
"Wanita penggoda?" tanyaku kembali padanya.
Celine mengangguk dengan menampakkan senyum getirnya. Kemudian dia menghadap ke depan, di mana pemandangan malam yang kini menyita perhatiannya dengan segala gemerlap lampu di kegelapan yang seolah menyamai hatinya saat ini.
"Siapa yang mengatakan itu Cel?" tanyaku kembali dengan sedikit memaksa.
"Jawab dulu Al," jawabnya yang tidak sama sekali membuatku lega.
"Katakan Cel siapa yang mengatakan itu padamu," aku terus memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Hufffttt... seburuk itukah aku Al sehingga mereka mengatai ku sebagai wanita penggoda?" jawabnya dengan helaan nafas berat.
"Mereka? Siapa?" aku bertanya kembali pada Celine dan berpikir siapa kira-kira yang dia temui dan mengatakan itu padanya.
Seketika aku terhenyak karena dalam pikiranku mereka yang dimaksud oleh Celine adalah teman-teman kami di pesta tadi.
"Apa mereka itu teman-teman kita yang kamu temui di pesta pernikahan tadi?" tanyaku kembali tanpa menyebut nama Gio dan Reni, karena kami benar-benar terluka oleh kedua orang tersebut.
Celine menganggukkan kepalanya, dan kembali menatap hamparan luas di hadapannya yang kosong karena gelapnya malam.
"Apa yang sebenarnya terjadi Cel? Katakan padaku," aku kini benar-benar memaksa Celine.
Ku hadapkan badanku menghadap Celine yang masih menghadap ke depan, ku pegang pundaknya agar menghadapku dan ku paksa dia kembali untuk menjelaskannya padaku.
"Cel, ayo katakan.... apa saja yang mereka katakan padamu?" ucapku dengan lembut namun memaksa.
__ADS_1
Kini Celine menghadap ke arahku, raut wajahnya tidak baik-baik saja, banyak terlihat kesedihan di sana yang terlihat.
"Mereka mengatakan jika aku menggodamu Al, sehingga kamu memutuskan hubunganmu dengan Reni dan membatalkan rencana pernikahan kalian. Oleh sebab itu, aku mengajukan perceraianku dengan Gio agar aku bisa menikah denganmu. Dan sekarang... sekarang... aku... aku menjauhkanmu dari keluargamu Al," suara Celine bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Oh God.... aku sungguh tidak tega melihat Celine seperti ini. Aku tidak bisa membiarkannya dalam kesedihan. Tanpa pikir panjang, ku raih tubuhnya dan ku usap punggungnya untuk menenangkannya. Persetan dengan apa yang akan dilakukan Celine nanti padaku. Aku tidak peduli meskipun nanti Celine marah kepadaku. Aku hanya ingin menenangkannya saja, karena aku tahu jika dia butuh tempat bersandar sekarang ini.
Celine menangis di pelukanku. Sungguh hatiku sakit dan trenyuh melihat Celine menangis. Dia wanita yang sangat baik, namun tidak beruntung dengan laki-laki.
"Kamu wanita yang baik Cel, kamu bukan wanita penggoda. Maafkan aku yang membuatmu jadi begini Cel. Kamu wanita hebat dan sangat baik diantara semua wanita yang aku temui. Aku beruntung sekali mengenalmu Cel," ucapku untuk menenangkannya dengan tanganku yang masih mengusap punggungnya.
Celine semakin terisak di pelukanku. Sepertinya dia memang butuh tempat bersandar saat ini. Andaikan aku bisa menjadi tempat bersandarnya setiap hari, pasti aku akan selalu menjaganya agar tidak ada setitik air mata pun yang jatuh dari mata indahnya.
Ku urai pelukanku setelah tangis Celine sudah mulai reda. Jari tanganku mengusap air matanya dengan lembut.
"Jadi... sudah, jangan menangis lagi, aku mohon... hatiku sangat sakit melihatmu menangis," tanpa ku sadari, kalimat itu lolos dari bibirku.
Tanpa kami ketahui, Tante Shela melihat kami dari arah pintu. Sepertinya Tante Shela akan menemui kami, namun dia berhenti karena kami sedang berpelukan. Sepintas aku meliriknya, Tante Shela sedang tersenyum melihat kami.
