
Bau dari obat-obatan menyengat indera penciumanku. Dengan tegesa-gesa dan sedikit berlari aku memasuki rumah sakit ini. Rasanya kakiku sudah lelah berjalan memasuki rumah sakit ini namun tidak juga sampai di kamar perawatan Laura.
"Laura," ucapku ketika aku membuka pintu kamar inap itu.
Tampak Laura sedang tertidur pada bed pasien dengan jarum infus tertancap di tangannya.
Diana menatapku dengan tatapan sedih. Aku mendekatinya dan memeluknya untuk menenangkannya. Aku tahu jika itu sangat berat untuknya, dia menjaga kedua anak kami sendiri tanpa bantuan dariku.
Memang adiknya seringkali menginap di rumah kami, namun tetap saja tanpa suaminya pasti dia merasa kewalahan dan lelah mengurus mereka. Meskipun Dave adalah anak yang sangat mandiri dan penurut.
"Maafkan aku, pasti ini berat buatmu merawat dua anak kita tanpa kehadiranku," ucapku sambil mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
"Laura... Laura...," Diana menangis tersedu-sedu di dalam pelukanku sehingga dia tidak bisa meneruskan ucapannya.
"Tenang ya... sabar, kita akan berdoa agar Laura cepat sembuh. Dan aku akan cuti untuk menemani Laura di sini," aku mencoba menenangkan Diana.
Diana mengangguk dan ku hapus jejak air matanya dengan lembut. Aku merasa iba padanya. Seharusnya kami selalu bersama, seharusnya anak kami tidak terpisah dariku dan seharusnya aku dan Diana mendidik serta menjaga anak kami bersama.
Ingin rasanya aku mengatakan kembali keinginanku pada Diana mengenai kepindahan mereka ke kota tempat kerjaku saat ini, namun aku rasa saatnya tidak tepat.
Aku akan mengatakannya esok hari, setelah Laura sembuh dan keluar dari rumah sakit. Ku pandangi Laura yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Jadi aku urungkan niatku untuk menggendong Laura.
"Dave mana?" tanyaku pada Diana yang sedang sibuk menata baju-baju Laura.
"Sama neneknya," jawabnya tanpa menoleh ataupun melihatku.
"Apa Dave gak akan ke sini nanti? Aku merindukannya," tanyaku kembali padanya.
"Jangan, biarkan dia di rumah. Gak baik anak kecil berada di rumah sakit," jawabnya, kali ini dia menoleh padaku.
"Apa aku boleh pulang ke rumah dulu untuk berganti pakaian dan aku juga ingin bertemu dengan Dave," aku sengaja meminta ijin pada Diana karena aku rasa dia tidak akan memintaku untuk pulang atau istirahat terlebih dahulu di rumah.
"Jangan lama-lama," ucapnya dengan nada datar.
__ADS_1
Entahlah, sebenarnya Diana ini kenapa. Tadi dia menangis dan senang berada di dalam pelukanku, namun sekarang dia kembali menjadi Diana yang sebelumnya.
"Baiklah, aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja," ucapku sambil mengambil kembali tas yang aku bawa.
Aku mencium kening Diana, kemudian aku beralih menciumi wajah Laura yang masih sangat lelap tertidur karena pengaruh obat.
"Aku pulang dulu," ucapku yang diangguki oleh Diana.
Ku langkahkan kakiku keluar dari rumah sakit. Untung saja aku segera mendapatkan taksi pada saat aku hanya beberapa detik menunggunya.
Ku masuki rumahku dengan perasaan yang tidak enak. Entah mengapa perasaanku tidak senyaman biasanya.
Ada apa ini? Kenapa hatiku seperti ini. Rasanya tidak enak sekali, tidak nyaman. Pertanda apakah ini? ucapku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku yang berat masuk ke dalam rumahku. Ku pandangi ruang tamuku dan aku tidak mendapatkan hal yang spesial, semuanya sama saja.
Tenggorokanku terasa kering, kemudian langkah kakiku menuju dapur untuk mengambil minuman.
