Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 68 Buktikan!


__ADS_3

"Apa dengan cara berlebihan seperti ini? Apa dengan menyewa jasa event organizer hanya untuk acara arisan? Apa dengan memberikan give away berupa barang-barang mahal keluaran brand ternama? Uang dari mana kamu semua itu?" ku luapkan semua emosiku.


"Kamu harusnya sebagai seorang suami bisa mendukung istrinya. Kamu pelit sekali sebagai seorang suami! Beda sekali dengan suami-suami mereka yang selalu mendukung semua kegiatan dan keinginan istrinya. Aku juga ingin seperti mereka!" Diana berapi-api mengatakannya hingga meninggikan suaranya.


"Mereka punya uang yang banyak, sedangkan aku? Aku hanya karyawan biasa, bukan pengusaha ataupun CEO. Kamu harusnya mengerti itu," aku pun lepas kendali ikut meninggikan suaraku.


"Kalau begitu bekerjalah yang giat, raih jabatan yang lebih tinggi. Jangan malah rajin ketemu selingkuhan!"


"Sampai kapan kamu mengungkit-ungkit masalah itu? Aku sudah meminta maaf, aku sudah berubah, dan aku sudah tidak berbuat seperti itu lagi," ku tinggikan suara ku seiring tingginya emosiku.


"Siapa yang tau jika kamu masih melakukannya? Buktinya kamu mengaku kalau kamu tidak sakit, tapi kenapa tidak bereaksi terhadapku?" Diana pun meninggikan suaranya dan meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.


"Aku bukan Tuhan. Aku tidak tau apa yang terjadi."


"Baiklah, buktikan sekarang! Lihatlah film dengan adegan seperti itu dan buktikan jika milikmu memang bereaksi!"


Sial! Dia menantangku. Rasanya harga diriku sudah diinjak-injak olehnya.


Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya. Dia istriku, tapi kenapa dia bertingkah seperti itu? Harusnya dia yang berusaha lebih keras lagi agar milikku bisa bereaksi terhadapnya.


Dengan percaya dirinya dia memindahkan Laura menuju kamarnya yang terhubung dengan kamar kami.


"Ayo, buktikan!"


Gila! Dia benar-benar menyuruhku untuk melakukannya di depannya.


"Kenapa? Kamu ragu? Atau memang kamu takut jika ketahuan bereaksi, yang berarti kamu selingkuh selama ini," ucapnya sambil tersenyum licik.


Senyumnya yang merendahkan diriku itu membuatku tergugah. Aku seorang laki-laki, seorang suami baginya dan seorang kepala keluarga di rumah ini. Sungguh aku merasa terinjak-injak.harga diriku yang sesungguhnya.


"Kenapa diam saja?" tanyanya yang hanya ku acuhkan.


"Ok kita cerai!"


Dengan entengnya dia mengatakan cerai hanya karena aku menolak permintaannya.


"Tunggu, apa sebenarnya tujuanmu? Lebih baik kita melakukannya daripada kamu hanya melihatku melakukan itu dengan bantuan media," ucapku dengan menurunkan nada bicaraku.

__ADS_1


"Aku hanya ingin lihat saja, apa memang milikmu tidak bereaksi saat melihat wanita lain?" tanyanya padaku dnegan senyum yang kembali merendahkan harga diriku.


"Pertanyaan macam apa itu?" tanyaku dengan rasa tidak percaya.


"Sudahlah jangan banyak bicara. Jika kamu tidak mau membuktikannya, lebih baik kita bercerai!"


"Segampang itukah kata cerai keluar dari mulutmu?" tanyaku yang kembali tidak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Mau apa lagi? Kamu pikir aku juga tidak menginginkan melakukan hal itu? Kamu bisa selingkuh karena kamu merasa seorang pria. Bagaimana denganku yang seorang wanita? Apa aku juga boleh berselingkuh?"


Ucapannya sangat menyakiti hatiku. Selalu saja hal itu yang dia ungkit. Sampai kapan? Sampai kapan hal itu akan dia ungkit kembali? Apakah aku boleh marah padanya?


Tanpa sadar tanganku sudah bergerak dan melayang hendak menamparnya, namun untung saja kesadaranku kembali.


Ku hentikan gerakan tanganku dan ku letakkan kembali tanganku ke dalam saku celanaku agar aku bisa mengontrol gerakan tanganku.


