Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 40 Cobaan hidupku


__ADS_3

Diana tidak membalas pesan yang aku kirimkan padanya. Teleponku juga tidak diangkatnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Sejauh ini aku sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuknya dan anak-anak kami.


Ku rebahkan tubuhku di ranjang yang baru aku tempati sekarang ini. Auch... Aku meringis ketika punggungku yang masih nyeri tertekan oleh tubuhku yang menempel di ranjang. Namun rasa sakit itu berangsur hilang ketika aku mengingat Celine yang mengobatiku dengan telaten dan meneteskan air matanya ketika menyentuh lukaku.


Celine bukan istriku, dia hanya sahabat dekatku, tapi kenapa dia yang lebih peduli padaku dibandingkan dengan Diana yang menjadi istri sah ku selama bertahun-tahun? Haruskah aku menanyakan hal itu pada Diana? Mungkin jika aku menanyakannya pada Diana, sudah pasti dia memukulku kembali dengan sapu atau mungkin dengan barang lainnya.


Aku heran dengan diriku, kenapa bisa milikku tidak bereaksi pada Diana? Apa karena bertahun-tahun tidak terpakai? Tapi pada saat tadi aku berdekatan dengan Celine, entah mengapa aku merasakan sesuatu pada milikku. Apa artinya ini? Sungguh aku tidak mengerti dengan diriku sendiri.


Berhari-hari sudah aku di kota ini, hampir satu minggu. Dan kini waktunya aku pulang untuk menjenguk Dave dan Laura. Anak-anakku itu membuatku semangat setiap hari karena merindukan mereka. Bayangan wajah Dave yang menyerupai wajahku dan Laura yang masih sangat lucu seperti memanggilku untuk bertemu dengan mereka.


Kakiku menginjak bandara yang seminggu ini sudah aku tinggalkan. Mataku berkelana menyusuri bandara yang luas ini untuk mencari sosok yang ku rindukan.


Dave, kenapa dia tidak menjemputku? Apa dia tidak merindukanku? Padahal semalam aku sudah memberitahu pada Diana melalui pesan karena teleponku tak kunjung diangkatnya sampai detik ini. Dan aku pun memberitahukan keluarga Diana tentang kedatanganku hari ini.


Teleponku kembali tidak diangkat oleh Diana ketika aku menghubunginya kembali sebelum meninggalkan bandara ini.


Ok, fix. Aku akan pulang tanpa dijemput oleh mereka, ucapku dalam hati dengan sangat kesal.


Sungguh aku ingin sekali seperti dulu. Setiap aku pulang, selalu Dave menyambutku di bandara ini. Tawa nya selalu menjadi obat lelahku ketika melihatnya pertama bertemu di bandara. Sekarang entah apa lagi yang akan menyambutku di rumah nanti. Apakah tawa canda anak-anakku? Atau kemarahan istriku?


Taksi yang ku tumpangi berhenti di depan rumahku. Tepat sekali pada saat itu ada sebuah mobil barang yang mengangkut beberapa furniture yang terlihat sangat mahal. Mereka mengangkutnya ke dalam rumahku.

__ADS_1


Aku sempat melongo melihat semua barang-barang mewah itu dibawa masuk ke dalam rumahku dan istriku tersenyum bahagia melihat barang-barang itu dibawa masuk oleh mereka.


"Hai, udah sampai?" Diana menyapaku ketika aku berada di depannya.


Sapaan apa ini? Tidak ada ciuman di tanganku, tidak ada panggilan sayang ataupun menanyakan kabarku, aku hanya mampu berkeluh kesah dalam batinku saja.


Ingin rasanya aku berteriak memakinya, memberitahunya bahwa aku, suaminya yang baru pulang dari luar kota tidak disambutnya dengan hangat, malah dia menyambut barang-barang mewahnya itu dengan bahagianya dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum lebar pada mereka yang mengantarkan barang-barang tersebut.


Inikah sambutan yang aku takutkan tadi? Sambutan yang benar-benar tidak kuharapkan.


