
Aku tertawa dalam hati menertawakan kebodohanku. Bisa-bisanya aku kembali terjebak dengan Reni.
Hahahaha.... bodohnya dirimu Alex bisa kembali terjebak oleh singa betina yang siap menerkammu jika kau tidak menurut.
"Mmm... morning beb," Reni menyapaku dengan senyum puasnya.
Aku tidak menjawabnya, dan meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi.
Bagaimana bisa aku masuk ke dalam apartemenku dengan Reni jika semalam aku tidak sadar? Tapi mengapa aku bisa tidak memakai apa-apa sekarang? Apa yang aku lakukan semalam? Oh My God....
Jalanku gontai dan penuh dengan pikiran. Sehingga pada saat aku masuk ke dalam kamar mandi, aku tidak melihat jika Reni pun mengikuti masuk ke dalam kamar mandi dan dia mengunci pintunya.
Baru kali ini aku merasakan ketakutan dalam keadaan seperti ini, dalam situasi yang hanya berdua dengan lawan jenis dan tidak memakai apa-apa, kami berdua dalam keadaan toples.
__ADS_1
Aku mundur ketika Reni berjalan mendekatiku.
Apa ini? Apakah aku akan dipaksa untuk melakukannya? Bukannya biasanya laki-laki yang melakukan ini? Biasanya laki-laki yang memaksa wanita melakukannya. Tapi ini.... ini kebalikannya, dia memaksaku untuk melakukannya.
Dia seorang wanita dan aku seorang lelaki normal, jadi... salahkah aku jika aku tidak menolak?
Jiwa kelaki-lakianku tidak ingin menolaknya, namun dalam hati kecilku sangat menolaknya. Aku coba berjalan ke arah pintu, namun Reni mencegahku dengan memegang milikku dan memainkannya hingga aku benar-benar ingin melakukannya.
Apakah aku harus bersyukur ataukah aku harus menyesal mendapatkan perlakuan ini dari Reni? Disaat aku jauh dari istri dia selalu ada untuk kita saling memuaskan.
Tapi untuk menikahinya? Tidak, aku tidak akan menikahinya, aku tidak mau mempunyai istri yang egois dan menang sendiri.
Aku memang berniat untuk lepas darinya, tapi jika begini terus, bagaimana aku bisa melepasnya? Dia yang datang secara sukarela untuk memuaskanku.
__ADS_1
Apakah dia akan pergi secara sukarela ketika aku kembali bertugas di jakarta atau kota lain? Akankah dia bisa melepaskanku? Aku tidak yakin, karena satu minggu kemarin saja aku diteror habis-habisan olehnya ketika aku sedang berada di Jakarta bersama keluargaku.
Bayangkan, aku sedang berkumpul dengan anak dan istriku saja dia bisa dengan santainya menerorku untuk cepat kembali ke sini dan menikahinya. Wanita apa dia ini sebenarnya?
Berkali-kali aku mengutuknya, tapi berkali-kali juga aku gagal menjauhinya. Ada apa dengan dia hingga aku dibuat tidak berdaya dengan caranya?
Brengsek, ya benar, aku memang brengsek, laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai anak namun bisa terjerat oleh buaian wanita yang tidak tau diri. Dia tahu jika aku tidak mengharapkannya, tapi seolah dia menulikan pendengarannya dan membutakan matanya sehingga dia pura-pura tidak mengetahui perasaanku yang enggan padanya.
Lihatlah, dia tersenyum puas sudah mengerjaiku di kamar mandi ini dengan berkali-kali aku mengeluarkannya. Ternyata belum cukup baginya, dia masih ingin bermain-main denganku. Dia cukup handal untuk menjadi komando permainan ini, hingga kami berdua sampai pada kepuasan kami.
Aku menertawakan diriku sendiri, seperti seorang pengecut yang menurut pada musuhnya.
"Lex, nikah yuk," Reni mengerlingkan matanya menggodaku.
__ADS_1