Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 79 Sebuah keputusan


__ADS_3

"Ayah tidak keberatan kamu tidak tinggal lagi di sini, tapi Ayah berharap kejadian itu tidak terulang lagi. Jadi Ayah ingin kamu menikah. Dengan begitu ada yang menjagamu menggantikan kami," ucap Ayah Celine dengan penuh pengertian.


"Tapi Ayah, Celine gak mau dipaksa menikah lagi seperti waktu itu. Celine kapok Ayah. Dan lihatlah sekarang ini, Gio melakukan ini padaku. Dan aku gak mau kedua kalinya itu terjadi," Celine menjawab dengan suara sedikit tercekat.


"Ayah mengerti dan Ayah tidak mau itu terjadi lagi. Oleh sebab itu Ayah ingin kamu tetap tinggal di sini sampai ada laki-laki yang benar-benar tepat untukmu dan menjadi suamimu," ucap ayah Celine kembali.


Di luar rumah Celine, kini ada beberapa polisi yang menanyakan rumah Celine pada tetangganya. Dan sialnya adalah para tetangga yang ditanyai oleh kedua polisi tersebut bertanya balik pada mereka.


Mereka mengatakan bahwa Celine merupakan korban pelecehan seksual dan sekarang mereka ingin menemui Celine untuk membawa berita yang sangat penting untuknya.


Para tetangga itu sangat kaget mendengar bahwa Celine menjadi korban pelecehan seksual. Dan mereka kini bergosip karena memiliki bahan gosip terbaru setelah menunjukkan pada kedua polisi itu di mana letak rumah orang tua Celine.


Aku datang ke rumah orang tua Celine pada saat yang tepat. Pada saat itu polisi sudah berada di dalam rumah Celine. Mereka mengabarkan bahwa Gio sudah berhasil ditemukan dan kini dia sedang diproses di kantor polisi.


Terlihat binar bahagia di kedua mata Celine. Senyuman bahagia yang selama ini tidak ditampakkannya setelah peristiwa penculikan itu terjadi, kini senyum bahagia itu telah kembali.


Bahagia? Tentu saja aku bahagia. Sangat bahagia malahan melihat Celine yang sudah terbebas dari kesedihannya.


Setelah memberitahukan hal itu, kedua polisi tersebut berpamitan undur diri dari rumah Celine. Dan mereka ku antarkan hingga mobilnya.


"Jauh sekali Pak mobilnya," ucapku karena mencoba berbicara pada kedua polisi tersebut.


"Iya Pak, tadi kami harus bertanya-tanya dahulu pada orang-orang di sekitar sini," jawab salah satu polisi yang sedang berjalan bersamaku.


"Sudah bertemu dengan keluarganya Celine Pak?"


"Bagaimana Pak, apa pelakunya sudah ketemu?"


"Apa sudah ditangkap Pak?"


"Apa pelakunya mau bertanggung jawab pada Celine Pak?"


Para tetangga yang sedang membuat konferensi gosip itu kini mengajukan beberapa pertanyaan pada kedua polisi tersebut.


Sungguh sangat kaget aku mendengarnya. Tetangga yang selama ini membuat Celine harus menikah dengan Gio karena mulut pedas mereka yang berhasil diracuni oleh mulut Reni kala itu.


Kenapa mereka bisa tau? Entah apa nantinya yang akan terjadi. Oh God... jangan biarkan Celine bersedih kembali, batinku kesal pada mereka.


"Sudah Bu. Permisi," ucap salah satu dari polisi tersebut pada ibu-ibu yang bertanya pada kedua polisi itu.

__ADS_1


Setelah aku mengantarkan kedua polisi itu ke mobilnya, aku melewati jalan yang sama untuk bisa kembali ke rumah Celine.


"Eh mas... mas... situ siapanya Celine? Pacarnya? mas nya ini bego atau gimana, Celine udah dilecehkan oleh laki-laki lain, Mas masih mau gitu sama dia? Masih banyak Mas wanita lain yang pasti mau sama Mas."


"Iya benar. Wong Mas ini ganteng loh. Pasti gak ada yang nolak kalau dijadikan istri sama dia."


"Sama anak saya aja Mas. Lebih cantik, pendiam dan tidak seperti Celine yang selalu menggoda para lelaki."


Cukup! Sudah! Cukup sudah apa yang aku dengar. Aku tidak ingin lagi mendengar mereka menjelek-jelekkan Celine lagi.


Ku tinggalkan mereka begitu saja dengan langkah kakiku yang cepat dan panjang untuk segera sampai di rumah Celine.


"Pak, gimana ini? Kasihan Celine kembali jadi bahan omongan mereka Pak. Apa yang harus kita lakukan?"


