
Acara makan malam kami seperti biasanya, sangat seru dengan obrolan yang selalu nyambung diantara kami.
Ternyata Dani dan Sari sudah resmi berpacaran semenjak beberapa minggu yang lalu. Sedangkan Rian dan Levi lebih dulu berpacaran daripada mereka.
Kini mereka berpasang-pasangan dengan pasangannya masing-masing ketika acara makan kami sudah selesai.
Dan sekarang aku yang biasanya menyukai momen berdua dengan Celine, kini merasa gugup dan takut. Bukan karena apa-apa, tapi aku takut jika Celine mengetahui masalahku. Terutama tentang perceraianku.
Bisa aku tebak jika Celine pasti akan marah-marah padaku karena aku yang sudah memiliki dua orang anak malah memutuskan untuk bercerai.
"Sekarang apa bisa kamu ceritakan padaku Al?" tanya Celine padaku yang kini sudah duduk di depanku.
Aku menatapnya, ingin sekali aku mengatakan semuanya, namun rasa takut itu kembali menghentikanku untuk mengatakan padanya.
"Al! Apa kamu hak mau cerita padaku?" tanya Celine kembali padaku.
Dia diam menunggu jawabanku selama beberapa menit. Kemudian dia berdiri dan akan beranjak pergi karena tidak mendengar jawaban dariku.
"Aku bercerai!" dua kata ini tanpa sadar keluar dari mulutku menghentikan Celine yang akan melangkah pergi dari tempat duduknya.
Seketika Celine berhenti dan kembali berbalik ke arahku. Tatapannya mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan.
"Diana yang meminta bercerai, bukan aku."
"Tapi Al kamu-"
"Sudah berkali-kali dia meminta bercerai dariku. Dan untuk kali ini aku sudah tidak bisa menghentikannya," aku menghentikan ucapan Celine.
"Iya tapi kan Al-"
"Dia sudah keterlaluan Cel. Dan asal kamu tau aja, dia yang meminta bercerai dan dia juga yang mengajukan banyak syarat padaku," kembali ku hentikan perkataan Celine untuk menyambung penjelasanku.
Celine menghela nafasnya dan menatapku dengan intens. Aku tahu sebenarnya dia tidak menyetujui perceraianku dengan Diana. Dan aku tahu dia juga akan memarahiku tapi sepertinya dia ragu.
Ku lihat ada tatapan iba untukku di mata Celine, namun dari raut wajahnya sepertinya dia tidak suka dengan keputusanku dan juga dia merasa kasihan padaku.
Kemudian aku ceritakan padanya semuanya. Aku tidak akan lagi menutup-nutupinya dari Celine karena bisa dipastikan jika aku yang akan di salahkan olehnya.
"Lalu kedua anak-anakmu bagaimana?" tanyanya padaku.
"Sesuai dengan perjanjian kami yang tadi aku katakan padamu. Mereka ada pada Diana dan aku bisa bertemu atau menghubunginya kapan saja," jawabku dengan suara lirih.
"Aku tau Al, tapi apa kamu tidak akan membawa anakmu bersamamu untuk beberapa hari? Kalian bisa melampiaskan rindu kalian dalam beberapa hari."
__ADS_1
Aku rasa ide dari Celine boleh juga. Dia memang paling bisa membuatku tenang.
"Sebenarnya tadi sudah aku coba untuk menghubunginya. Aku ingin sekali berbicara dan bertatap muka dengan Dave. Namun sudah berkali-kali aku menghubunginya, tetap saja dia tidak mengangkat teleponku.
"Mungkin lagi sibuk Al. Mendingan besok aja kamu hubungi dia kembali sebelum Dave bersekolah."
Ku anggukan kepalaku menyetujui ide dari Celine. Ada rasa lega melihat dia tidak memarahiku. Namun rasanya tetap aneh ketika aku memandangnya. Sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi apa itu?
Pembicaraan kami terhenti, mereka semua mengajak kami untuk meninggalkan tempat ini.
"Cel, kamu bawa mobil?" tanyaku pada Celine ketika kami berjalan menuju parkiran.
"Bawa kok Al. Aku tadi kan berangkat sendiri," jawabnya dengan senyum yang sangat tipis.
Sepertinya benar-benar ada yang aneh dari dirinya. Aku ragu, apakah aku harus bertanya padanya?
"Cel, aku mau tanya."
"Besok aja Al. Aku harus pulang sekarang," ucapan Celine ini membuatku bertambah heran dan kecurigaanku padanya semakin bertambah.
