Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 82 Pembuktian seorang pria sejati


__ADS_3

"Celine, bagaimana pendapatmu? Apa kamu setuju?"


Ibu Celine bertanya pada Celine tentang kesediaannya menikah dengan Alex.


Terlihat wajah serius pada diri Celine memikirkan tawaran yang diberikan padanya. Sungguh hatiku sangat berdebar menantikan jawaban yang akan diberikan oleh Celine padaku.


Aku tak tahu bagaimana nantinya jika Celine menolak tawaran untuk menikah denganku. Sudah bisa dipastikan jika aku sangat bersedih apabila dia menolak tawaran ini.


"Celine, kamu boleh kok menolaknya jika kamu tidak menyetujuinya," ibu Celine kembali bersuara.


Celine memandangku, kemudian beralih memandang ayah dan ibunya. Lalu dia menghela nafasnya berkali-kali sebelum akhirnya dia memberitahukan keputusannya.


"Al, apa aku boleh bertanya?" ucapnya sambil menatapku dengan intens.


Aku pun mengangguk dan tersenyum padanya.


"Bicaralah Cel," ucapku kemudian.


"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya padaku di depan kedua orang tuanya.


Mungkin memang Celine secara tidak langsung memintaku berjanji di depan kedua orang tuanya.


Sontak saja kedua orang tua Celine menatap ke arahku.


Baiklah akan ku jawab sekarang. Mungkin saja ini kesempatanku untuk bisa memiliki cinta sejatiku. Sekarang atau tidak sama sekali, ucapku dalam hati memantapkan diriku sendiri.


"Aku mencintaimu sejak dulu saat kita masih SMP dan cinta ku tidak berubah sama sekali meskipun sampai sekarang kita sudah terpisah jauh," jawabku dengan tegas tanpa ragu sekalipun.


Celine masih menatapku tanpa mengalihkan perhatiannya dariku sejak tadi. Sepertinya dia ingin mencari kebohongan di mataku.


"Apa kamu bisa berjanji padaku akan selalu setia padaku? Tidak mengkhianatiku dan tidak pernah sekalipun berbohong padaku? Apa kamu bisa menuruti semua keinginanku? Apa kamu tidak akan membantah perintahku? Apa kamu bisa berjanji pada kedua orang tuaku jika kamu akan selalu membahagiakan aku dan tidak akan membuatku menangis sedikitpun?"


Aku terkesiap mendengar begitu banyaknya pertanyaan yang diajukan Celine padaku. Apa mungkin dengan cara ini dia menolakku?


Ayah dan ibu Celine hanya diam menunggu jawaban dariku. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Celine saat ini. Dia menerima tawaran ini atau tidak?


"Aku berjanji akan melakukan semuanya. Aku tidak bisa menyebutkannya satu-satu, namun kamu bisa membuat perjanjian dengan syarat apapun dan aku akan menandatanganinya. Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku ucapkan padamu."


Ku tatap matanya tanpa ragu ketika menjawab pertanyaannya.


Maafkan aku Al, aku hanya ingin mengetahui kesungguhanmu saja.


Sempat beberapa detik mata kami bertemu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Aku ingin janji itu kamu jaga selalu," ucapnya yang masih menatap mataku.


"Ma-maksudnya?"


Aku tergagap ingin mengetahui apa maksud dari ucapan Celine barusan.


"Aku menerimanya. Aku mau menikah denganmu."


Apa aku bermimpi? Apa ini sungguh terjadi? Tanpa sadar senyumku mengembang. Sepertinya ada bunga-bunga bermekaran yang tumbuh dalam hatiku.


"Alhamdulillah...."


Ternyata bukan hanya aku saja yang bahagia, ternyata ayah dan ibu Celine juga bahagia mendengar jawaban dari Celine.

__ADS_1


"Tunggu Cel, kamu gak terpaksa kan?" tanyaku menghentikan tawa dari kedua orang tua Celine.


"Enggak Al. Aku gak terpaksa asalkan apa yang semua kamu janjikan tadi memang benar tidak akan kamu ingkari," jawabnya sambil tersenyum.


Dengan hati yang sangat bahagia, aku segera menghubungi kedua orang tuaku untuk cepat datang melamar Celine.


Tentu saja ini membuat mereka sangat bahagia. Tanpa berpikir panjang lagi, kedua orang tuaku segera datang menggunakan penerbangan yang tersisa pada hari ini.


Sangat antusias sekali mereka dengan pernikahan keduaku yang sebenarnya cinta pertamaku.


Mungkin ujianku datang di awal kehidupan pernikahanku dulu, dan sekarang Tuhan telah memberikan hadiah padaku, seorang istri cantik yang menjadi cinta pertamaku dan pemilik hatiku.


