
Suara ini... suara yang aku kenal. Dan.... Ah, sungguh aku benci suasana ini. Kalau bisa diulang lagi, seharusnya sekarang aku tidak datang kemari agar aku tidak bertemu dengannya.
"Bagaimana kabarmu Lex?" dia berbasa-basi menanyakan kabarku.
"Baik," jawabku sekenanya.
Sungguh aku malas meladeninya, meladeni mereka berdua. Dan sebenarnya aku malas bertemu dengan mereka berdua. Sepasang suami istri yang sama-sama suka berkhianat.
Aku tidak munafik, aku juga pernah berkhianat meskipun terpaksa, namun tetap saja aku mengkhianati istriku, keluargaku. Dan aku sudah tidak lagi berbuat seperti itu.
Apa yang spesial dari mereka? Aku melihatnya dari atas hingga bawah, mereka berdua tidak ada yang spesial. Bahkan mereka sama-sama sombong menurutku.
"Ini Gio, Giovani Mahendra, suamiku," ucapnya padaku untuk memperkenalkan suaminya.
Ku ulurkan tanganku untuk menghormati mereka. Namun dia membuatku kesal. Tanganku diremas dengan sangat kuat oleh Gio. Ku balik meremas tangannya. Dan senyumannya itu membuatku ingin sekali menghajarnya. Dia tersenyum mengejekku. Dan aku juga tidak suka tatapan matanya yang seolah-olah menantangku untuk berduel dengannya.
"Apa kamu makan bersama dengan kami Lex?" Reni bertanya padaku dengan tangannya yang bergelayut manja pada lengan Gio.
Cih! Aku tertawa dalam hati melihat kelakuan Reni yang tidak pernah malu bersikap seperti itu di mana pun. Bahkan dia tidak malu memperlihatkan tubuhnya di depan banyak orang yang bukan suaminya.
"Aku udah makan tadi, sekarang aku mau permisi pulang dulu," ucapku kemudian ku langkahkan kakiku secepat mungkin agar segera menjauhi mereka.
Tiba-tiba Gio mensejajari langkahku, mengeluarkan kunci mobilnya dan menekannya. Sungguh membuatku kaget karena ternyata mobilnya terparkir di samping mobilku.
Dia tersenyum meremehkanku dan berkata,
"Jangan coba-coba kau dekati Celine. Dia milikku dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku."
Mataku terbelalak sempurna mendengar ucapan Gio yang sepertinya dia memang belum bisa melupakan Celine dan menurutku dia tidak akan melepaskan Celine.
Dalam hatiku aku tertawa, menertawakan Reni yang dipermainkan oleh Gio dan sepertinya Reni hanya menjadi pelampiasan nafsu dari Gio saja.
__ADS_1
Ku lihat Reni memperhatikan kami dari kaca jendela cafe tempat dia duduk saat ini. Sangat tidak mungkin seorang Reni yang percaya begitu saja dengan orang lain. Buktinya sekarang, dia pasti bertanya-tanya apa yang diobrolkan Gio denganku. Entahlah apa yang tadi dia katakan pada Reni hingga Reni mengijinkannya ke tempat parkir ini tanpanya.
"Kalian sudah bercerai, untuk apa kamu mengancamku?" ucap ku untuk menegaskan bahwa aku berani melawannya.
"Lihat saja akibatnya jika kalian berani bertemu. Aku tidak akan membiarkan kalian bertemu. Tunggu saja," Gio kembali mengancamku.
"Hei sorry Bung, aku tidak takut dengan ucapanmu. Aku dan Celine hanya berteman, kami tidak ada hubungan apa-apa. Lagian aku heran, untuk apa kamu masih mengurusi Celine, bukannya kalian sudah bercerai?" ucapku dengan senyum meremehkannya.
"Aku tidak pernah merasa menceraikannya karena aku mencintainya," jawaban Gio ini membuatku terkekeh.
"Sejak kapan kamu mencintainya? Bukankah dari dulu kamu mencintai Reni sehingga kamu berselingkuh dengannya dan setelah kamu bercerai dnegan Celine kamu menikahi Reni?" ucapku untuk memancing emosinya.
"Sialan! Aku sama sekali tidak mencintai Reni. Dari dulu aku hanya mencintai istriku, Celine," jawabnya dengan emosi.
