
Celine membuka pintu yang bertuliskan 'VIP ROOM', dan menyuruhku masuk.
"Al, yuk masuk," ucapnya sambil membuka pintu ruangan privat tersebut.
Aku menurut saja, dan duduk di tempat yang disuruh oleh Celine. Ruangan yang kami masuki pun sangat bagus dan penataannya mengagumkan. Siapapun akan betah berada di dalam ruangan ini.
"Al, ceritakan ada apa sebenarnya?" tanya Celine padaku yang dari sorot matanya aku bisa melihat jika dia sangat ingin tahu tentang apa yang terjadi.
Sebenarnya aku raga mengatakannya, namun aku tidak mau jika Celine kembali marah dan tidak mau berteman denganku.
"Baiklah, aku ceritakan. Huuuftttt....," aku mengambil nafas dalam-dalam dan menghelanya agar aku bisa mulai menceritakan kejadian semalam pada Celine.
Celine lebih mendekat padaku dan bersiap untuk mendengarkan seluruh kisah hidupku dalam semalam saja yang mampu membuat hidupku berubah drastis.
Aku menceritakannya tanpa ada yang aku lewati karena aku takut jika ada yang terlewat dan nantinya Celine tau, pasti dia akan menyalahkanku dan menuduhku merahasiakan darinya. Matanya berkaca-kaca ketika mendengar keseluruhan ceritaku.
Tiba-tiba saja dia menyibak bajuku dari belakang dan aku merasakan ada air yang menetes di punggungku. Meskipun hanya setetes saja, aku mengerti jika itu adalah air mata Celine yang dikeluarkannya karena iba padaku.
Dengan segera dia berjalan cepat menuju pintu ruangan kami berada dan keluar dari pintu tersebut. .
"Cel, Celine kamu mau kemana?" seru ku agar Celine mendengar suaraku.
Celine tetap saja berjalan keluar dari ruangan itu dan mengacuhkan panggilanku. Aku hanya pasrah menunggunya di dalam ruangan karena aku juga tidak tahu Celine hendak pergi kemana.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan itu terbuka. Terlihat sosok wanita yang sedari tadi aku tunggu. Celine membawa sebuah kotak yang sepertinya aku mengetahuinya. Ya, aku sangat tahu kotak itu karena akhir-akhir ini aku selalu menggunakannya.
"Sini Al aku bantu mengobatinya," ucap Celine sambil duduk di belakangku.
Dibukanya kotak obat itu. Aku lihat di dalamnya sangat lengkap sekali obat-obatannya. Mungkin si pemilik cafe ini sangat teliti, sehingga masalah obat-obatan saja bisa sedetail ini persediaannya.
Celine mengoleskan salep pada luka di punggungku, luka yang diberikan oleh Diana karena aku yang tidak bisa memberikan kepuasan padanya malam itu. Luka ini, sebagai pembuktian bahwa kemarahan Diana tidak bisa lagi terbendung melalui sapu yang dipukulkannya pada tubuhku.
__ADS_1
Baru kali ini aku tahu jika Diana ringan tangan. Sudah dua kali ini aku mendapatkan pukulannya. Aku akui itu memang salahku, oleh karena itu aku tidak menghindar ataupun membalasnya.
Sekelebat pertanyaan ada di otakku, apakah aman anak-anakku bersamanya? Dave akan mulai berkembang menjadi anak yang lebih merepotkan, terlebih dia lelaki, apa Diana tidak akan memukulnya? Apa Dave dan Laura akan baik-baik saja berada bersama dengan Diana? Namun semua pertanyaan-pertanyaan itu segera aku kubur karena aku yakin jika Diana tidak akan tega memukul anak kandungnya sendiri.
"Auch..." aku mengaduh karena sedikit perih ketika sesuatu dioleskan di atas luka-lukaku.
"Sakit Al?" ucap Celine sambil meniup-niup lukaku.
Aku tersenyum dan tersentuh atas perhatian dari Celine yang namanya selalu ada di hatiku namun sayangnya hanya bisa menjadi teman saja. Tapi aku senang meskipun hanya menjadi temannya saja bisa membuatku sedekat ini dengannya.