Betapa kagetnya aku ketika semua yang ada di dapur berganti dengan barang baru. Mulai dari kitchen set, lemari es, oven, kompor dan sebagainya.
Yang jadi pertanyaannya, kenapa harus sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja sehingga tidak mengganti barang lama yang masih bagus?
Barang lama? Kemana barang-barang lama itu sekarang berada? Di mana Diana menyimpannya? Ataukah di jual?
Rasanya ingin sekali aku menanyakannya, namun aku yang tidak menyukai pertikaian dengannya menjadi ragu dan akhirnya aku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya.
Kemudian aku beralih menuju kamarku. Sungguh aku lelah, lelah dalam perjalanan dan lelah karena melihat barang-barang mewah tadi.
Ku rebahkan tubuhku di dalam bath ub yang sudah terisi air hangat dan sedikit ku tambahkan aromatherapy agar tubuh dan pikiranku sedikit rileks. Dan benar saja, hanya kurang lebih selama tiga puluh menit saja tubuh dan pikiranku menjadi rileks.
Di meja rias milik istriku, aku tidak mendapatkan benda yang sedang aku cari. Tanganku bergerak lincah mencari hair dryer yang aku butuhkan saat ini.
Namun naasnya, aku kembali dikejutkan oleh temuan tanganku. Aku tidak menemukan hair dryer yang akan aku gunakan untuk mengeringkan rambutku.
__ADS_1
Melainkan tanganku ini menemukan nota pembelian semua barang mewah yang berada di dapur tadi. Dan jumlahnya sangat wah menurutku, karena menurutku kami masih belum memerlukannya.
Bayangkan saja, semua barang-barang baru itu sama persis dengan barang-barang baru itu, hanya saja bedanya barang yang sekarang jauh lebih mahal karena merupakan brand kualitas yang utama.
Ku usap dadaku perlahan ketika melihat nama nota pembelian atas namaku dan pembayarannya memakai semua kartu kredit yang ku bawakan pada Diana.
God... kenapa Diana masih saja suka membeli barang yang tidak sesuai dan membuang-buang uang?
Ku letakkan kembali nota pembelian tersebut, namun tanganku mendapatkan kembali suatu barang yang tidak pernah ku temui selama ini.
Ku buka kotak itu dan mataku terbelalak karena kotak tersebut berisi satu set perhiasan emas yang bertaburkan berlian yang berkilauan indah. Sungguh indah, ku akui selera Diana memang bagus, namun aku berpikir kembali tentang harganya dan pembayarannya.
"Bagaimana Diana bisa membelinya? Dengan apa dia membayarnya? Pasti ini sangat mahal."
Mataku yang tadinya mengantuk dan akan tidur sebentar namun tidak jadi karena entah mengapa melihat semua barang-barang yang menjadi penghuni baru di rumah kami ini membuatku tidak ingin beristirahat.
Aku segera berganti pakaian dan menemui Dave di rumah mertuaku. Tidak jauh memang dari rumah kami. Rumah mereka hanya berjarak beberapa blok saja.
"Hai jagoan....!" teriakku dari depan pagar rumah mertuaku karena melihat Dave yang sedang main bola.
"Dave nya Papa apa kabar? Apa Dave merindukan Papa?" seruku sambil berjalan mendekati Dave.
"Papa....!" teriak Dave sambil berlari untuk memelukku.
"Jagoan Papa apa kabarnya?" tanyaku kembali pada Dave setelah Dave berada dalam pekukanku.
"Baik Pa. Apa Papa tau Laura sedang dirawat di rumah sakit?" Dave bertanya padaku.
"Iya Papa habis dari sana barusan," jawabku sambil menciumi seluruh wajahnya.
"Dave, kenapa Laura bisa sakit?" tanyaku kembali pada Dave.
"Kemarin Laura ikut kami jalan-jalan bersama teman-teman Dave dan Mama-mamanya," Dave mengingat-ingat kejadian kemarin.
__ADS_1
"Terus....," tanyaku tidak sabar pada Dave
"Terus Laura.."