Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 45 Undangan pernikahan


__ADS_3

Suara ketukan pintu ruangan yang kami tempati menghentikan perkataanku. Celine mempersilahkan masuk waitress yang membawakan makanan dan minuman yang dipesankan oleh Celine untukku.


"Kenapa banyak sekali Cel? Aku mungkin tidak akan bisa menghabiskannya," ucapku ketika melihat semua makanan yang telah tersaji di atas meja.


"Bukan cuma kamu aja yang makan Al, aku juga lapar," senyum Celine menghiasi setiap kata yang diucapkannya.


"Jadi kamu belum makan Cel?" tanyaku dengan ekspresi kaget.


Celine menggeleng dan tersenyum lebar, sambil tangannya mengisi makanan di piringku dan piringnya sendiri.


"Gitu aja sok-sokan nyeramahi aku, ternyata sendirinya juga belum makan," ucapku tidak terima.


Celine tertawa, dia sungguh menjadi pelipur kesedihanku. Entah mengapa aku lupa akan semua masalahku ketika bersama dengan dia.


"Kenapa Cel, apa karena undangan itu?" tanyaku sebelum aku memulai makanku.


"Enggak Al... aku memang sangat sibuk sekali tadi, sampai-sampai aku lupa belum makan dan ketika aku akan memesan makanan, eh aku malah lihat kamu datang ke tempat ini. Lumayan kan jadi ada teman makan," jawabnya sambil tersenyum dan mulai menyendokkan makanannya.


Aku pun memulai makanku sambil melihat wajah Celine yang membuatku tenang dan bahagia. Bagaimanapun perasaan tidak dapat dibohongi. Meskipun aku sudah mengubur dalam-dalam perasaanku padanya, masih saja ada rasa deg-degan dan bahagia jika bertemu dengannya.


"Kamu sedih Cel dengan undangan itu sampai-sampai kamu tidak nafsu makan?" aku mencoba menggali informasi dari Celine.


"Enggak Al. Aku benar-benar sibuk. Dan undangan itu baru aku terima beberapa menit yang lalu ketika aku memesan makanan untuk kita tadi," jawaban Celine sukses membuatku terkejut.


"Barusan? Lalu, apa kamu bertemu dengan laki-laki itu?" aku mempertanyakan rasa penasaran yang sejak tadi menggelayuti pikiranku.


Celine tersenyum getir, kemudian dia memakan makanan yang sudah ada dalam sendoknya. Setelah itu dia berkata,

__ADS_1


"Bahkan perempuannya pun ikut ke sini memberikan undangan itu."


Mataku membelalak sempurna. Betapa kagetnya diriku mendengar bahwa Gio bersama dengan Reni menemui Celine untuk memberikan undangan pernikahan mereka.


Aku sangat penasaran bagaimana reaksi Gio bertemu dengan Celine yang sekarang, Celine yang lebih mandiri, Celine yang lebih percaya diri dan Celine yang tentunya lebih cantik setelah menjadi janda darinya.


Dan Reni, aku juga penasaran bagaimana sikap angkuhnya yang sudah merebut suami dari Celine menemui Celine untuk memberikan undangan pernikahan mereka.


Aku melihat kembali undangan pernikahan itu yang tertera nama 'Giovani Mahendra dan Reni Wijaya'.


"Mereka... apa mereka menyakitimu?" tanyaku ragu.


Celine menghentikan makannya, dia memandangku, beberapa detik kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Aku gak selemah itu Al. Aku sekarang lebih tegar dibandingkan yang dulu. Karena ya... seperti kita tahu, luka akan memberikan kita pelajaran sehingga kita tidak jatuh ke dalam permasalahan yang sama. Dengan pengalaman itu aku jadi lebih berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih teman ataupun pasangan."


Aku tersenyum lega mendengarnya, namun tetap saja aku khawatir padanya. Bagaimanapun dia wanita yang lemah menurutku dibandingkan dengan Reni yang memang wanita agresif dan harus mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Tentu Al, kamu memang sahabat terbaikku," ucapnya dengan memberiku senyuman manisnya.


