Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 63 Tentang pasangan hidup


__ADS_3

Meskipun rasa cintaku pada Celine tidak bisa aku hilangkan, aku tidak berani mengharapkannya lebih dari seorang sahabat.


Hubungan persahabatan kita lebih berharga daripada rasa cintaku yang membuatnya tidak nyaman jika aku mengatakannya.


Jadi aku pendam cintaku di lubuk hatiku yang paling dalam agar Celine tidak menjauhiku.


"Apa kamu masih mengharapkan ku Al?"


Pertanyaan ini yang paling aku takuti jika sudah keluar dari mulut Celine. Aku bingung, aku harus menjawabnya apa. Jika aku jawab yang sebenarnya, apa dia tidak akan marah?


"Kenapa kamu tanya itu Cel? Udahlah, itu gak penting, gak usah dibahas," jawabku yang sebenarnya mengelak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Celine padaku.


Celine hanya terkekeh mendengar jawaban dariku. Dia sepertinya tahu apa yang aku rasakan. Mungkin karena dia tahu aku mencintainya dan tidak mengharapkannya terlalu berlebihan itulah yang membuatnya nyaman bersahabat denganku.


"Mmm.... Cel, apa Gio pernah menemuimu?" aku bertanya masalah Gio pada Celine untuk mengalihkan pembicaraan kami.


Celine menatapku selama beberapa detik, namun berikutnya dia mengalihkan perhatiannya pada minumannya dan menyibukkan dirinya mengaduk-aduk minumannya.


"Untuk apa Al dia menemuiku," jawab Celine dengan berwajah hambar ketika membicarakan Gio.


"Mmmm... sebenarnya Cel, tadi...," aku ragu untuk mengucapkannya.


"Kenapa Al?" tanya Celine dengan wajah penasarannya.


"Ah enggak," aku kembali ragu mengatakannya.


"Aku tau kamu bohong Al," ucap Celine dengan menampakkan wajah kesalnya.


Terpaksa, dengan terpaksa aku mengatakannya. Ku hirup nafasku dalam-dalam, kemudian ku keluarkan nafasku secara perlahan, dan ku tata kalimat yang sekiranya tidak membuat Celine menjadi takut ataupun marah.


"Tadi sebenarnya aku melihat dia sedang menunggumu di depan kantormu. Dan pada saat kamu berjalan dan memanggilku, dia sepertinya marah dan pergi dari situ dengan mengemudikan mobilnya secara ugal-ugalan," aku mengatakannya dengan rasa bersalah.


Benar saja, Celine sekarang nampak kaget, bingung dan ketakutan. Entah apa yang membuatnya takut pada Gio, tapi aku tahu jika dia mungkin tidak ingin bertemu kembali dengan Celine.

__ADS_1


"Kamu yakin Al?" tanyanya padaku.


"Yakin sekali Cel," jawabku tanpa ragu.


"Tali untuk apa Al? Bukankah dia udah nikah dengan Reni? Mana mungkin Reni bisa melepaskan suaminya sendirian tanpa dia disisinya uang selalu menemaninya," Celine meneruskan pendapatnya.


"Dia gak bisa move on dari kamu," ucapku tanpa sadar karena rasa cemburu pada Gio pun kembali.


"Ahh... udahlah Al, aku gak mau bahas dia lagi," ucap Celine dengan menampilkan senyumannya yang sedang dipaksakan.


"Ok, kita gak usah mengatakan apapun, " ucapku untuk mengembalikan suasana hati Celine menjadi ceria seperti biasanya.


Kemudian kami membahas tentang masalah anak-anakku. Pertumbuhan anak-anakku dan tentang sekolah yang menjadi favorit Diana, bukan favorit Dave, melainkan ibunya.


Celine menenangkan ku dengan kata-katanya, dan dia kembali berkata,


"Jangan sampai kehilangan mereka Al. Dave dan Laura adalah penyemangat mu. Jadi, kamu harus menjaga mereka semua agar tetap bersama," ucap Celine padaku.


"Tentu Cel, aku pasti akan menjaga mereka agar tetap dan selalu bersama tanpa ada kekurangan kasih sayang dariku," aku mengucapkannya dengan sangat tegas agar Celine percaya padaku.


