
Seorang laki-laki yang menanyakan tentang Diana padaku membuatku bertanya-tanya, siapakah dia? Dan mengapa dia mencari Diana hingga ke rumah? Mungkinkah....
"Pak, maaf Pak. Apa di sini benar rumah Ibu Diana Wardana?" tanyanya kembali padaku.
"Iya benar. Anda siapa ya? Ada perlu apa mencari Diana?" ku beri dia beberapa pertanyaan karena rasa ingin tahuku.
"Bisa kami bertemu dengan Ibu Diana atau suaminya mungkin Pak?" laki-laki itu bertanya padaku.
"Katakan ada perlu apa dulu, nanti akan saya panggilkan orangnya," jawabku dengan tegas.
"Baiklah Pak. Ini adalah tagihan atas hutang-hutang Ibu Diana. Sampai saat ini Ibu Diana belum juga melunasi ataupun mencicil pembayaran hutang-hutangnya," orang tersebut menjelaskan padaku.
"A-apa?!" seruku bertanya padanya karena kaget mendengar penjelasan orang tersebut.
"Boleh saya lihat tagihannya?" tanyaku kembali padanya.
"Ini Pak silahkan," ucapnya sambil memberikan amplop yang sepertinya berisi tagihan di dalamnya.
"Eh maaf Pak, tapi Bapak ini siapa ya?" tanyanya kembali sambil menarik kembali amplop tersebut.
"Saya suami dari Diana Wardana. Berikan tagihan itu pada saya, akan saya bicarakan dengan istri saya," jawabku dengan tegas dan menyahut amplop itu dari tangan orang tersebut.
Laki-laki tersebut hanya diam dan tertegun melihatku yang dengan cepat menyahut amplop tersebut dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Diana!"
"Diana!"
Ku teriakkan namanya berkali-kali sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Apa? Ada apa? Kenapa kamu berteriak-teriak?" tanyanya padaku dengan kesal dan menaikkan nada bicaranya keluar dari kamarnya.
"Apa ini? Apa kamu bisa jelaskan?" tanyaku padanya sambil melempar amplop tadi di depannya.
Seketika wajahnya tampak kaget ketika membaca lembaran kertas yang aku ketahui itu adalah tagihan-tagihan miliknya.
"Apa itu semua?" aku bertanya dengan membentaknya.
"I-ini... ini....," dia bingung menjawabnya.
"Apalagi alasanmu? Apalagi yang kau beli? Apa tanaman-tanamanmu itu? Atau barang-barang mewah dan mahal itu? Atau... atau mungkin... barang-barang merk ternama yang kau jadikan give away waktu itu?" ku tanya dia dengan bentakan suaraku yang meninggi.
Dia hanya diam tidak menjawab, matanya terpejam dan tangannya gemetar. Sepertinya dia memang takut, tapi entahlah dia takut dengan bentakanku atau dia takut dengan hutang-hutangnya yang sebanyak itu.
__ADS_1
"Diana! Jawab!" aku pun berteriak karena emosiku.
Diana tampak kaget dan memejamkan kembali matanya setelah tadi mendengarkan bentakan dariku.
"Diana!"
"I-iya," jawabnya dengan suara lirih dan gugup.
Tanganku mengepal, mulutku mengatup dan mataku tertutup agar emosiku tidak lepas begitu saja.
Ku atur emosiku, ku tahan agar tidak terlepas amarahku. Hingga aku menghirup nafasku dalam-dalam dan menghelanya perlahan berkali-kali.
"Sekarang... sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku padanya dengan suara menahan amarah.
"Lunasi lah semua hutangku," katanya padaku.
"Apa? Aku? Sebanyak itu? Dan bagaimana dengan tagihan semua kartu kreditmu?" tanyaku dengan suara meninggi kembali.
"Kamu yang harus melunasinya karena kamu adalah suamiku," jawabnya dengan enteng sekali.
"Kamu gila? Sebanyak itu? Uang dari mana aku?" tanyaku padanya dengan kembali membentaknya.
"Laksanakan tugasmu jika memang kamu adalah seorang suami yang bertanggung jawab," sahutnya tanpa berpikir.
"Jika aku punya uang sebanyak itu, aku pasti tidak akan memarahimu," ucapku padanya.
Aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Bagaimana dengan Dave dan Laura jika aku dipenjara? Pikirkan lah itu," ucapnya memohon padaku.
"Bukannya aku gak mau membayarnya, tapi mengertilah aku gak punya duit sebesar itu," ku jelaskan kembali padanya.
