Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 80 Sebuah rencana


__ADS_3

Syarat yang ayah Celine ajukan sekarang benar-benar ditawarkan olehnya. Ayah Celine memang tidak ingin lagi memaksa Celine, namun sekarang hanya itu yang bisa menjadi jalan keluarnya menurut ayah Celine.


"Menurut Ayah kamu harus menikah agar kamu ada yang menjaga dan agar omongan orang-orang di luar sana terbukti tidak benar," ucap ayah Celine dengan suara merendah.


"Biarlah mereka berbicara sesuka hati mereka Yah, dan aku akan kembali ke apartemenku agar tidak mendengar lagi omongan mereka tentang aku. Toh Gio juga udah ditahan Yah."


Celine mencoba bernegosiasi dengan ayahnya. Dia tidak ingin mengulangi hal yang sama lagi seperti waktu itu.


"Sebenarnya Ayah sangat berat untuk melepaskanmu hidup sendiri di luar sana. Ayah takut jika masih ada Gio Gio yang lain melakukan itu padamu."


Ayah Celine menghela nafasnya berat membayangkan anaknya seorang diri seperti waktu itu hilang tanpa ada yang tahu selama beberapa hari.


"Tenang aja Yah. Aku gak se spesial itu kok," ucap Celine sambil terkekeh.


"Kamu belum pernah menjadi orang tua, jadi kamu belum tau bagaimana rasanya orang tua mengkhawatirkan anaknya."


Ayah Celine berucap dengan suara yang rendah dan menghela nafasnya dengan berat. Dia benar-benar menyesal pada semua kejadian yang terjadi pada Celine.


Celine diam, dia melihat ayah dan ibunya yang memang sangat mengkhawatirkannya.


"Kalau begitu kamu tetap tinggal di sini aja Cel, biar ayah dan ibumu tidak perlu mengkhawatirkan kamu lagi."


Tiba-tiba aku berceletuk menyuarakan pendapatku. Celine, ayah dan ibunya menoleh bersamaan ke arahku. Mereka memandangku seolah mereka lupa jika aku masih ada di sana.


"Mmm.... maaf. Saya hanya-"


"Kenapa Celine gak menikah dengan kamu saja?"


Ucapan ayah Celine membuatku kaget. Pasalnya aku hanya menyarankan pada Celine agar tetap tinggal di rumah orang tuanya. Dan sekarang ayah Celine malah menyarankan agar aku dan Celine menikah.


"Ayah!" teriak Celine setelah mendengar ayahnya mengucapkan hal yang konyol menurutnya.


"Kenapa Cel? Ibu rasa Alex baik. Dan dia selalu ada saat kamu membutuhkannya."


Ibu Celine mengatakan apa yang ada di pikirannya tanpa mengetahui apapun tentang kehidupan Alex.


"Ibu! Kenapa ibu jadi ikut-ikutan dengan Ayah sih? Malu Bu, masih ada Alex juga di sini."


Celine tidak menentang ucapan ibunya, dia hanya mencoba untuk tidak mempermalukan siapapun.

__ADS_1


"Mumpung Alex ada di sini kan, jadi bisa kita tanya apa dia mau jika menikah denganmu?" ibu Celine kembali berucap.


Apa ini? Apa ini suatu anugerah dari penantianku selama ini? Atau hanya penghiburku di kala sedang stress semata? Jika memang ini benar terjadi, aku pasti setuju tanpa harus berpikir lagi.


Aku berkata dalam hatiku dengan menundukkan kepalaku agar mereka tidka mengetahui raut wajah bahagia dalam diriku.


"Bu, tolonglah. Kita coba cari jalan keluarnya dulu tanpa menyeret orang lain dalam permasalahan ini."


Celine mencoba membujuk ibunya agar tidak membahas kembali tentang pernikahan. Sepertinya dia memang belum terpikir untuk menikah lagi. Tapi entahlah, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.


"Maaf ya Al," ucap Celine padaku dengan memperlihatkan wajah sungkannya.


"Gapapa Cel," ucapku dengan senyum yang entahlah bisa diartikan apa oleh Celine, serta ayah dan ibunya.