"Terima kasih Cel, terima kasih kamu sudah mau menerimaku, seorang laki-laki yang hina dan brengsek ini."


Aku menatap matanya, Celine Amartha, namanya yang sudah ku sebut dalam ijab kabul dan kini sudah menjadi istriku.


Celine tersenyum dan mengangguk, lalu dia berkata,


"Ingat janjimu Al. Aku akan sangat membencimu jika kamu melanggar janji-janjimu. Bahkan jika hanya satu janji pun kamu ingkari, aku akan menjauh darimu. Jika perlu aku akan menghilang dari pandanganmu."


Apa yang dikatakan oleh Celine ini membuatku takut dan berjanji padaku sendiri untuk tidak membuatnya menghilang dariku.


"Aku janji sayang," ucapku sambil menyambut tatapan matanya dengan mendekatkan wajahku padanya.


Ku sapu wajahnya dengan nafasku yang membuatnya memejamkan matanya. Tanpa sadar kini bibir kami bertemu, saling bertaut, menyesap dan menikmati ciuman kami.


Sepertinya rasa cintaku memang bersambut. Semua sentuhan dan permainan mulutku tidak di tolaknya. Bahkan dia menyambut dengan hangat semua yang kulakukan padanya.


Malam pengantin pertama kami benar-benar kami mulai. Jika ada yang bertanya bagaimana rasanya, tentu saja aku akan menjawab sangat berbeda dengan yang sebelumnya, karena ini berdasarkan cinta.


Kini bisa terbukti, milikku tidak sakit, dia benar-benar berfungsi dengan baik. Dan hal itu membuatku lebih bersemangat lagi karena milikku bisa bereaksi pada orang yang tepat. Sangat menarik sekali bukan? Pada wanita lain dia tidak akan bereaksi, dan dia selalu bereaksi jika berada di dekat Celine.


Kami saling mencintai dan kami saling mengerti serta saling memahami. Mungkin itu yang membuatku sangat senang sekali dan teramat puas melakukannya bersama Celine, istriku yang sangat aku cintai.


Entah kejutan-kejutan apa lagi yang akan diberikan Tuhan padaku. Aku sudah siapkan mentalku jikalau Tuhan kembali memberiku cobaan yang berat sekalipun untukku.


Hampir dua bulan pernikahanku dengan Celine, dan kami tidak lagi tinggal di apartemenku ataupun apartemen Celine.


Aku sudah membeli rumah dengan halaman rumah yang luas dan taman belakang serta kolam renang. Hampir sama memang dengan rumahku yang berada di ibu kota dulu yang pernah ku tinggali bersama dengan anak-anak dan mantan istriku.


Celine tidak keberatan dengan design rumah yang aku inginkan karena memang dirinya juga menginginkan hal yang sama denganku.


Halaman yang luas untuk anak-anak kami bermain, taman yang indah untuk istriku tercinta yang sangat hobi berkebun, serta kolam renang untuk kami berdua dan anak-anak kita kelak.


"Sayang, aku punya kejutan untukmu," ucap Celine yang kini sudah berada di dekatku.


Taraaaa...!!!


Celine mengeluarkan sesuatu dan memberikannya di telapak tanganku.


"Testpack?" tanyaku dan Celine mengangguk membenarkannya.


"Dua garis?" tanyaku kembali dan Celine pun kembali menganggukkan kepalanya.


"Kamu... kamu...," sungguh aku tak kuasa meneruskan ucapanku yang sangat berarti bagiku.


"Iya Sayang, aku hamil."

__ADS_1


"Anak kamu."


Tadinya aku memang syok tidak percaya, namun setelah beberapa detik aku sadar, aku kini membawanya di atas pangkuanku.


Berbulan-bulan sudah ku lalui rumah tangga kami. Bahagia dan senang sudah pasti ku rasa. Kesedihan dan pertengkaran sangat kita jauhi, karena kita berdua sudah pernah gagal dan tidak mau gagal untuk kedua kalinya.


Hal-hal kecil yang membuat kami berdebat merupakan cara kami untuk saling menunjukkan kasih sayang kami, dan itu tidak akan membuat kami bertengkar karena tawa selalu ada setelah perdebatan kecil kami yang sangat tidak penting itu.


"Sayang, aku harus ke jakarta sekarang," ucapku setelah menerima panggilan telepon dari seseorang.


"Apa ada yang salah dengan keluarga di sana?" tanyanya dengan gelisah.


Aku tersenyum melihat istri tercintaku ini cemas ketika mendengar kata jakarta, karena tentunya bukan karena Celine cemburu dengan anak dan mantan istriku, justru dia selalu yang mendorongku untuk mencari kabar dan bertemu dengan Laura dan Dave.


