Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 8 Batal Nikah


__ADS_3

"Alex!" suara wanita memanggilku dari arah lain.


Aku dan Celine menoleh ke arah suara berasal. Dan ternyata....


Ah... sungguh malas aku bertemu dengannya.


Dia menghancurkan waktuku bersama pemilik hatiku.


Reni menatap tajam ke arah kami, namun dia tidak menghampiri kami. Celine sempat memanggilnya dan memintanya untuk bergabung bersama kami, namun Reni menolaknya, tapi pandangan matanya tidak lepas dari kami.


Aku mengacuhkannya dan kembali makan dan mengobrol bersama Celine. Namun ponselku selalu bergetar. Dan kulihat tertera nama Reni pada layar ponselku.


Aku mengumpatnya dalam hati. Kenapa dia tidak bisa melepaskan ku dalam sehari saja? Aku bukan suaminya tapi dia sudah berlagak seperti istriku.


Aku memberikan candaan ku pada Celine, namun sepertinya dia tidak nyaman karena di belakang sana Reni seolah siap menerkamnya.


Sungguh aku tidak bisa berpikir, bagaimana caranya aku bisa membawa Celine pergi dari tempat ini dan kami bisa melanjutkan obrolan kami bersama.


"Al, apa tidak lebih baik kamu pindah ke meja Reni aja? Aku gapapa kok di sini sendiri. Setelah makan ku selesai, aku akan pulang," ucap Celine yang sepertinya mengusirku.


"Aku kan datangnya sama kamu Cel, kamu jangan mengusirku seperti itu, aku pasti akan bersedih," ucapku sambil memasang wajah sedih.

__ADS_1


Tanpa sadar Celine tertawa dengan candaan ku. Sepertinya dia lupa sejenak bahwa ada Reni yang memperhatikan kami.


"Kamu itu Al lebay banget sih kayak ABG labil aja," ucapnya sambil terkekeh.


"Cel, tadi pertanyaan ku belum di jawab loh," aku mengingatkannya atas pertanyaan ku tentang pernikahannya.


"Pertanyaan yang mana? tentang kabarku?" tanyanya sambil memakan Aglio e olio nya.


"Bukan yang itu Cel... ih gemes deh," tanpa sadar aku mencubit hidungnya karena aku merasa sangat gemas padanya.


"Awww... sakit Al," Celine mengadu kesakitan sambil memukul tanganku.


Sungguh hanya begini saja aku sangat senang bersamanya. Tanpa adegan panas seperti yang disuguhkan oleh Reni pun aku sangat puas dengan pertemuanku bersama Celine.


Tuhan... aku ingin memilikinya, dan ingin hidup bersamanya... selamanya...., teriakku dalam hati dengan memandang wajahnya yang tidak pernah sedikitpun membosankan.


"Al, bawa aja Reni ke meja kita, aku gak enak dilihatnya seperti itu," Celine memaksaku untuk membawa Reni ke meja kami, demi Tuhan aku tidak mau momen ku bersama Celine terganggu.


"Gak usah, aku kan niatnya mau ngobrol sama kamu, bukan sama dia," ucapku membuat Celine menggelengkan kepalanya.


Entah apa yang dipikirkan oleh Celine padaku. Aku hanya ingin bersama dengan dirinya. Jika aku disuruh untuk memilih, tanpa pikir panjang pun aku akan memilih Celine untuk menjadi istriku daripada Diana ataupun Reni.

__ADS_1


"Cel, ayolah cerita, kenapa kamu tidak jadi menikah? Apa kamu mau menungguku?" aku mencoba menggodanya dengan candaanku.


"Kamu itu Al masih saja suka menggodaku. Mmm.... apa aku harus cerita Al tentang itu padamu?" tanyanya dengan ragu.


"Oiya dong, aku aja udah cerita semuanya sama kamu," ucapku tanpa ragu.


"Mmm... aku yang meminta untuk membatalkan pernikahan ini Al," ucapnya dengan mengaduk minumannya, kemudian dia meminumnya.


Aku kaget atas penuturan Celine, karena tidak mungkin pihak perempuan membatalkan pernikahannya, kebanyakan orang pasti malu jika mereka pihak wanita pernikahannya dibatalkan.


"Kenapa Cel, apa dia menyakitimu?" tanyaku menyelidik.


Celine menggeleng, dia menghela nafasnya panjang kemudian dia berkata,


"Dia berselingkuh dengan temanku di sebuah hotel."


Plak! Rasanya pipiku sedang ditampar oleh Celine. Namun itu hanya perasaanku saja. Perkataannya seolah menyentil ku.


"Al ayo kita pulang!" lagi-lagi suara ini menggangguku.


Tanganku ditarik oleh Reni menjauh dari mejaku bersama Celine.

__ADS_1


Ya Tuhan... apalagi ini? Tidak bisakah dia bersikap anggun seperti layaknya wanita?


__ADS_2