
"Kamu memang teman terbaikku Al. Sepertinya aku bisa mengandalkanmu," ucapnya sambil tertawa kecil di sela kegiatan makannya.
"Sahabat Cel. Sa-ha-bat dekat. Kita bukan hanya sekedar teman biasa saja. Karena kamu sudah tau banyak tentang aku, dan aku juga tau banyak tentang kamu," aku mengoreksi jawaban Celine.
Celine tersenyum, dan keadaan hening sementara ketika kami menikmati hidangan yang telah disediakan di meja kami. Hanya senyuman yang kami lempar pada orang yang ada di depan kami, tanpa pembicaraan seperti tadi.
Entahlah, sepertinya Celine ingin menikmati makanannya. Dan aku pun ingin menikmati malam ini, makan malam dengan orang spesial yang tidak bisa aku miliki.
"Kita pulang yuk Al, udah larut," ucapnya dengan senyum yang menurutku aneh, tidak seperti senyum manis yang diberikannya padaku.
Aku pun menurut karena memang malam sudah larut. Aku tidak ingin membuat nama Celine menjadi buruk karena pulang larut malam.
Di dalam mobil, Celine hanya terdiam dan menjawab seperlunya saja ketika aku bertanya padanya. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu atau mungkin memang dia sedang banyak pikiran.
Mobil ku hentikan di tempat sesuai arahan Celine. Ternyata kini dia tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari apartemenku.
"Kamu tinggal di apartemen ini Cel?" tanyaku padanya ketika mobil ku hentikan di depan sebuah apartemen.
"Iya Al. Aku gak ingin dengar cuitan para tetangga," jawabnya dengan terkekeh.
Aku menatapnya tanpa mengatakan apapun sehingga membuat Celine salah tingkah. Bukan niatku untuk menggodanya, aku hanya ingin mengetahui perasaannya saat ini, karena jujur saja sepertinya ada yang aneh dengan senyumnya. Dan juga dia tidak seceria biasanya. Celine yang ku kenal tidak seperti ini.
"Cel, kamu bisa janji padaku kan?" tanyaku sebelum Celine keluar dari mobilku.
"Janji apa Al?" tanyanya dengan memperlihatkan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Yang tadi," ucapku tanpa menjelaskannya.
Celine mengkerutkan dahinya. Sepertinya dia tidak ingat. Aku jadi kesal karena dia hanya menganggapnya sebagai obrolan dan basa-basi belaka.
"Janji untuk bersandar padaku jika kamu dalam masalah atau kesulitan. Bahkan dalam keadaan apapun aku juga mau kok," candaku agar dia mau tertawa atau tersenyum kembali.
"Al... Al... kamu udah punya istri Al. Kamu udah punya keluargamu sendiri. Jadi mana bisa aku mengandalkanmu. Jika memang bisa, aku yang merasa gak enak sama istrimu Al," ucapnya dengan menatapku dengan tatapan hampa.
Aku mengerti sekarang, Celine merasa sendirian, dia merasa kosong, hidupnya pasti terasa hampa. Seandainya aku bisa benar-benar menjadi sandaran hidupnya, pasti aku merasa sangat beruntung sekali. Sayangnya itu tidak mungkin. Atau mungkin takdir berkata lain? Entahlah, untuk sekarang ini aku hanya ingin Celine merasa bahagia.
Aku hanya diam tanpa bisa menjawab sepatah katapun karena memang benar jika Celine akan benar-benar seperti wanita penggoda jika dia bersandar padaku.
Ah... ternyata aku hanya memikirkan diriku saja, aku tidak memikirkan dari sudut Celine. Betapa bodohnya aku. Aku benar-benar merutuki kebodohan diriku sendiri dalam hatiku.
Dengan berat hati aku mengangguk karena tidak punya solusi untuk masalah ini. Aku serba salah dan posisiku sangat sulit. Kini aku hanya bisa mengawasinya saja dan melindunginya tanpa sepengetahuannya. Karena bisa dipastikan dia akan menolaknya, dia tidak ingin menyulitkan orang lain yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Terlebih karena aku bukan suaminya, aku suami dari wanita lain yang tidak seharusnya melindungi dan menjaganya.