Aku pun beranjak dari dudukku dan keluar dari ruangan tersebut mengikuti Celine yang keluar dari cafenya setelah memberikan perintah bagi yang berada di situ,


Gio yang sedari tadi mengikuti mereka tanpa sepengetahuannya itu, bertambah marah ketika hanya melihat Celine dan Alex hanya berdua saja dan berada dalam satu mobil.


"Kurang ajar! Alex sudah beristri, kenapa Celine mau bersama dengan dia?" ucap Gio dengan kesal dan tangannya memukul setirnya.


"Mau ke mana Cel? Langsung pulang atau ke tempat lain?" tanyaku pada Celine ketika mobilku sudah melaju di jalan raya.


"Sebenarnya aku rindu kedua orangtuaku Al. Apa kamu mau mengantarku pulang ke rumah orangtuaku?" tanyanya padaku.


"Apa sih yang enggak untuk sahabatku ini?" jawabku sambil terkekeh.


Celine pun ikut tertawa dalam alunan nada indah yang keluar dari lagu yang aku putar di mobilku.

__ADS_1


"Cel, bolehkah aku bertanya?" tanyaku padanya sebelum Celine keluar dari mobil.


"Apa Al tanya aja," jawabnya tanpa memikirkan apapun.


"Seandainya ada lelaki baik yang ingin menjadikan kamu istrinya, apa kamu menerimanya Cel?" tanyaku dengan sedikit ragu.


Celine tampak terkejut dengan pertanyaanku. Dan dia sepertinya bingung menjawabnya.


"Kenapa kamu tanyakan itu padaku Al?" tanyanya menyelidik.


"Enggak ada apa-apa Cel, aku hanya ingin bertanya saja. Jika itu memberatkanmu, lebih baik gak usah kamu jawab," Aku kembali memutuskan sesuatu yang tidak pernah aku duga.


Padahal selama ini aku ingin melihat Celine bahagia, namun jujur aku tidak ingin melihat Celine dengan laki-laki lain selain aku.


Aku akui aku memang egois, aku tidak bisa melepaskan Celine pada laki-laki lain selain aku. Namun aku pernah berjanji untuk melindunginya sampai kapanpun.


Suasana di mobil tampak tegang. Alex tidak berani lagi bertanya pada Celine tentang kehidupan percintaannya.


"Bukannya aku gak mau jawab Al, aku hanya gak bisa jawab. Apa yang mau aku jawab jika gak ada pria yang masuk ke dalam hatiku. Dan juga aku masih ingin menikmati hidupku yang seperti ini Al. Jujur saja aku takut jika nantinya aku gagal lagi dalam berumah tangga. Jadi.... aku harus selektif bukan dalam mencari suami?" jawabnya kemudian.


"Aku hanya bisa berharap agar kamu lebih hati-hati nantinya Cel. Aku juga gak mau jika kamu nantinya merasakan apa yang aku rasakan saat ini," aku memberikan pandanganku tentang memilih pasangan.


"Mangkanya Al, gak usah ngomongin masalah pasangan dan rumah tangga agar kita gak ingat tentang masalah kita. Ya memang sih kita berdua mungkin gak beruntung dalam memilih pasangan, tapi mungkin saja nantinya kita akan beruntung dalam hal lainnya. Buktinya saja kamu sudah punya dua anak Al," ucap Celine sambil terkekeh melihatku.


"Tapi sekarang kamu tau sendiri keadaanku Cel. Aku sendiri gak tau harus bagaimana. Cuma aku yakin saja jika aku melakukannya dengan orang yang tepat, mungkin saja bereaksi," ucapku sambil terkekeh menimpali ucapan Celine.


"Ah kamu Al ada-ada aja. Coba aja Al kamu lakukan terus dengan istrimu, siapa tau jika itu akan membuatnya bereaksi kembali seperti dulu. Dan mungkin saja akan menghasilkan anak kembali," ucap Celine kemudian.


"Apa mungkin Cel?" tanyaku ragu pada ucapan Celine.


"Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi Al. Dan juga gak ada yang namanya gak mungkin jika yang kuasa udah menghendaki."


"Kamu benar Cel."

__ADS_1


"Atau mungkin.... kamu yang tidak menginginkannya Al?"


__ADS_2