
"Maafkan aku Sayang, maaf... aku akan jelaskan semuanya," aku berlutut meminta maaf dengan penuh penyesalan.
"Alex, apa semua ini benar?" Diana memukulku kembali dengan tangannya yang penuh dengan energi kemarahan.
Aku memeluk kakinya memohon ampunannya. Diana tetap saja memukulku dengan sekeras-kerasnya, bahkan kini dia memukulku dengan patung hiasan dari kayu yang dia raih dari lemari yang berada di belakangnya.
Jujur saja punggungku sangat sakit sekali, tapi aku tidak mengeluh sekalipun karena aku memang merasa bersalah padanya.
Setelah dia agak tenang, aku menuntunnya untuk duduk dan aku menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Reni.
Tentu saja dia sangat syok dan histeris dengan tangisannya. Dan dia kembali memukuliku seiring dengan tangisnya.
Aku membiarkannya untuk memukuliku karena aku tahu dia butuh pelampiasan untuk amarah dan kekesalannya.
Aku tahu dia butuh waktu untuk menenangkan diri dan memaafkanku, karena itulah aku biarkan dia menyendiri.
Naasnya di saat istriku sedang tidak mau diganggu, popok anakku habis, dan ya... akhirnya akulah yang keluar untuk membelikannya.
Laura aku berikan pada Diana yang ada di dalam kamar kami. Dan aku berpamitan padanya untuk membelikan anakku popok di mini market. Diana tidak berkomentar, mungkin dia tahu jika popok Laura memang benar-benar habis.
Punggungku dan lenganku sangat sakit sekali. Bahkan tanganku dan leherku ada banyak bekas cakaran yang berasal dari kuku Diana. Aku menutupinya dengan hoodie dan aku melajukan mobilku ke mini market yang terdekat.
Sayangnya merk popok yang di pakai Laura biasanya sudah habis di mini market tersebut. Akhirnya aku melajukan mobilku untuk melaju ke mini market selanjutnya.
Lagi-lagi aku sial. Mini market dan supermarket sudah banyak yang tutup karena memang sekarang sudah malam.
Ku lajukan mobilku ke mini market yang buka dua puluh empat jam. Dan aku nisa bernafas lega karena barang yang ku cari ternyata ada. Langsung saja aku mengambilnya dua pack dengan ukuran yang paling besar.
Ketika aku mengantri di kasir, mataku tertuju pada satu sosok yang juga sedang membayar di kasir. Ku pandangi wajahnya yang sangat menenangkan hatiku. Dialah wanita yang sangat aku inginkan, wanita yang aku idam-idamkan untuk menjadi istriku sejak dulu. Dialah Celine yang selalu ada di dalam hatiku.
"Cicel," aku menyapanya dengan panggilan khusus yang ku sebut panggilan sayangku untuknya.
__ADS_1
Celine menoleh ke arahku, namun dia sepertinya tidak mengenaliku karena aku memakai hoodie dan memakai kaca mata hitam.
Dahinya mengernyit, mungkin dia heran dengan nama yang aku panggilkan untuknya, karena hanya akulah yang memanggilnya seperti itu.
Celine mendekatiku, dia memperhatikanku dan bertanya padaku.
"Al, apa itu kami?"
Aku tersenyum karena ternyata dia tahu jika itu memang aku. Ku buka kaca mataku dan dia tertawa. Aku tertegun melihat tawanya yang sangat manis. Andai saja Celine benar-benar menjadi Celine ku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku.
"Al, itu giliran kamu bayar," Celine menyadarkan lamunanku.
"Eh iya," aku kikuk karena gugup seperti tertangkap basah memikirkannya.
Celine tertawa melihatku berjalan ke kasir dengan kikuk.
"Al, aku tunggu di depan ya," Celine menepuk bahuku dan aku anggukkan kepalaku menyetujuinya.
"Cel kamu kenapa di sini?" tanyaku seraya duduk di samping Celine.
Celine menoleh padaku dan tersenyum seperti biasanya yang lagi-lagi membuatku terpanah.
"Belanja lah Al, kamu lupa tempat tinggalku di daerah sini?" Celine terkekeh mendengar pertanyaan bodohku sambil memukul pinggungku.
"Aduh...," aku merintih kesakitan ketika punggungku dipukul oleh Celine.
"Al, kamu kenapa? Masa' dipukul gitu aja udah kesakitan," Celine memegang punggungku dan aku meringis kesakitan.
Aku berusaha tersenyum dengan menahan rasa sakit. Tentu saja Celine mengerti jika aku memang menahan sakit.
"Kamu kenapa Al? Cerita Al ada apa?" Celine terlihat sangat khawatir padaku.
__ADS_1
"Nanti aku ceritakan Cel, sekarang kamu aku antar pulang dulu ya," aku berdiri dan berjalan menuju mobilku.
"Tapi Al aku-"
Celine sepertinya akan menolak ku antarkan pulang. Oleh karena itu ku cepatkan langkah kakiku agar Celine mengikutiku.
Tepat seperti dugaanku, Celine mengikuti si belakangku. Ku bukakan pintu mobil untuknya. Setelah Celine masuk ke dalam mobil, aku pun segera masuk agar cepat sampai dan kembali pulang.
Ku lajukan mobilku ke tempat tinggal Celine yang sekarang.
"Al, kenapa punggungmu?" Celine menhibak hoodie ku.
"Al...," Celine menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"I-ini kenapa?" suara Celine bergetar, aku tahu dia menahan tangisnya.
"Cel...," aku menatap Celine yang dia sepertinya menghindari tatapan mataku.
"Mau cerita sekarang?" tanyanya tanpa menatapku.
"Maaf Cel, popok anakku habis, dan aku terburu-buru sekarang."
Celine langsung membuka pintunya, mungkin dia kecewa padaku. Dan benar saja dia mengatakannya setelah itu.
"Aku kecewa Al, karena kamu tidak menganggapku sebagai temanmu. Kamu memaksaku untuk bercerita tentang Gio padamu, dan sekarang... sekarang... sekarang kamu tidak mau bercerita padaku. Aku kecewa pada diriku sendiri Al karena selama ini aku membebanimu dengan ceritaku, dan kamu...," Celine mengusap dengan kasar air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya, kemudian dia membuka pintu mobil.
Namun aku menghentikannya ketika dia akan keluar dari mobilku.
"Cel, aku janji akan bercerita padamu besok. Tolong jangan marah padaku," aku mengiba padanya, sungguh aku tidak mau dia jauh dariku.
"Aku tidak marah Al, hanya saja aku merasa tidak berguna bagimu," Celine berjalan cepat masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
Aku menghela nafasku berat, sungguh aku frustasi dengan semua masalah yang di sebabkan oleh Reni. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah.