
Cerai, kata itu terngiang di telingaku meskipun aku sudah tidak berada di rumah. Kini aku memang sudah kembali ke kota tempat ku bekerja saat ini. Tapi kata cerai yang diucapkan oleh Diana selalu terngiang di telingaku.
Aku heran, kenapa Diana yang notabene nya adalah seorang istri gampang sekali mengatakan kata cerai pada suaminya. Aku hanya mengusap dadaku saja ketika mengingat ucapan kata cerai darinya.
Aku hanya berpikir jika Diana seorang pria, pasti dia sudah berkali-kali mengatakan kata cerai pada istrinya. Dan berkali-kali juga dia akan menjadi duda.
Segampang itukah kata cerai itu diucapkan? Sepertinya kata cerai itu receh sekali baginya. Dan apakah dia bisa dikatakan sebagai wanita dewasa yang sudah mempunyai anak dua jika dia seperti itu?
Sungguh aku sangat dibuat frustasi olehnya. Seharusnya aku kembali bekerja dengan bahagia karena beberapa hari aku habiskan bersama dengan keluargaku. Namun kenyataannya semua berbanding terbalik.
Aku berpikir tidak akan menceraikan Diana apapun yang terjadi meskipun sekarang dia sudah bersikap berbeda padaku. Aku sadar, mungkin ini bentuk hukuman yang diberikan Diana padaku, seperti yang diberi tahukan Celine padaku setiap dia mendengar curhatan ku tentang Diana.
Aku akan mencoba bertahan sekuat tenaga agar Dave dan Laura tidak kehilangan keluarga utuh mereka di saat masa kecil mereka yang sangat membutuhkan kedua orang tuanya.
"God... tolong bantu aku agar keluarga kami bisa tetap utuh," doaku pagi ini ketika aku baru membuka mataku setelah bangun dari tidurku.
Beberapa hari setelah kepulangan ku dari keluargaku, aku belum pernah sama sekali bertemu dengan Celine. Entah bagaimana keadaannya dan apa yang sedang dia lakukan sekarang aku tidak tahu.
Aku hanya bisa berharap dia baik-baik saja dan tidak terjadi hal yang selama ini aku khawatirkan.
Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengannya, namun aku takut jika nantinya Celine mengetahui apa yang terjadi denganku. Seperti yang pernah dia katakan, bahwa dia selalu tahu jika aku sedang menghadapi masalah dan jika aku sedang berbohong.
"Alex, kita makan siang bersama satu divisi. Apa kamu mau ikut bergabung?" Rian, teman satu divisi ku mengajakku bergabung dengan mereka saat makan siang nanti.
"Boleh, kenapa enggak?" dan aku pun menyetujuinya.
Kini, jam makan siang telah tiba. Kami sudah berada di salah satu restoran yang baru saja buka di kawasan perkantoran kami.
__ADS_1
"Wuih.... cewek cantik tuh Bro. Kira-kira kita bisa kenalan gak ya?" ucap Dani teman se divisi ku.
"Yang mana?" tanya Rian seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar dalam restoran.
"Itu... depan kita," ucap Dani sambil menunjuk wanita itu.
Aku yang berada di depan Dani dan Rian tidak melihat wanita yang mereka katakan cantik itu. Dan aku pun tidak berniat untuk melihatnya, karena bagiku wanita tercantik hanyalah Celine, dan sayangnya dia tidak bisa aku miliki.
"Eh iya, bening. Tau aja sama yang bening-bening," ucap Rian yang sudah melihat wanita cantik yang dimaksud oleh Dani.
"Halah kalian tuh cemen, paling juga gak berani deketin. Beraninya cuma ngomong doang. Omdo kalian," Mina si wanita tomboi di divisi kami mengejek Rian dan Dani.
"Ngece. Memangnya kamu mau ngasih kita apa kalau kita bisa berhasil kenalan sama wanita itu," Dani menanggapi ejekan Mina.
