
"Yuk Al masuk," ucapnya sambil berjalan mendahuluiku.
Aku mengikutinya masuk ke dalam apartemennya dengan ragu-ragu.
"Masuk Al... kenapa masih ada di situ?" tanyanya padaku ketika dia melihat aku masih berada di tengah-tengah pintu masuk.
"Mmm... apa gapapa Cel aku masuk ke dalam sini?" tanyaku dengan ragu-ragu.
"Memangnya kenapa Al, ada masalah?" tanyanya dengan memperlihatkan wajah bingungnya.
"Aku kan laki-laki normal Cel, apa kamu gak takut menyuruhku masuk ke dalam apartemenmu?" aku menjelaskan keragu-raguanku ketika akan masuk ke dalam apartemen Celine.
Bukannya Celine marah ataupun memikirkan apa yang aku ucapkan barusan. Dia malah tertawa mendengar apa yang aku barusan ucapkan padanya.
"Al.... Al... aku tau jika kamu tidak akan berbuat macam-macam padaku. Bener kan?" ucapnya sambil terkekeh.
Aku memang tidak pernah memikirkan untuk berbuat lebih pada Celine meskipun aku sangat mencintainya. Aku hanya ingin melindunginya, melindungi jiwanya, melindungi badannya, melindungi harga dirinya serta melindungi kehormatannya.
Ah... aku jadi kesal ketika ingat jika kehormatannya telah direnggut oleh Gio yang sudah menjadi suaminya waktu itu. Seandainya saja aku yang memilikinya....
Tapi itu bukan masalah bagiku. Aku tidak akan mempermasalahkannya karena aku bukan suaminya, yang menjadi tugasku sekarang adalah melindunginya sebagai seorang sahabat dekat.
Gio, laki-laki sialan itu selalu saja membuatku kesal dan emosi. Namanya sudah terekam dengan sangat jelas di otakku. Berani-beraninya dia melukai hati dan pikiran Celine yang sangat aku jaga sejak dulu.
"Masuklah Al....," ucap Celine sambil berjalan mendekatiku dan menarik tanganku untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Cel, kamu gak akan memaksaku untuk berbuat itu kan?" aku mengeluarkan candaanku padanya.
Seketika Celine menghentikan langkahnya dan menoleh padaku yang berada di belakangnya.
"Kamu ini ada-ada aja Al," jawab Celine dengan terkekeh.
"Masuk gak nih? Kalau gak masuk juga gapapa sih," ucapnya sambil kembali terkekeh.
Ada keraguan dalam hati untuk masuk ke dalam apartemennya karena aku tidak mau jika Celine dikatakan yang tidak-tidak oleh orang lain. Tapi entah kenapa kakiku bergerak sendiri untuk melangkah masuk ke dalam apartemen ini.
__ADS_1
Cantik! Secantik pemiliknya. Dekorasi dan penataannya sangat cantik. Mataku berkelana melihat seisi apartemen ini. Memang ini bukan yang pertama kali aku masuk ke tempat ini, tapi waktu itu aku tidak memperhatikan sedetail ini karena aku terlalu fokus dengan pertemuan kembaliku bersama dengan Celine.
"Al, apa kamu bertengkar dengan mereka?" tiba-tiba suara merdu Celine menghentikan kegiatanku untuk memperhatikan seisi ruangan ini.
"Aku yang segera pergi dari cafe itu. Aku malas melihat mereka," jawabku sambil duduk di sofa ruang tamunya.
"Orange juice kan?" ucapnya sambil meletakkan dua gelas orange juice di meja yang ada di hadapan kami.
Aku tersenyum mengambil gelasku yang berisi orange juice tersebut dan berkata,
"Kamu tau persis kesukaanku Cel."
"Kan kita berteman udah lama Al, jadi udah pasti aku tau lah kesukaanmu apa," ucapnya sambil tersenyum dan juga meraih gelasnya dari atas meja.
"Ada yang tidak kamu ketahui Cel," ucapku tanpa sadar.
Celine tampak berpikir dan mengernyitkan dahinya hingga beberapa detik, kemudian dia berkata,
"Apa itu Al?"
God... demi Tuhan aku mengatakannya. Aku mencaci diriku sendiri dalam hati.
Mulut kurang ajar! Kenapa bisa sampai keceplosan ngomong seperti itu? Bagaimana ini jika Celine marah padaku?
Aku tidak berani menatap wajah Celine. Aku takut dia akan marah padaku karena ucapanku itu. Karena dia bukan wanita bodoh yang tidak mengetahui perasaanku padanya selama ini.
Come on Alex, kamu sudah pernah menyatakan perasaanmu dulu beberapa hari sebelum hari pernikahanmu dengan Diana, aku berteriak dalam hati untuk menyadarkan diriku sendiri.