Ku lajukan mobilku dengan perlahan. Entah mengapa hatiku sangat sakit ketika melihat Celine bersedih, terlebih lagi pada saat aku melihat air matanya, terasa sakit sekali hatiku. Berbeda dengan apa yang kurasakan ketika melihat Diana menangis, aku merasa bersalah padanya, hanya itu saja yang ku rasakan.
Oh God... ada apa denganku? Kenapa aku harus merasakan ini? Kenapa kehidupan percintaanku harus serumit ini? Aku sungguh ingin berubah, aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak-anakku. Dan aku juga ingin menjadi sahabat terbaik untuk Celine, karena dialah aku menjadi sadar dan lebih baik sekarang ini, aku berbicara dalam hati dengan memukul setirku sesekali untuk melampiaskan kekesalanku.
Sepintas aku menjadi ingat, apa yang dikatakan oleh Celine ketika aku mengeluh. Aku merasa hidupku rumit dan sulit buatku. Namun Celine mengatakan bahwa yang ku rasakan sekarang ini merupakan hasil dari perbuatanku sendiri dan itu memang benar, aku mengakuinya. Lalu bagaimana dengan Celine? Dia wanita yang baik, tapi mengapa dia harus merasakan sakit seperti ini? Aku rasa ini tidak adil baginya.
Tak terasa lamunanku mengantarkanku hingga tiba di apartemen yang ku tinggali. Aku tidak pernah membeli apartemen ketika bekerja di luar kota karena memang tidak akan aku pergunakan lagi nantinya. Semua ini hanya fasilitas untuk hidupku yang tinggal di luar kota.
Keesokan harinya, aku ingin tahu kabar dari Celine. Aku ingin menghiburnya meskipun hanya dengan candaan recehku.
__ADS_1
Kami sepakat untuk makan siang bersama, dan tentunya karena aku yang memaksanya. Aku ingin bertemu sekaligus mencari tahu kabar sebenarnya dari dirinya. Karena bukannya aku tidak percaya padanya, hanya saja jika bertanya lewat pesan ataupun telepon pasti dia bisa berbohong bukan?
Siang ini aku jemput dia di depan kantornya yang dulu pernah menjadi kenangan manis buatku, namun sekaligus kenangan pahit karena sejak pertama kali aku menjemputnya, aku mengetahui bahwa aku tidak akan bisa memilikinya, dan sialnya dia menerima cintaku pada saat aku tidak sadar mengatakannya, karena aku lupa akan rencanaku untuk menikahi Diana.
Sungguh kebodohan yang tersemat indah dalam hatiku. Bukan karena kebodohanku, tapi karena pengakuan cintaku diterima oleh Celine. Dan pasti semuanya tahu jika aku sangat bahagia saat itu. Ah... rasanya aku tidak mau melupakan saat-saat itu, saat-saat terbaik dalam hidupku.
"Hai Al, udah lama nunggunya?" tanyanya ketika sudah berjalan mendekatiku.
"Untuk sahabat wanita terbaikku gak akan ada kata lama untuk menunggu," jawabku dengan terkekeh sehingga membuat Celine ikut terkekeh.
"Kita makan di mana Al?" tanyanya ketika memakai sabuk pengamannya.
"Bagaimana jika kita ke restoran jepang favoritmu," jawabku dengan mengemudikan mobilku.
"Gak perlu menurutiku Al, sekali-sekali kita makan makanan favoritmu," ucapnya.
Sungguh aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Diana, karena Diana selalu meminta agar sesuai dengan keinginannya. Dan hanya dengan perlakuan Celine yang sederhana seperti ini saja aku sangat bahagia, aku merasa dihargai olehnya.
Tapi aku tetap mengarahkan mobilku menuju restoran Jepang favorit Celine. Sesampainya kami di sana, kami pun segera memesan makanan kami. Di sela kami menikmati makanan kami selalu ada candaan yang membuat kami tertawa. Makan siang yang sangat membahagiakan bukan?
"Wah... wah... wah... ketemu pasangan selingkuh nih," tiba-tiba ada suara yang mendekati meja kami.
Kami menoleh ke arah sumber suara, dan mataku membelalak sempurna melihat siapa yang mendekati kami.
Oh God... apalagi ini?
__ADS_1