Sejak dulu aku berprinsip tidak akan menyakiti wanita secara fisik. Menurutku bukan laki-laki jika aku melakukan hal itu.


Tapi, kenapa Diana yang seorang wanita dan notabene nya adalah istriku tega dan berani memukuliku hingga berbekas di badanku.


Tapi aku pikir dia tidak akan melakukan itu pada anak-anak kita, karena binatang saja melindungi anaknya, masa' iya dia seorang ibu akan menyakiti anaknya secara fisik?


Aku hanya bisa berharap dan berdoa agar Diana bisa segera berubah dan tidak bertingkah arogan seperti ini.


"Kenapa berhenti? Mau menamparku? Ayo tampar!"


Dia menantangku, dan aku harus bisa menahan amarah dan emosiku agar tidak terpancing olehnya. Bagaimanapun dia istriku dan ibu dari anak-anakku.


"Atau kau mau memukulku? Ayo pukul! Silahkan!"


Sekarang dia malah histeris memintaku untuk memukulnya setelah menyuruhku untuk menamparnya. Haruskah ku lakukan kemauannya itu?


Hei, tunggu Alex, kamu seorang pria sejati, jangan terpancing hanya dengan ocehan yang merendahkanmu saja, ucapku dalam hati untuk memperingatkan diriku sendiri.


"Aku rasa kamu tidak akan berani. Jadi.... turuti saja kemauanku, atau kalau tidak.... kita bercerai saja!" kini dia kembali meninggikan suaranya dengan berkacak pinggang di hadapanku.


"Cerai, cerai, bosan aku mendengarnya," ucapku untuk mengakhiri perdebatan kami dan aku menghadap ke lain arah agar tidak terpancing emosiku dengan tingkahnya.

__ADS_1


"Atau... kamu mau aku berselingkuh seperti dirimu?" tanyanya dengan senyumnya untuk mengejekku.


"Kau gila!" tanpa sadar aku berteriak dan menunjukkan telunjukku di depan wajahnya.


"Kalau begitu cepat buktikan!" dia berteriak memerintahku.


Aku diam, aku berpikir sejenak untuk menenangkan pikiranku. Karena aku tidak mungkin melakukannya dengan emosi seperti ini.


"Dave di mana?" tanyaku pada Diana untuk memberikan waktu pada diriku meredakan amarahku.


"Sedang menonton TV dengan Bik Marni," jawabnya dengan tersenyum miring.


Akhirnya aku putuskan untuk mengikuti keinginannya. Bukan karena aku takut padanya, aku hanya tidak ingin bercerai dengannya. Dan keenggananku untuk bercerai bukan karena aku mencintainya, tapi demi kedua anakku, Dave dan Laura.


Cinta? Siapa yang bisa mencintai wanita seperti dia? Tingkahnya semakin membuatku mengelus dada. Sehingga aku tertawa dalam hati jika menyebutkan kata cinta untuk dia.


Ku lepas semua kain yang menutupi badanku. Satu persatu semuanya lepas dari badanku. Hingga aku melihat Diana melihatku seperti dia sangat menginginkanku.


Diana memperhatikanku, dia memberikan tontonan yang sangat membuat semua orang tertarik melakukannya. Namun entah kenapa milikku sama sekali tidak menginginkannya.


Apa mungkin karena aku tidak mencintai wanita yang ada di dalam film itu? Tapi wanita itu sangat menggoda. Secara fisik tubuhnya sangat indah dan wajahnya sangat cantik. Tapi kenapa milikku sama sekali tidak bereaksi?


Hingga aku rasa tanganku begitu lelah dan ritme yang kulakukan pun mulai melemah.


Tanpa ku sadari, Diana telah melepas semua kain yang menutupi tubuhnya hingga tidak ada satupun yang terhalangi oleh apapun.


Begitu kagetnya aku melihatnya di depanku, hingga dia berlenggang mendekatiku.


"Kamu ingin aku bantu bukan?" katanya padaku dengan nada merayu.


Aku pun tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapannya.


Diana mulai membantuku dengan memberikan sentuhan-sentuhannya dan melakukan sama seperti film yang sedang kami tonton.


Baru kali ini aku sangat puas dilayani oleh Diana, tapi....


"Brengsek!!!"

__ADS_1


__ADS_2