"Kalau begitu saya mau undur diri saja," ucapku kembali.


"Loh kenapa? Kita akan makan malam loh. Ikut sekalian aja yuk."


Ibu Celine berkata untuk mencegahku pulang sehingga ayah Celine pun segera beranjak dari duduknya untuk menuju ke meja makan.


Aku tahu ini berarti aku tidak bisa pulang sekarang. Bagaimanapun aku harus menuruti permintaan mereka untuk tetap tinggal saat ini dan pulang setelah makan malam berakhir, untuk menghargai keinginan mereka.


Setelah makan malam, aku meminta ijin untuk pulang. Tentu saja Celine mengantarku sampai di depan mobilku. Sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Dia terlihat tidak seperti Celine yang biasanya.


"Maaf ya Al jadi membawa-bawa kamu dalam situasi seperti ini," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Gapapa Cel, aku gak keberatan kok," ucapku tanpa berpikir.


"Hah? Maksudnya Al?"


Celine kaget mendengar ucapanku dan dia bertanya padaku.


Ahhh... mulut sialan ini, kenapa harus keceplosan sih? batinku memprotes.


"Eh enggak Cel. Maksudku gapapa, mereka kan gak tau kalau kita udah bersahabat lama."


Aku mencoba mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan pada Celine. Semoga aja dia percaya dengan apa yang aku bicarakan.


"Aku hanya gak mau persahabatan kita nantinya akan hancur jika misalnya kita menjadi pasangan. Dan aku tidak ingin kehilangan kamu sebagai sosok sahabatku Al."

__ADS_1


Celine mengatakannya dengan senyumnya seolah dia tahu apa yang ada dalam pikiranku.


"Aku tau Cel. Tenang aja. Kamu jangan terlalu memikirkannya."


Ucapanku ini sangat menyakitkan hatiku, namun aku tidak mau jika melihat Celine sedih, apalagi dia menangis seperti waktu itu. Sungguh sangat teriris hatiku.


Dia kini tersenyum padaku seperti biasanya. Ada rasa lega dalam hatiku yang membuat diriku tidak lagi mengkhawatirkannya.


"Ini pacar kamu ya Celine?"


Salah seorang tetangga bertanya pada Celine pada saat berjalan dengan beberapa orang sepulang dari pengajian.


"Eh, bukan Bu. Ini teman saya," jawab Celine dengan senyum ramahnya.


"Teman? Owalah kita kirain pacar kamu."


Ibu-ibu yang lain menyahuti dan kemudian mereka berjalan kembali melewati kami.


"Bener kan Bu, mana ada yang mau sama dia? Udah janda, korban pelecehan seksual juga. Itu tadi aja cuma ngaku jadi teman."


"Iya ya, kasihan. Palingan juga temannya itu tadi gak mau sama dia gara-gara jadi korban pelecehan seksual."


"Laki mana ada yang mau kalau perempuannya korban dari pelecehan, apalagi pelecehan seksual."


"Bener juga ya..Kasihan loh Bu, mama masih muda, cantik lagi."


Seiring para tetangga Celine berjalan, pembicaraan mereka terdengar dengan jelas di indera pendengaran kami.


Celine? Tentu saja dia diam dengan wajah yang sedih dan matanya terlihat jelas berkaca-kaca, mungkin hanya satu kali kedip saja air matanya sudah menetes.


"Cel, kamu gapapa?"


Pertanyaan bodoh yang aku ajukan untuknya ini tidak membantu untuk menenangkannya sama sekali.


Celine hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaanku. Dan aku masih memandangnya. Baru saja rasa khawatirku hilang padanya. Tapi kini, aku merasa khawatir sekali padanya.


"Cel, sabar ya. Kita memang tidak bisa membungkam satu persatu mulut mereka. Tapi kita bisa membuktikannya pada mereka apa yang mereka katakan itu tidak benar."


"Aku tau Al. Jujur, sekarang aku bingung Al. Gosip yang sekarang lebih berat buatku Al." ucap Celine dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


"Lalu, apa rencanamu?"


__ADS_2