteng ya, pantes aja Dave ganteng gitu, ternyata mirip banget sama Papanya," aku mendengar suara seorang wanita mendekati kami.


Aku dan Dave menoleh melihat beberapa wanita dan anak-anak mereka keluar dari tempat yang sama dengan Dave tadi.


"Eh Jeng, iya, ini Papanya Dave baru pulang," tiba-tiba Diana mendekati kami dengan menggendong Laura.


Aku heran, bukannya tadi dia lebih memilih duduk di dalam mobil bersama Laura dan menyuruhku untuk menunggu Dave di depan gerbang, tapi sekarang dia malah turun dari mobil dan mendekati kami. Padahal tadi aku ajak dia untuk turun bersama menunggu Dave dia menolak. Ada apa dengan dia sebenarnya?


Setelah Diana memberitahu mereka aku adalah Papanya Dave, satu persatu dari mereka memperkenalkan dirinya dengan mengajakku bersalaman. Aku pun menanggapi mereka karena aku tidak mau Dave jadi bahan omongan karena sikap sombong Papanya yang tidak mau bersalaman dengan mereka.


Diana tersenyum bangga pada mereka, namun di saat dia melihatku, aku melihat kekesalan terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


Huffttt... apa salahku kali ini? aku hanya bisa membatin tanpa bisa bertanya langsung padanya.


"Papa ayo pulang, Dave capek," Dave merengek meminta untuk segera pulang.


Aku meninggalkan para wanita itu yang masih berbicara dengan istriku. Dave duduk di depan, di sampingku yang bersiap untuk mengemudikan mobilku. Namun Diana tak kunjung masuk ke dalam mobil, dia sedang asyik berbicara dengan diselingi tawanya.


Kulihat dari penampilan mereka memang sangat berkelas, dan mustahil memang jika mereka orang biasa bisa menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang memang tidak murah itu.


"Dave, apa mereka itu teman-temannya Dave yang biasa bersama Mama berbelanja?" aku mencoba bertanya pada Dave untuk mencari tahu.


"Iya Pa. Mereka bilang mereka anak orang kaya, barangnya mahal-mahal. Tiap berbelanja bersama, Mama juga ikut beli barang yang sama seperti mereka," jawaban Dave membuatku yakin jika memang benar karena bersama mereka lah Diana menjadi angkuh dan bergaya seperti itu.


Kenapa Diana tidak bergaya sesuai dengan kemampuannya saja? Apa semua wanita seperti itu, gengsi dengan keadaannya? Apa harus menjadi orang lain untuk bisa setara dengan mereka? Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Diana.


Haruskah aku menegurnya? Pertanyaan ini terlintas di kepalaku ketika Diana masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di belakangku.


"Maaf, biasa itu ibu-ibu yang ganjen suka memuji-muji suami orang," Diana menjawab dengan sewot sambil melihatku.


Aku tahu Diana sedang melihatku karena tatapan matanya mengarah padaku saat aku melihatnya dari kaca spion yang berada di tengah.


Sepertinya dia sedang membicarakanku. Aku bingung, haruskah aku menanggapi dengan bertanya padanya, atau aku harus diam saja? Ah, aku jadi serba salah karena posisiku sekarang yang tidak lagi dihormati oleh Diana.


Ini salahku, benar ini memang salahku, tapi apa aku tidak bisa dimaafkan setelah perlakuanku selama ini yang sudah menunjukkan padanya untuk menjadi suami dan Papa yang baik bagi Dave dan Laura.


"Dave mau makan apa? Kita sekalian makan yuk sebelum pulang," aku mencoba mencairkan kembali suasana agar hatiku juga tidak lagi kesal melihat kelakuan Diana.

__ADS_1


"Mau dong Pa, Dave mau makan burger ya, terus nanti pulangnya bawa pizza ya Pa buat dimakan di rumah," Dave sangat antusias menjawabnya hingga terlihat binar bahagia di matanya.


Sederhana sekali bukan membahagiakan anak, jika Diana mengekangnya, maka aku akan sedikit melonggarkan tali itu. Aku tidak mau Dave menjadi tertekan dan stres karena melakukan hal yang tidak disukainya, bahkan terkesan terpaksa melakukannya. Karena aku yakin jika segala sesuatu yang dipaksakan pasti tidak akan membuahkan hasil yang baik.


"Oke jagoan, kita makan burger dulu ya," aku mengucapkannya tidak kalah antusias dengan Dave dan benar saja, Dave bersorak kegirangan hanya karena mendengar jawaban dariku.


Kini kami sudah berada di restoran siap saji kesukaan Dave jika membeli burger. Aku bermain dengannya di playground yang disediakan di tempat tersebut. Hari ini kulihat Dave benar-benar bahagia, dan tawa kebahagiaan itu tidak luntur darinya semenjak melihatku. Aku ingin sekali melihat tawa itu setiap hari.


"Sayang, apa kalian bisa ikut denganku ke sana? Dave bisa pindah sekolah di sana," aku bertanya pada Diana dengan menatap Dave yang masih bermain di playground.


"Sekolah Dave di sini bagus, untuk apa kita pindah ke sana?" Diana tidak mau menerima usulan dariku.


"Kenapa? Apa karena teman-teman sosialitamu itu?" aku sudah tidak bisa menahan kekesalanku lagi.


Diana memelototkan matanya padaku, dan aku sadar jika bukan tempat yang tepat bagi kami untuk berdebat. Aku duduk kembali dengan pandanganku masih pada Dave.


Tampak Diana yang berwajah kesal menatapku ketika aku meliriknya. Sungguh aku sangat kesal padanya. Ketika aku berniat untuk dekat dengan mereka, Diana malah menolaknya. Bisa dibayangkan bagaimana frustasinya aku jika usahaku untuk mendekatkan diriku pada keluargaku dan untuk memperbaiki keadaan rumah tanggaku.


Setelah itu kami pulang dengan atmosfer di dalam mobil yang terasa sedikit mencekam karena Diana yang masih berwajah kesal melihatku.


Kini tugasku bertambah, aku harus bisa membuat Diana tidak kesal padaku karena aku tidak mau usahaku untuk memboyong mereka bersamaku gagal.


Malam ini aku harus bisa meluluhkan hati Diana sebelum aku pulang kembali. Aku berniat harus bisa membawa istri dan anak-anakku ikut bersamaku ke sana.


"Sayang...," aku mulai mendekati istriku untuk merayunya.

__ADS_1


Ku lancarkan aksiku untuk membuat istriku terlena dan terperdaya oleh sentuhan-sentuhan yang kuberikan padanya.


Plak!!!


__ADS_2