Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 64 Wanita baik untuk pria baik


__ADS_3

"Masalah pasangan hidup mungkin tidak akan bisa kita rubah, tapi masih kita bisa usahakan untuk tetap bersamanya. Jadi Al...," Celine menggantung ucapannya, mungkin dia sungkan akan menceramahi ku kembali.


"Aku tau Cel, dan aku akan berusaha. Jadi, jangan mengatakan jika aku tidak menginginkannya lagi Cel. Aku pria normal yang juga butuh menyalurkan rasa itu, tapi demi keutuhan rumah tanggaku dengan Diana, kamu tau kan aku mengalah tidak melakukannya selama setahunan, dan akhirnya keadaanku yamg seperti ini dia malah marah-marah tidak jelas sekarang ini, dan anehnya dia semakin menjadi," ku ucapkan semua keluh kesahku tentang Diana pada Celine.


Aku menjeda ucapanku sebentar untuk mengambil nafas, kemudian ku sambung kembali ucapanku tadi.


"Sesungguhnya aku sudah lelah Cel. Aku diperlakukan Diana tidak seperti seorang suami. Aku diperlakukan hanya seperti budak yang selalu harus menuruti semua kemauannya. Sepertinya aku bukan lagi sebagai kepala rumah tangga dan kepala rumah tangga sudah beralih padanya. Kadang rasanya aku ingin menyerah dan meninggalkannya sesuai dengan permintaannya," keluh ku kembali pada Celine.


"Kalian akan bercerai Al?" tanya Celine padaku.


"Andai bisa Cel pasti akan aku lakukan," jawabku.


"Tapi Al kamu ha-"


"Tapi sayangnya gak bisa Cel. Dave dan Laura, mereka adalah alasan utamaku untuk bertahan dalam rumah tanggaku yang semakin lama aku gak tau akan mengarah ke mana. Aku pikir Diana gak akan berubah seperti itu, ternyata lingkungan dan teman bisa membawa perubahan baginya," ucapku kembali menyela perkataan Celine yang sepertinya akan kembali menyuruhku untuk tetap bertahan dan berusaha merubah istriku yang kini sudah berubah drastis.


"Aku hanya bisa memberimu saran dan memberimu support aja Al. Semoga aja istrimu akan kembali seperti dulu," ucapnya dengan senyum yang menenangkan hatiku.


"Terima kasih Cel," ucapku dan membalas senyumannya.


"Kita akan ke mana Cel?" tanyaku padanya.


"Emmm... pulang aja yuk Al. Rasanya aku gerah, pengen cepat bersih-bersih badan dan ganti baju," jawabnya.


"Ok, baiklah," ucapku.


Ku perhatikan mobil di belakangku melalui kaca spion yang berada di tengah. Ku lihat mobil itu bergerak mengikuti mobil kami.


Sebenarnya aku tidak mau sok terlalu percaya diri dengan firasatku, namun ketika mobilku aku belokkan, mobil itupun ikut ke mana arah mobilku berjalan seolah tidak mau kehilangan jejak mobil kami.


"Ada apa Al? Kenapa kamu panik gitu?" Celine bertanya padaku dengan bingung.


"Cel, aku rasa kamu jangan pulang dulu. Menurutku kita harus ke tempat yang banyak orang," jawabku sambil berkonsentrasi pada jalan dan mobil yang membuntuti kami.


"Kenapa Al? Ada apa sebenarnya Al?" tanya Celine kembali yang masih saja bingung dengan situasi ini.


"Ada mobil yang mengikuti kita sedari tadi Cel. Aku belum bisa pastikan siapa dia," jawabku yang masih berkonsentrasi mengemudi dan mencari cara untuk bisa lolos dari mobil tersebut.

__ADS_1


"Kalau gitu kita ke restauran tante Shela aja Al. Sepertinya aku akan lebih aman di sana," pinta Celine padaku.


"Baiklah, dan akan aku selidiki siapa yang membuntuti kita sedari tadi," jawabku.


"Mana sih Al mobilnya? Siapa tau aku kenal," ucapnya sambil menoleh ke belakang.


"Mobil itu....," ucapan Celine menggantung.


"Kenapa Cel? Kamu tau mobil siapa itu?" tanyaku dengan penuh penasaran.


"Itu mobil milik....," Celine tidak meneruskan ucapannya kembali.


"Milik siapa Cel?" tanyaku lebih penasaran lagi.


"Gio," ucapnya dengan suara lirih, dan aku mendengarnya.