"Istrimu? Bukannya istrimu sekarang Reni? Berarti benar bukan ucapanku bahwa kamu mencintai Reni? Kamu sendiri barusan bilang bahwa kamu mencintai istrimu," ucapku dengan senyuman meremehkannya.
"Sialan! Aku tidak mencintainya," ucapnya dengan emosi.
"Dia yang membuatku lupa akan semuanya!" Gio benar-benar emosi, dia berteriak padaku.
Ok, aku sudah puas dan aku akan menghentikan sampai di sini saja obrolan kami. Aku masuk ke dalam mobilku dan dia mencoba menghentikan pintu mobilku pada saat akan ku tutup.
"Aku diancam oleh Reni. Dia akan mengganggu dan mencelakainya jika aku tidak mau menikah dengannya," Gio menjelaskan padaku dengan raut wajah yang sepertinya memang benar-benar jujur padaku.
"Tenang saja, ada aku yang menjaganya," ucapku untuk menenangkannya, namun Gio malah salah paham padaku, dia mengira aku yang akan menggantikan tempatnya dulu sebagai suami Celine.
Gio mencengkeram kerah bajuku dan memandangku dengan emosi. Sepertinya benar dugaanku bahwa Gio tidak akan melepaskan Celine.
"Akan ku beri kau perhitungan jika kau menyentuh milikku," ucap Gio untuk memperingatkanku.
Aku tersenyum dan dengan mudahnya tanganku melepaskan cengkeraman tangannya. Bisa aku tebak jika dia bukan tandiganku dalam hal pertandingan.
__ADS_1
Segera ku lajukan mobilku setelah aku menutup pintu mobil tersebut.
Sekarang tujuanku hanya satu, Celine. Aku ingin menasehatinya dan melindunginya. Entah mengapa hatiku merasa tidak enak, entah apa yang akan terjadi aki tidak mengerti.
Dengan riang kakiku melangkah, namun aku lihat Celine sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang tidak aku ketahui siapa sebenarnya lelaki itu.
Laki-laki tersebut berbicara serius dengan Celine, dan aku tidak bisa mendengar apapun dari sini.
Sial!
Ku lepas dasiku dengan kasar. Aku melampiaskan kekesalanku pada dasi yang sedang aku pakai. Kesal? Entah mengapa aku harus kesal terhadap lelaki tersebut. Atau mungkin aku.... cemburu?
Ku tunggu lelaki itu pulang dari apartemen Celine. Memang benar lelaki tersebut tidak masuk ke dalam apartemen Celine tapi entahlah mungkin aku benar-benar cemburu pada lelaki tersebut. Lama aku menunggu di sana dan akhirnya setelah sekian waktu uang terbuang percuma di sini, lelaki itu pulang dengan memberikan sesuatu pada Celine.
"Cel! CiCel!" aku berseru memanggilnya.
Celine menoleh ke arahku dan dia tersenyum kepadaku. ingin rasanya aku bertanya tentang laki-laki itu pada Celine, namun aku tidak berani bertanya padanya. Karena sebenarnya, aku lebih takut jauh darinya dibanding hanya bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu ngapain di sini Al? Bukannya kamu ada kerjaan?" tanya Celine pada Alex.
"Iya, dan aku menunggumu sudah sangat lama sekali. Sampai lumutan aku di sana," ucapku sambil menunjuk tempat aku bersembunyi tadi.
Celine tertawa renyah. Sudah lama aku tidak melihatnya. Melihat dia tertawa, melihat dia tersenyum dan melihat dia perhatian padaku.
"Ada apa Al? Sepertinya kamu sedang kesal," Celine mencoba bertanya dan mengira-ngira jawabannya.
"Aku baru saja balik dari cafe semalam untuk membayar makananku, tapi sial sekali aku, di sana aku malah bertemu dengan pengantin baru, pasangan suami istri yang saling mendukung dan saling memalukan," ucapku sambil terkekeh.
"Siapa Al? Apa mereka?" tanya Celine ragu.
Aku pun menganggukkan kepalaku dan dia kembali bertanya.
__ADS_1
"Apa mereka Gio dan Reni?" ucapnya dengan cemas.