Ibu Celine menangis sambil menggerak-gerakkan tangan suaminya ketika berbicara dengannya.


Dia tidak bisa berpikir jernih lagi karena hal yang sama kini terjadi kembali pada anaknya.


Tadi ibu Celine sempat mengembalikan piring milik tetangganya yang kemarin memberinya makanan dengan alasan berbagi.


Namun pada saat ibu Celine memberikan piring tersebut pada rumah yang ada di sebelahnya itu dia mendengar hal-hal yang sangat menyakitkan hatinya.


Ayah Celine menghela nafasnya seperti ada yang menyumbat dalam dadanya.


"Permisi."


Entah mengapa, mulutku berucap tanpa sadar membuat ayah dan ibu Celine menoleh ke arahku.


"Eh nak Alex, silahkan masuk," ucap ibu Celine dengan mengusap air matanya.


Aku pun masuk dan duduk di kursi yang berada di hadapan mereka.


Apa ada yang salah denganku? Atau penampilanku yang salah? Atau mungkin berantakan?


Aku berkata dalam hati sambil melihat diriku mulai dari bawah hingga ke dadaku. Tidak ada yang aneh pada diriku. Dan tentunya itu berdasarkan penglihatanku.


"Alex, apa kamu datang untuk bertemu dengan Celine?" tanya ayah Celine padaku.


Namun sebelum aku jawab, ibu Celine terlebih dahulu memanggil Celine untuk datang ke ruang tamu berkumpul bersama kami.

__ADS_1


"Celine!"


Ibu Celine berteriak dari ruang tamu untuk memanggil Celine. Dan kudengar suara lembut nan merdu di kedua indera pendengarku itu menjawabnya.


"Iya Bu, sebentar," jawab Celine yang sepertinya sedang berjalan menuju ke ruang tamu.


"Ada apa Bu? Ada yang penting? Buruan Bu, aku sedang menata koperku agar bisa secepatnya pindah ke apartemenku, mumpung ada Alex yang bisa ku suruh mengangkatkan koperku nantinya."


Celine terkekeh mengucapkannya. Aku pun tersenyum padanya ketika dia menolehku.


"Gapapa kan Al aku jadikan kuli untuk mengangkatkan koperku masuk ke dalam apartemenku?"


Celine bertanya padaku. Ternyata dia masih ingat bahwa aku ada di sini. Dan itu membuatku merasa senang dan sangat tersanjung.


"Santai aja Cel, kayak sama siapa saja," jawabku padanya dan dia membalasnya dengan senyum lebarnya.


"Ada apa Bu? Kenapa Ibu jadi pendiam seperti ini? Apa Celine ada salah Bu?"


Beberapa pertanyaan itu dilontarkan oleh Celine untuk bertanya pada ibunya yang tadi memanggilnya.


"Cel, tadi ibu mengembalikan piring Bu Menik, dan di sana banyak sekali ibu-ibu yang bergosip seperti biasanya. Mereka..."


Ucapan ibu Celine tidka dapat diselesaikannya. Dia tidak ingin menambah lukanya yang baru saja sembuh. Dia tidak ingin membuat anaknya sedih kembali setelah beberapa menit yang lalu tersenyum dan tertawa tanpa ada beban.


"Mereka kenapa Bu? Apa mereka membicarakan Celine? Ah ibu gak perlu khawatir Bu, biar aja mereka ngomong apa aja, yang penting kan itu gak benar. Biarin aja Bu, lama-lama mereka juga akan capek sendiri dan gosip itu akan hilang jika ada gosip yang baru Bu."


Celine mengatakan itu dengan senyum seperti tidak ada beban sama sekali.


Apa benar dia tidak mempermasalahkannya? Apa benar dia tidak sakit hati mendengarnya? Bahkan aku saja sangat kesal dan marah ketika mereka membicarakan tentangnya.


"Mereka mengetahui tentang penculikan itu, dan mereka bilang jika tidak ada pria yang mau menikahimu apabila mereka tau kamu korban pelecehan seksual."


Deg!


Aku sangat kaget mendengarnya. Dan aku yakin jika Celine pun sama sepertiku karena aku melihat ekspresi wajahnya yang memperlihatkan kesedihan dan kekecewaan yang cukup dalam melalui kedua matanya serta senyumnya yang tadinya selalu mengembang, kini telah hilang dengan sekejap.


"Jadi, apakah kamu mau...."


"Ayah!"

__ADS_1


Celine memotong ucapan ayahnya yang Celine tau akan mengarah ke mana nantinya pembicaraan itu.


__ADS_2