"Ya udah, kita taruhan aja. Siapa yang bisa berhasil kenalan sama wanita itu bakalan kita traktir untuk hari ini. Gimana?" Mina kembali menantang Dani.
"Rian, Dani, terus siapa lagi? Alex gak ikut?" Mina bertanya kembali pada kami.
"Alex pria yang setia sama istrinya meskipun mereka saling berjauhan," ucap Sony, pria beristri yang sudah mempunyai tiga anak.
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka. Karena sebenarnya aku memang tidak berminat sama sekali mengenai wanita. Sudah cukup masalah keluarga yang aku hadapi, dan juga aku tidak bisa menggantikan Celine dengan wanita lain meskipun aku sudah bertemu dengan banyak wanita selama ini.
"Ok deh, untuk pria-pria beristri gak usah ikutan," Mina pun menanggapi ucapan Sony.
Mina memang satu-satunya wanita yang ada di divisi kami, dan dia sangat enjoy bersama kami karena memang dia sangat tomboi, hingga kadang kita lupa jika dia adalah seorang wanita yang belum menikah.
"Yuk buruan, mumpung dia belum pergi dari sini," Dani mengajak Rian untuk mendekati wanita yang berada tidak jauh dari meja kami dan berada di belakangku.
__ADS_1
Dani menarik lengan Rian untuk bersama-sama mendekat ke meja wanita itu. Dan mulailah pandangan kami mengikuti Dani dan Rian yang sedang berjalan menuju meja wanita yang mereka maksudkan.
OMG... mataku terbelalak sempurna ketika aku tahu Celine lah yang menjadi target incaran Dani dan Rian. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Celine di restoran ini yang baru saja dibuka hari ini.
Aku harus bagaimana? Apa aku harus mendekati dan menyapanya? Atau aku pura-pura tidak melihat saja? Hey, ada apa denganmu Alex? Bukannya kamu harus melindungi Celine dari apapun? Dan apa masalahmu hingga kamu menjauhinya? Apa kamu bisa mengikhlaskan Celine jika dekat dengan Dani ataupun Rian? dalam hatiku berperang antara menyuruhku untuk mendekat ke meja Celine dengan keraguanku yang membuatku menjauhinya beberapa hari ini.
Celine memang belum tahu jika aku sudah kembali ke kota ini karena aku belum menghubunginya, dan memang Celine tidak pernah menghubungiku terlebih dahulu selama ini karena dia tidak ingin Diana salah paham terhadapnya.
Kemungkinan besar, Celine masih menganggap Laura belum sembuh dan aku masih berada di sana menemani putriku itu.
Tampak ku lihat Dani dan Rian mulai mengajak Celine dan teman-temannya yang semuanya wanita di meja itu untuk berkenalan.
Bodoh kau Alex! Bagaimana jika Celine tahu jika kamu teman Dani dan Rian yang berada di situ juga saat ini? Apa Celine tidak akan marah jika kamu tidak menyapanya? batinku mulai memberontak.
Tanpa ku sadari, tiba-tiba saja aku berdiri dari dudukku dan berjalan mendekati meja Celine.
"Alex, mau ke mana? Mau ikutan Dani sama Rian? tanya Mina sambil terkekeh.
Aku mengabaikan pertanyaan Mina ketika aku berjalan masih satu langkah dari tempat dudukku.
Dan terdengar di telingaku ucapan Mina seiring dengan langkah kakiku.
"Sok alim kamu Lex. Tadi aja gak mau, sekarang lihat yang bening aja langsung nyamber."
"Cel!" aku memanggil Celine yang sedang duduk dengan tubuh Dani dan Rian yang menutupi kehadiranku.
"Hai Al!" seru Celine dengan wajah sumringahnya ketika menyembulkan kepalanya untuk melihatku yang berada di belakang Dani dan Rian.
__ADS_1