"Ada apa sebenarnya Cel?" tanyaku padanya karena rasa penasaranku yang semakin besar.
"Besok aja ya Al. Aku lelah," Celine mengulangi penolakannya untuk menjawab pertanyaanku.
Ucapku dengan tegas tanpa ingin dibantah. Aku melihat dia akan memprotesku kembali. Mulutnya sudah akan terbuka, namun segera aku sahut kembali dengan penjelasanku
"Aku akan melindungimu dari belakang mobil milikmu. Kamu gak usah khawatir Cel," ucapku kemudian.
Celine menghela nafasnya, dia tidak menyangka jika aku nekat meskipun sudah dilarangnya.
Aku menatapnya untuk memberitahukan bahwa aku tidak menerima penolakan. Dan Diana pun sepertinya mengerti, dia menganggukkan kepalanya setelah lama dia menatapku dalam diam.
Mobil Celine berjalan dengan kecepatan biasa dan aku mengikutinya di belakangnya. Sederet pertanyaan pun tersusun indah di otakku. Sebenarnya ada apa dengan Celine?
Ku antarkan dia hanya sampai depan apartemennya dengan mobil kami yang beriringan.
Tin! Tin!
Ku bunyikan klaksonku untuk berpamitan pada Celine. Dan Celine pun mengangguk padaku. Tidak ada kata perpisahan yang keluar dari mulutnya.
Lambaian tangannya hanya bisa aku lihat dari kaca spion mobilku, dan setelah itu wajah murungnya pun kembali lagi.
Sampai rumah pun aku masih terpikirkan tentang Celine. Ada apa sebenarnya dengan dia? Kenapa sejak mengetahui perceraianku dia menjadi seperti itu?
__ADS_1
Dan juga kenapa Diana tidak mengangkat teleponku? Apa dia sengaja menghindariku?
Semua pikiranku tentang mereka tiba-tiba saja datang seiring dengan bertambahnya malam.
Besok, besok pasti akan ku selesaikan semua pertanyaan-pertanyaan ini. Akan ku cari tahu semuanya agar hati dan perasaanku menjadi tenang.
Suara alarm membangunkan aku dari tidurku. Memang semalam aku sangat susah sekali tidur, mungkin karena terpikirkan oleh hal-hal yang tidak penting bagi orang lain, namun bagiku sangat penting.
Segera ku raih ponselku dan ku hubungi nomer Diana.
Sial! Sudah lebih dari sepuluh kali aku menghubunginya tapi masih saja panggilan teleponku tidak diangkatnya.
Halo, suara dari seberang sana menyapaku.
"Pagi Ma. Apa Alex bisa meminta tolong pada Mama?" tanyaku pada Mamaku dengan ragu.
Katakan saja Lex, ada apa? Apa ada yang mengganggumu? Atau kamu sedang dalam kesulitan? ucap Mamaku yang kudengar dari suaranya, pasti dia sangat khawatir.
"Alex baik-baik saja Ma. Hanya saja Alex ingin meminta tolong pada Mama. Apa Mama tidak keberatan?" ucapku ragu-ragu.
Katakan ada apa Lex, Mama pasti akan membantumu, ucapan Mamaku membuatku merasakan jika aku tidak sendirian meskipun aku sudah dewasa.
"Ma, apa Mama bisa menengok Dave dan Laura?"
Apa mereka sakit Dave? Mamaku bertanya dengan suara yang aku tahu mungkin dia sekarang sudah sangat cemas.
"Alex tidak tau Ma. Dari semalam Alex menghubungi ponsel Diana, namun dia tidak mengangkatnya dan itupun sudah berkali-kali Ma."
Sekarang apa tidak kamu coba lagi Lex?
"Sudah Ma, tapi sama saja hasilnya, nihil," jawabku lemah.
Baiklah, nanti Mama akan coba datang ke rumahmu dan mencari tahu keadaan Dave dan Laura.
"Terima kasih Ma. Alex sungguh sangat beruntung mempunyai orang tua seperti Mama."
Yang penting kamu di sana baik-baik saja Lex. Dan jangan mengulangi kesalahanmu itu meskipun kamu blm memiliki istri lagi.
"Siap Mamaku sayang....," ucapku dengan manja untuk menyenangkan hatinya.
Alex, apa Dave dan Laura sebaiknya kita perjuangkan saja?
"Apa perlu Ma?" tanyaku padanya dan Mamaku memberikan jawaban penyemangat untukku.
__ADS_1