"Gio? Jadi, sedari tadi di kantor kamu sampai sekarang dia masih membuntutimu?" tanyaku dengan rasa tidak percaya.


"Kuat juga dia. Apa dia gak lapar, haus atau kebelet gitu sedari tadi kerjaannya cuma mengintai dan mengikuti kita?" tanpa sadar aku mengomel karena merasa tidak percaya dengan kenyataan yang ada.


"Lagi puasa kali dia," jawab Celine sambil terkekeh.


"Hahahaha... gak mungkin lah Al modelan kayak dia puasa, sunah lagi. Mungkin nunggu hidayah baru dia mau ibadah," Celine menjawab diiringi tawanya.


"Kok gitu?" tanyaku padanya.


"Entahlah Al, dia punya alasannya sendiri dan aku gak berhak memaksanya," jawabnya sambil tersenyum getir.


"Lucu ya Cel, kita berdua sepertinya tidak beruntung dalam memilih pasangan," ucapku dengan tersenyum bodoh menertawakan diriku sendiri.


"Apa kamu menyesal Al telah menikah bersama istrimu? Sedangkan kini kalian sudah memiliki dua orang anak," Celine bertanya padaku.


"Jujur saja aku menyesal Cel, tapi tidak dengan kedua anakku. Dave dan Laura adalah hartaku. Mereka tidak akan bisa terganti dengan yang lainnya," ucapku sambil membayangkan wajah Dave dan Laura yang sedang tertawa bahagia.


"Kamu seorang Ayah yang hebat Al. Semoga kelak aku akan mendapatkan suami seperti y kamu, suami yang sayang dan cinta akan keluarganya, juga anak-anaknya," ucap Celine dengan senyumnya menoleh padaku.


"Sayang dan cinta juga dengan istrinya," tambahku.

__ADS_1


"Kalau itu harus Al, dan tidak pernah selingkuh. Itu yang harus digaris bawahi," Celine menegaskan kata 'selingkuh'.


"Kamu gak sedang menyindir aku kan Cel?" ucapku sambil terkekeh.


"Hah? Eh maaf Al, aku gak bermaksud-"


"Aku tau Cel, aku juga sadar itu, mangkanya aku gak marah dan lihatlah, aku tertawa bukan saat aku mengatakannya?" aku tidak mengira jika Celine akan merasa bersalah padaku.


"Aku hanya teringat dia yang selingkuh tepat di hadapanku Al. Kadang jika aku teringat itu, aku merasa sangat bodoh sekali," Celine menjeda perkataannya.


Hufffttt....


Setelah menghela nafasnya, dia meneruskan kembali ucapannya.


"Di depan mataku sendiri aku melihat suamiku melakukan adegan itu bersama wanita lain, dan wanita itu.... huffft.... temanku sendiri," air mata Celine menetes di pipinya.


Sayangnya aku sedang menyetir sehingga aku tidak bisa mengusap air mata Celine. Bahkan aku tidak tahu jika dia menangis karena pandanganku lurus ke depan jalan.


Celine mengusap air matanya dengan cepat, dan aku tahu itu ketika aku sedang meliriknya.


Aaah... ternyata dia sedang menangis. Bodohnya aku yang tidak mengetahui itu. Kenapa harus pada saat aku sedang menyetir sehingga aku tidak bisa mengusap air matanya?


"Lupakan dia. Orang seperti dia gak pantas buat kamu. Bahkan orang seperti dia gak pantas untuk dipikirkan oleh otak cantik kamu itu Cel," aku mencoba menenangkannya hanya melalui kata-kata saja.


"Benarkah Al?" tanyanya padaku.


"Tentu saja. Masih banyak pria baik yang pantas untukmu. Karena kamu wanita yang baik, maka kamu harus mendapatkan pria yang baik juga Cel," ucapku kembali.


Celine hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi perkataanku.


"Kalau aku bagaimana Cel? Apa aku pria yang baik, atau pria yang jahat?" aku mencoba bertanya pada Celine untuk mengetahui pria seperti apa aku di mata dia.


"Kamu baik Al, hanya saja kamu harus bisa lebih tegas agar tidak dipermainkan kembali oleh wanita seperti Reni," jawaban Celine ini membuatku lebih percaya diri sekarang ini.


"Dan kamu juga pantas mendapatkan pria baik karena seperti yang aku bilang tadi Cel, kamu wanita baik dan pastinya kamu akan mendapatkan pria yang baik."


"Siapa Al?" tanyanya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Mungkin.... aku."


__ADS_2