"Dan aku tidak mau kamu menyembunyikan masalahmu lagi dariku Al. Gak adil rasanya jika aku selalu kamu tuntut untuk bercerita padamu, tapi kamu gak pernah mau bercerita padaku," perkataan Celine kali ini seolah menyentilku, aku ragu jika dia tidak tahu aku sedang banyak masalah.


"Beda Cel, aku kan laki-laki, malu jika harus berbagi cerita pada siapapun," jawabku untuk membela diri.


"Benarkah? Dan aku tau sekarang kamu sedang banyak sekali pikiran. Pasti kamu sedang menghadapi banyak masalah," ucapnya yang membuatku tersedak makananku.


"Pelan-pelan Al. Aku tau itu benar, jadi santai aja gak usah sampai tersedak seperti itu," ucapnya kembali sambil memberiku segelas air minum.

__ADS_1


Aku menerima gelas tersebut dan ku tenggak habis minuman yang ada dalam gelas tersebut.


"Kamu cenayang Cel? Rasanya aku seperti ketahuan melakukan sesuatu," ucapku setelah selesai minum.


"Hahaha.. karena kita udah dekat Al, aku tau ketika kamu berbohong, aku tau ketika kamu sedang banyak pikiran dan aku juga tau jika kamu sampai lupa akan makanmu berarti kamu sedang banyak masalah. Benar gak Al?" jawab Celine dengan tawanya yang benar-benar menyudutkanku karena yang dia ucapkan memang benar.


"Baiklah, aku mengaku kalah. Kamu memang yang terbaik Cel," ucapku sambil terkekeh.


"So, apa yang membuatmu jadi lupa makan sampai alarm di lambungmu berbunyi Al?" Celine bertanya kembali padaku seolah dia sedang mengintrogasiku.


"Baiklah aku ceritakan setelah kita selesai makan," ucapku untuk mengulur waktu.


Kami makan disertai dengan candaan dan tawa kami. Sangat sempurna jika acara makan bersama keluarga bisa sebahagia dan senyaman ini. Berbeda dengan acara makanku bersama dengan Diana dan Dave. Ah, aku jadi teringat kembali dengan masalahku dengan Diana. Seandainya keluargaku bisa sehangat ini, pasti aku tidak akan sefrustasi dan stres seperti sekarang ini.


"Ayo Al, ceritakanlah kalau memang kamu menganggapku sebagai sahabatmu," Celine menagihku untuk bercerita.


Aku menceritakan tentang kepulanganku waktu itu. Tentang keinginanku untuk memboyong anak-anak dan istriku ke kota ini, tentang sikap dan perubahan kehidupan Diana serta tentang masalah gagalnya aku di ranjang malam itu. Semua aku ceritakan padanya. Tak terkecuali vonis dokter tentang penyakitku.


"Aku bimbang Cel, apa aku harus melakukan saran dari dokter? Aku gak yakin Cel," ucapku dengan lesu dan pasrah.


"Lalu apa rencanamu Al?" Celine bertanya padaku.


"Hufffttt.. aku belum tau Cel. Dari tadi aku memikirkannya hingga aku lupa makan dan penyakit lambungku akhirnya kambuh juga," jawabku dengan frustasi.


"Sabar Al, jangan putus asa dan lakukan saja yang terbaik. Pasti nanti akan ada kebahagiaan yang akan menantimu," Celine memberiku semangat.


Aku tersenyum lega, Celine mampu membuat beban pikiranku sedikit berkurang. Ini lah sebenarnya yang aku harapkan ketika aku menghubungi Diana. Dia istriku, aku ingin berbagi pikiran dan masalahku dengannya. Aku ingin dia sedikit menenangkanku meskipun tidak memberikan solusi apapun padaku. Aku ingin mendapatkan semangat dari istriku dan tentunya aku juga ingin mendapatkan doa darinya.

__ADS_1


"Doakan aku Cel, agar aku cepat sembuh," aku meminta agar Celine mendoakanku.


"Aku selalu mendoakanmu Al agar semuanya bisa kamu lalui dengan baik. Aku doakan semoga kamu cepat sembuh dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan dengan keluargamu," ucapan doa Celine padaku.


__ADS_2