Dan juga Celine memang sangat dekat dengan Mama dan Papaku, mantu kesayangan kata mereka. Jadi jika aku menyebut kata Jakarta, selalu saja Celine cemas, takut terjadi apa-apa dengan Mama Papaku dan juga Laura dan Dave. Istri idaman bukan?


Setiap aku melihatnya, selalu saja kata syukur yang aku ucapkan dalam hati karena Tuhan sangat baik padaku.


Dan setiap aku mengatakan itu, Celine pasti akan menjawab seperti ini, Tuhan sangat baik pada semua makhluknya, dan meskipun aku pernah melakukan kesalahan yang fatal pun, Tuhan masih memberi kesempatan pada semua umatnya untuk bertobat dan menerima kebaikannya.


Dan sekarang ini merupakan hasil dari pertobatanku dan kesabaranku selama ini.


"Rumah kami sudah ada pembelinya, dan aku harus ke sana untuk mengurus semuanya. Apa kamu keberatan jika aku ke sana?"


Celine tersenyum menatapku, kemudian dia membantuku untuk memakaikan dasiku.


"Aku gak pernah keberatan soal itu. Berangkatlah, aku doakan semuanya lancar dan gak ada ribut-ribut lagi," ucapnya sambil melihat penampilanku.


"Oh iya, aku juga akan berdoa agar kamu bisa bertemu dengan Dave dan Laura. Jika itu terjadi, tolong pertemukan aku dengan mereka jika mereka mau menemuiku. Dan jika mereka gak mau, jangan sekali-sekali kamu memaksanya," ucapnya kembali.


Aku tersenyum mendengarnya dan aku sangat-sangat bersyukur telah dipersatukan dengan sorang Celine Amartha, cinta pertamaku dan kini telah menjadi istri yang paling aku sayangi.


Mungkin jalan kami untuk bersatu sangat rumit, tapi yakinlah bahwa ujian dan kerumitan itu pasti akan membuahkan hasil yang membahagiakan.


"Sayang, apa kamu mau ikut denganku ke sana? Mama sama Papa pasti akan senang bertemu denganmu. Apalagi melihat kehamilanmu yang sudah besar itu. Mereka pasti akan sangat bahagia."


"Jika kamu memintaku untuk menemanimu pasti aku akan ikut denganmu, tapi jika kamu tidak mau aku ikut denganmu gak masalah buatku, apalagi dalam keadaan perutku sudah membesar seperti ini," ucapnya sambil tersenyum lebar.


Sungguh pengertian sekali bukan istriku ini. Bagaimana aku tidak bertambah cinta setiap harinya jika Celine selalu membuatku takjub akan semua sikap dan sifatnya itu.


"Baiklah, aku ke kantor dulu. Dan jam makan siang nanti kita akan berangkat ke jakarta. Kamu siap-siap aja dan jangan terlalu capek."


Celine mengantarkan aku sampai teras dan mencium punggung tanganku setelah aku mencium keningnya.


Lambaian tangannya mengiringi kepergianku, namun anehnya itu malah menjadi magnet bagiku untuk tidak pergi darinya dan cepat kembali ke rumah.


......................


"Baik Pak, silahkan tanda tangan di sini," notaris yang ku tunjuk memintaku untuk membubuhkan tanda tanganku di atas surat perjanjian jual beli.


Diana menatapku dengan sinis dan meremehkan ku. Apalagi ketika dia melihat Celine yang berperut besar karena kehamilannya, dia memberikan komentar yang pedas pada kami pada saat pertama kali tadi bertemu.


"Kamu istirnya Alex yang baru? Kamu sedang hamil? Kamu yakin itu anak Alex? Dia kan tidak bisa melakukannya. Miliknya tidak berfungsi."


Ingin sekali aku membalas perkataannya yang pedas itu, namun sialnya, istriku yang baik ini melarangku dengan memegang tanganku ketika aku akan membalas perkataannya.


Sedangkan pria muda yang bersamanya itu ikut tertawa menertawakanku. Aku yakin pria itu tidak mencintai Diana, lihat saja, pria itu malah sibuk memandang Celine ku yang memang bertambah cantik ketika dalam keadaan hamil.

__ADS_1


Sedangkan Diana, dia sibuk bermanja pada pria tersebut. Mungkin dia ingin memperlihatkan padaku keromantisan mereka. Namun sayangnya aku tidak menangkap kasih sayang dan cinta dari pria tersebut untuknya. Hanya uang yang pria itu inginkan dari Diana. Dan aku harap yang diberikan Diana pada pria itu bukan uang hak Dave dan Laura yang aku berikan padanya tiap bulan.


... TAMAT...


__ADS_2