"Pasti ada jalan keluar untuk maslah ini. Carilah, kau kan seorang suami, seorang laki-laki yang harus mengambil resiko demi keluargamu," ucapnya dengan enteng tanpa berpikir.
"Enteng sekali kamu berbicara. Apa kamu tau apa yang harus aku lakukan?" aku bertanya kembali padanya.
"Pinjam lah uang pada kantormu, pinjam pada perusahaanmu. Bukannya kamu bekerja di sana sudah cukup lama?" Diana memberiku ide uang sangat gila menurutku.
"Apa kamu akan membayar hutang dengan uang dari berhutang? Gali lubang tutup lubang maksudmu?" tanyaku padanya dengan rasa tidak percaya.
"Iya. Apalagi?" ucapnya.
"Kau benar-benar gila Diana! Kamu buat apa saja uang sebanyak itu?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Banyak dan kamu tidak perlu tau," jawabnya singkat tanpa menjelaskannya.
"Jika aku tidak mendapatkan uang bagaimana?" tanyaku kembali padanya.
"Tidak mungkin. Mintalah pada kedua orang tuamu dan jangan sekali-kali kamu melaporkan tentangku pada mereka," perintahnya padaku.
"Aku rasa gak bisa. Karena Ibuku pasti tau jika ada yang ku sembunyikan darinya atau aku berbohong padanya," ucapku padanya.
"Itu kamu saja yang gak bisa ngomongnya. Atau mungkin kamu berbohong padaku? Atau mungkin.... kamu menceritakan semua masalah kita? Iya kan? Benar bukan?" tanyanya dengan senyum meremehkanku.
"Kamu seorang ibu bukan? Harusnya kamu juga tau jika seorang ibu pasti akan mengetahui jika anaknya berbohong dan ketika anaknya mempunyai masalah. Apa kamu tidak begitu? tanyaku kembali padanya.
"Tidak isah banyak alasan. Jika kamu tidak mau meminjam uang dari kedua orang tuamu, lebih baik kita jual saja rumah ini untuk membayar hutang-hutangku," jawabnya untuk mengeluarkan idenya kembali.
"Kau gila Diana! Kau sungguh gila! Dirasuki oleh apa dirimu sehingga bisa berbuat sejauh ini? Apa ini pengaruh dari teman-temanmu yang kegenitan dan kecentilan itu?" ucapku dengan suara meninggi.
"Mereka enak karena tidak akan pernah bertengkar dengan suaminya hanya karena belanjaan. Mereka selalu memberikan uang lebih untuk bersenang-senang. Dan mereka tidak akan mengalami hal semacam ini karena suami mereka kaya dan tidak pelit seperti kamu," Diana menjawabnya sambil menunjuk mukaku.
Stop! Cukup! Sudah tidak ada lagi stok kesabaranku! , tentu saja kalimat ini hanya bisa aku ucapkan di dalam hati saja.
"Beraninya kami menunjuk-nunjuk mukaku seperti itu. Aku ini suamimu dan kamu harus menghormati dan menghargaiku," ucapku dengan amarah yang memuncak.
"Hargai, hargai. Mangkanya kerjakan dulu hak dan kewajibanmu agar kamu bisa dihargai oleh istrimu, bahkan bisa dihormati jika memang kamu bisa melakukannya dengan benar," jawabnya tidak mau kalah
Aku sangat ingin sekali menutup mulutnya itu dengan tanganku, namun aku urungkan karena aku tahu jika pasti dia akan mempunyai sejuta alasan untuk menjatuhkanku.
Ku redakan emosiku dan ku coba kembali untuk bertanya padanya.
"Lalu kita akan tinggal di mana jika rumah ini dijual?"
"Mintalah pada orang tuamu," jawabnya dnegan enteng.
"Enggak, itu gak akan terjadi. Aku ingin masalah keluarga kita sendiri yang menghadapinya," aku menolak keinginannya.
"Lalu bagaimana lagi?" tanyanya padaku.
"Atau kalian ikut saja denganku ke sana, ke kota tempat aku bekerja," jawabku.
"Enggak! Aku gak mau! aku gak setuju!"
"Lalu bagaimana? Gak ada lagi jalan keluar," ku rendahkan suaraku agar dia mau menurutiku.
"Jual rumah ini!"
__ADS_1
"Enggak akan ku jual jika kalian gak ikut aku ke sana," jawabku.
"Kalau gitu kita cerai! Ceraikan aku!"