Lama sekali tidak aku dengar jawaban dari Celine. Dengan terpaksa aku yang sebelumnya menundukkan kepalaku, kini aku beranikan diriku untuk memandang wajahnya.
Mataku sedikit terbelalak karena kini aku melihat Celine yang tersenyum manis padaku.
Dia tidak marah, dia tersenyum padaku, hatiku bersorak merayakannya.
"Kamu kenapa Al?" tanyanya sambil terkekeh.
__ADS_1
"E-enggak Cel," jawabku dengan kikuk.
Tiba-tiba saja ponselku berdering mengagetkanku yang sedang kikuk di hadapan Celine.
"Bentar Cel, aku angkat dulu telponnya," ucapku sambil memperlihatkan ponselku yang aku ambil dari saku celanaku.
Celine menganggukkan kepalanya mengijinkanku untuk menerima teleponku dan aku segera beranjak berjalan menuju ruang lain untuk menerima panggilan teleponku yang ternyata telepon itu dari Diana, istriku yang berada di ibu kota.
"Diana Cel," ucapku setelah aku selesai menerima teleponku dan kembali duduk di sofa tadi yang sebelumnya aku tempati.
"Dia istrimu Al, kamu gak perlu minta ijin aku untuk menerima teleponnya. Dan juga kamu gak perlu laporan padaku siapa yang tadi menelepon kamu," ucapnya sambil tersenyum dan meminum orange juice buatannya.
Aku terperangah, ternyata Celine bukan hanya baik, dia juga dewasa. Bahkan lebih dewasa daripada Diana yang notabene nya adalah seorang ibu dengan dua orang anak.
Ternyata kedewasaan seseorang tidak bisa dipandang karena umur dan juga statusnya. Kini aku percaya jika pilihan hatiku memang benar. Tapi apa daya, aku tidak bisa menggapainya. Aku sudah memiliki seorang istri dan dua orang anak. Dan aku hanya bisa menjadi sahabat dekat Celine saja.
Mungkin ini sudah jalan takdir yang membuatku seperti ini. Hahaha.... aku benar-benar tertawa jika membicarakan tentang takdir.
Jika membicarakan tentang takdir, berarti mengingatkanku akan kebodohanku selama ini. Kebodohanku dalam memilih pasangan hidup, kebodohanku yang bisa dengan gampangnya terjebak dalam permainan seorang Reni Wijaya dan kebodohanku yang bisa mengikuti permainan dari Reni sehingga nasib rumah tanggaku menjadi seperti ini sekarang.
"Aku tau Cel, aku hanya memberitahumu saja bukannya aku laporan padamu. Karena kamu bukan bosku. Anda terlalu percaya diri nona," ucapku sambil terkekeh dan aku kemabli terpesona dengan tawa Celine yang sangat membuatku tidak bisa berkedip ketika melihatnya.
Ah, apakah ini yang dikatakan cinta? Sangat indah sekali. Hingga setiap harinya aku merasa cintaku padanya semakin tumbuh, semakin berkembang dan bertambah sulit untuk ke enyahkan.
Oh God.... tolonglah aku... bantu aku agar bisa mengatasi rasa ini. Aku tidak mau jauh darinya, tapi aku juga tidak mau dia marah karena aku meninggalkan keluargaku, apalagi jika alasannya karena rasaku padanya.
"Cel, aku harus pulang. Laura sakit, tadi pagi dia masuk rumah sakit," raut mukaku kembali serius ketika aku teringat tentang Laura, anak perempuanku yang masih baru berumur sekitar dua tahun.
"Sa-sakit? Sakit apa Al? Cepatlah pulang Al, kasihan anak-anak pasti sangat membutuhkan kedua orang tuanya. Dan pastinya istrimu juga sangat membutuhkan kehadiranmu saat ini. Pulanglah, aku doakan daei sini agar anakmu cepat sembuh dan bisa segera pulang ke rumah lagi berkumpul dengan kalian," ucap Celine yang nampak panik dan cemas ketika mengetahui Laura sedang sakit dan berada di rumah sakit saat ini.
"Baiklah Cel, aku pulang dulu. Selalu waspada dan berhati-hati ya, karena dia tidak akan melepaskanmu begitu saja," ucapku sebelum aku melangkah dari pintu apartemennya.
"Ma-maksud kamu....," ucapan Celine menggantung karena ragu.
"Nanti Cel pasti akan aku jelaskan padamu," ucapku yang kemudian aku berjalan cepat untuk menuju bandara.
__ADS_1
Sialnya aku yang karena terburu-buru tidak memperhatikan sekitarku. Ada yang mengintai kami. Entahlah, siapa yang dia intai, dia mengintaiku atau mengintai Celine?