"Mana Dave dan Laura?" aku bertanya pada Diana untuk mengalihkan rasa kesalku padanya.


"Dave belum pulang, dan Laura sedang tidur di kamarnya," Diana. menjawab tidak dengan melihatku, dia lebih tertarik dengan barang-barang mewahnya yang baru saja sampai.


"Jam segini Dave belum pulang?" aku bertanya karena hari sudah sore dan Dave belum pulang, aku sangat khawatir dan ingin sekali bertemu dengannya.


"Sepulang sekolah dia langsung aku antar les, dan sebentar lagi akan aku jemput dia," Diana menjawab seperti berbicara pada orang lain, tidak ada nada manja, sayang ataupun seperti dirinya dulu sebelum malam itu.


"Dave masih kecil Sayang, biarkan dia bermain sambil belajar. Jangan biarkan dia tertekan dengan semua pelajaran yang nantinya akan membuat dia jenuh dan bosan. Usianya masih terlalu dini untuk mendapatkan pelajaran ekstra seperti itu," aku mencoba memberi pengertian pada Diana.


"Tau apa kamu tentang anak-anak? Biarlah aku yang mengurusi mereka, kamu hanya perlu bekerja dan mendapatkan uang untuk kehidupan kami," ucapnya dengan seenaknya memerintahku.

__ADS_1


Sungguh ingin sekali aku berteriak padanya dan mengatakan,


Hei, aku ini suamimu, bapak dari Dave dan Laura, dan uang yang kamu pakai untuk bergaya hidup mewah selama ini hasil dari jerih payahku. Apa tidak pantas aku mengurusi kalian? sayangnya semua itu hanya bisa aku ucapkan dalam hatiku saja.


"Lalu untuk apa semua barang-barang ini?" pertanyaan ini keluar dari mulutku begitu saja.


"Sebagian untuk kamar kita, dan sebagian untuk ruang tamu kita," jawabnya dengan tersenyum senang sambil melihat barang-barang tersebut.


"Tapi bukannya barang-barang ini sama dengan yang kita punya?" tanyaku dengan heran.


"Sama apanya? Barang-barang ini lebih bagus dan mewah. Siapa tahu dengan barang-barang baru yang mewah ini kamu bisa lebih memuaskanku di ranjang baru ini dan di barang-barang baru ini akan lebih memperindah kamar kita agar kita lebih nyaman di sana. Dan untuk ruang tamu, ini semua barang-barang yang tidak kalah dengan milik teman-teman Dave. Jadi aku tidak akan malu jika teman-teman Dave dan Mamanya datang ke sini lusa," Diana menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, sayangnya hal itu membuatku lebih tidak mengerti dengan jalan pikirannya.


Rasanya aku ingin sekali memarahinya dan menyadarkan tentang kekeliruan cara berpikirnya, namun aku tahan karena lagi-lagi aku harus mengalah. Misi yang aku jalankan kali ini hanya untuk mendapatkan maafnya karena kejadian malam itu.


"Apa? Jadi kamu memaafkan aku kan?" aku bertanya untuk memastikannya.


"Tentu saja, mangkanya aku beli semua barang ini agar kita malam nanti bisa memakainya. Tapi apa benar kamu sudah berobat?" Diana menanyakan tentang pengobatanku yang sudah beberapa hari ini aku jalani.


"Sudah beberapa hari ini aku berobat, semoga ada hasilnya. Dan apa ini semua memakai uang tabungan kita?" ucapku pada Diana.


"Tentu saja kamu yang harus membayarnya tiap bulan. Untuk uang tabungan kita, kamu salah, itu tabungan Dave dan Laura," ucapan Diana membuatku terbelalak.

__ADS_1


"Ini nota-nota pembeliannya dan aku membelinya dengan tiga kartu kredit yang kamu berikan padaku," Diana memberikan nota-nota barang tersebut yang membuat mataku kembali terbelalak melihat jumlah nominal yang tidak wajar menurutku.


Oh Tuhan... cobaan apalagi ini? Kenapa dia setelah tidak bekerja malah menghambur-hamburkan uang dengan seenaknya?


__ADS_2