"Al, kok diem? Sakit gak?" Celine kembali bertanya padaku karena tidak mendapatkan jawaban dariku.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak merasakan sakit apapun jika yang menyentuh dan mengobati lukaku adalah dirinya, Celine.
"Enggak akan sakit Cel jika kamu yang mengobatinya," aku berniat menggodanya.
"Hah, kok bisa?" Celine menanyakan alasanku dengan heran.
"Karena kamu orangnya telaten mengobati orang lain. Kenapa kamu gak jadi dokter aja sih Cel?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar Celine tidak lagi curiga ataupun bertanya kembali.
"Ah kamu Al, mana bisa aku jadi dokter. Aku tuh bisanya cuma maslaah pemasaran sama ngurusin keuangan perusahaan aja," Celine menjawabnya tanpa curiga.
"Kenapa kamu tidak memeriksakannya Al?" Celine kembali bertanya padaku.
"Belum sempat Cel, kan baru taunya malam tadi dan paginya aku langsung berangkat ke sini," aku sungguh malu mengatakannya pada Celine karena aku tidak mau dia menganggapku sebagai pria tidak berguna.
"Sekarang kamu tinggal di kota ini kan?" Celine bertanya kembali padaku.
Aku mengangguk dan berkata,
"Kalau gak satu tahun ya dua tahun."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak mengajak anak dan istrimu Al? Bukannya biasanya anak dan istri selalu mengikuti kepala keluarganya pindah bertugas?" Celine melayangkan pertanyaan yang sepertinya memang sudah ada sedari tadi.
"Istriku yang gak mau ikut Cel," aku menjawabnya singkat karena aku malas membicarakan tentang Diana, karena setiap membicarakannya seolah aku teringat kejadian semalam.
"Kok bisa? Kenapa gak mau? Bukannya justru dia memberi kesempatan kamu jika memang benar-benar kamu ingin selingkuh? Seharusnya dia mengikuti suaminya ke manapun suaminya ditugaskan, agar tidak lagi terjadi seperti waktu lalu," tanpa sadar Celine mengeluarkan semua pikirannya.
Aku merasa tersindir dan merasa sangat hina mendengar perkataan Celine.
Selingkuh? Siapa yang ingin selingkuh? Apalagi dengan Reni, aku tidak pernah menginginkannya. Aku hanya korban yang lama-kelamaan menjadi terjebak dan menjadi tawanannya.
Apakah aku harus meralat perkataan Celine? Ataukah aku harus diam saja? Tapi aku tidak mau jika Celine berpikiran dan menilai buruk tentang diriku.
"Al, apa ucapanku salah? Apa aku menyinggungmu?" Celine sepertinya resah, dia takut salah bicara.
"Cel, aku gak selingkuh karena ingin. Aku terjebak Cel, aku korban dari Reni," akhirnya kalimat pembelaan diriku keluar dari mulutku.
"Tapi kamu juga menikmatinya Al. Tapi syukurlah kamu sudah mau bertobat dan gak mengulanginya lagi," Celine membuatku down, namun dia kembali membantuku untuk berdiri melalui kata-katanya.
"Sudahlah Cel, aku gak mau mengingatnya lagi. Aku cuma mau hidup bahagia. Tapi... bisakah aku bahagia?" aku menanyakan hal itu pada Celine dengan harapan bisa bahagia hidup dengannya.
"Pasti bisa Al. Semua sudah diatur dan digariskan. Kita tinggal berusaha mendapatkannya saja," ucapan Celine terasa menjadi pembakar semangatku untuk menjalani hidupku kembali.
"Baiklah, aku akan berusaha," ucapku dengan senyum manis yang aku kembangkan hanya untuknya.
"Lalu mengenai anak dan istrimu bagaimana?Mengapa mereka tidak mengikutimu?" Celine masih saja ingat dengan pertanyaannya yang tadi belum terjawab olehku.
"Itu karena-"
Tok... tok.. tok...
"Maaf Bu, apa makanannya sudah bisa dihidangkan?"
__ADS_1