
Satu-satunya kebahagiaanku sekarang adalah Dave, putra kecilku yang bisa mengalihkan kesedihanku. Dia peri kecilku dan penyemangatku.
Malam ini terasa menyiksa bagiku. Setelah pergulatan panasku dengan Diana, kini Diana telah tertidur dengan pulasnya, bahkan terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.
Sedangkan aku? Aku tidak bisa tidur karena mengingat Celine akan menikah lusa dengan pria bangsat itu.
Ingin aku segera bertemu dengannya sekarang dan bertanya padanya.
Kenapa bukan aku? Dia dan aku sama-sama pendosa, kami sama-sama berselingkuh, tapi kenapa bukan aku saja yang menikah denganmu Celine....
Ingin sekali aku katakan seperti itu padanya. Aku ingin menjadi pendampingnya dan aku ingin memilikinya. Tapi bagaimana caranya?
Tik... tok... tik... tok...
Suara jarum jam yang berdetak di kesunyian malam seolah menjadi lagu dalam menemaniku berpikir untuk menggagalkan pernikahan Celine.
Aku yakin dia tidak rela menikah dengan pria itu. Dan aku yakin Celine akan bahagia bila bersamaku. Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang?
__ADS_1
Berpikir pun aku tak bisa, apalagi membatalkan pernikahan Celine? Akankah dia mau bersamaku jika pernikahannya sudah gagal?
Ku ambil ponselku dari atas nakas. Aku melihat foto profil Celine yang begitu cantik dan anggun. Anehnya dengan melihat fotonya saja aku bisa merasakan jiwa kelaki-lakianku menjerit menginginkannya. Ada apa dengan wanita ini? Apakah secinta itu aku padanya sehingga membuatku hampir gila senyum-senyum sendiri hanya dengan melihat fotonya saja?
Dan ada sesuatu yang kulewatkan ternyata. Pesan Reni kini menumpuk banyak belum aku buka. Sialnya, jari tanganku terpeleset membuka pesannya. Dan....
Ya, sekarang dia menghubungiku. Sudah lima hari aku berada di sini, dan itu artinya dia sudah tidak bertemu denganku selama lima hari.
Pesannya pun tidak aku baca selama empat hari sejak kejadian hari pertama yang menciptakan permasalahan antara aku dan Diana waktu itu. Teleponnya pun ada Seratus empat puluh tiga yang aku lewatkan.
Gila bukan? Iya, memang dia wanita yang gila. Dan gilanya lagi, akulah tempat bersandarnya jika dia kelelahan dalam bekerja. Pasti semua sudah tau obat dari kelelahan bekerja apa. Ya itu dia yang selalu dia harapkan. Mungkin lima hari ini dia stress karena tidak ada tempat untuk menyalurkan kegelisahannya itu.
[ Aku belum bisa balik ke sana karena di sini masih sangat membutuhkan kehadiranku ]
[ Lalu bagaimana denganku Lex? Aku juga sangat membutuhkanmu ]
[ Tapi mereka keluargaku Ren. Aku harus berada di sini sampai semua selesai ]
__ADS_1
[ Alasan kamu Lex. Apa perlu aku menyusulmu ke sana? ]
[ Kamu gila? Jangan bercanda kamu Ren ]
[ Ya aku sudah gila karena kamu. Dan kamu harus pulang besok agar aku tidak gila ]
[ Aku tidak bisa Ren, aku mohon mengertilah. Mungkin kurang dua hari lagi aku akan balik ke sana ]
[ Baiklah. Begitu kamu kembali ke sini kita langsung menikah ]
What???
Ku jambak rambutku frustasi. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Aku sangat... sangat... sangat bingung sekali.
God... bagaimana ini? Apa aku harus menikah dengannya? Aku tidak mau menikah dengannya. Aku harus bagaimana Tuhan...
Ayolah berpikir Alex, kamu harus bisa. Bagaimanapun kamu harus bisa menolak pernikahan itu. Kamu harus bisa menjauh darinya. Ya, menjauh.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Apa ada masalah? Kenapa sepertinya kamu bingung begitu? Apa ada masalah di kantor?" suara Diana mengagetkanku dari lamunanku dan menghentikan langkahku yang berbolak-balik tak pasti di dalam kamar.