Aku tidak bisa memikirkan apapun kecuali menghibur dan membuat Celine lebih tenang dan tidak bersedih lagi. Entahlah, hukuman apapun yang nantinya akan diberikan Tante Shela padaku, pasti akan aku terima.
Tanganku mengepal dengan raut wajah emosi yang tanpa ku sadari telah ku tampakkan saat ini, saat aku mengatakan pada Celine apa yang akan aku lakukan untuknya.
"Aku akan mendatangi mereka dan aku akan mengatakan yang sebenarnya," ucapku dengan menghadap ke depan.
Celine melihatku, dan dia sepertinya tahu jika aku sedang marah. Dia memegang tanganku yang terkepal dan dia memandangku dengan penuh harap sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan Al, aku mohon... kita lupakan saja ya. Aku sudah baik-baik saja Al. Aku ikhlas, toh kita juga jarang bertemu dengan mereka," ucapnya memohon padaku.
"Kenapa Cel? Aku hanya ingin mereka tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku gak mau namamu jadi tercemar hanya karena kesalahanku dan kedua orang sialan itu," ucapku dengan sangat emosi.
"Namamu nanti akan lebih tercemar Al. Mereka akan lebih memandang buruk padamu. Aku yakin mereka sudah mendapatkan cerita versi lain dari Reni. Jadi apa gunanya kita mengklarifikasi semuanya?" jawaban Celine ini membuatku sedikit sadar jika ucapan Celine memang benar.
"Tapi paling tidak-"
"Mereka hanya mau mendengar apa yang mereka mau dengar. Daripada kita buang waktu dan energi untuk menjelaskan pada mereka, lebih baik kita biarkan saja Al. Aku yakin lama kelamaan kebenaran akan pasti terkuak," ucapnya kembali menyelaku berbicara.
"Cel, aku gapapa jika mereka berpikir buruk tentang aku. Aku baik-baik saja selama kamu baik. Biarkan aku yang menanggung kesalahanku. Kamu gak salah, kamu hanya korban dari kedua orang sialan itu. Jadi-"
"Al, sudahlah... aku sudah baik-baik saja. Terima kasih karena sudah memelukku untuk menenangkanku, aku memang sedang butuh tempat bersandar saat ini. Terima kasih Al," ucapnya dengan senyum manis yang biasanya aku lihat dan selalu aku rindukan senyuman manis itu.
Aku menatapnya tidak percaya. Jauh dari perkiraanku, Celine tidak marah padaku karena aku memeluknya, sebaliknya dia malah berterima kasih padaku. Baiklah, aku menyerah karena aku sudah melihat Celine tersenyum, jadi aku pikir dia baik-baik saja.
"Cel, jika ada apa-apa aku mohon bilang saja padaku. Ok?!" ucapku untuk menenangkannya.
Celine pun mengeluarkan senyuman manisnya kembali. Dan senyumnya itupun menular padaku. Tanpa ku sadari aku pun tersenyum padanya.
Obrolan kami terhenti karena pelayan restoran sedang mengantarkan makanan pada kami. Ah... mungkin saja Tante Shela tadi akan mengantarkan makanan pada kami, hanya saja waktunya tadi tidak tepat, jadilah Tante Shela berhenti di depan pintu dan melihat kami hingga selesai berpelukan. Entahlah Tante Shela mendengar percakapan kami atau tidak.
"Ayo Al, kita makan dulu. Aku sudah lapar karena menangis tadi," candanya diiringi kekehan dari bibir mungilnya itu.
Aku pun mengikutinya berjalan mendekati meja kami. Dan apa yang tersaji di depan kami terasa sangat spesial bagiku, terutama wanita yang berada di hadapanku saat ini.
__ADS_1
Makan malam di tempat yang indah dengan ditemani oleh wanita cantik pemilik hatiku sangat membuat malamku sangat berkesan dan sangat indah. Sangat disayangkan sekali jika harus dilupakan.
"Cel, apa kamu mau menjadikan tempatmu bersandar dalam keadaan apapun?"