Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 42 Karma atau ujian?


__ADS_3

Ternyata sentuhan-sentuhanku bisa membuat istriku terlena seperti biasanya. Aku tersenyum senang karena Diana ternyata sangat menantikannya. Dia sangat menikmatinya, namun.... ternyata milikku benar-benar tak kunjung bereaksi. Sudah hampir lama aku dan istriku berusaha membangunkannya namun milikku tak kunjung bangun, hingga aku merasa frustasi dan sepertinya istriku pun ikut frustasi.


Plak!!!


Tiba-tiba tamparan tangan Diana mendarat di pipiku. Dengan geramnya dia mendaratkan tangannya sekuat tenaga di kedua pipiku bergantian berkali-kali.


Aku kaget dan syok. Untuk kesekian kalinya aku ditampar istriku sendiri dengan sekuat tenaganya dan berkali-kali. Terasa panas sekali pipiku. Ingin sekali aku membalasnya, namun aku tidak bisa, aku bukan tipe pria yang ringan tangan, apalagi pada ibu dari anak-anakku. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Biarlah aku yang menjadi pelampiasan kemarahannya daripada dia lampiaskan pada anak-anakku.


"Aku sudah berusaha, maafkan aku. Aku sudah berobat dan aku tidak tau jika hasilnya masih seperti ini," aku mengiba pada istriku.


"Lalu sampai kapan? Sampai kapan kita harus seperti ini? Aku juga membutuhkannya," Diana mengatakan keingintahuannya.


"Aku tidak tau, yang jelas kamu harus bisa membantuku. Ikutlah aku ke sana agar aku bisa mencobanya setiap hari denganmu, di samping itu aku berobat juga di sana," kini giliran aku yang memberitahukan keinginanku.


"Lalu sekolah Dave gimana? Kamu gak mikir jika sekolahnya itu yang terbaik buat Dave?" Diana meninggikan suaranya.


"Banyak sekolah yang bagus di sana. Kita sekolahkan Dave di salah satu sekolahan itu. Bagaimana, kalian jadi ikut kan denganku? Nanti akan aku urus semuanya," kini aku yang antusias mengatakannya.


"Enggak. Sekali gak tetap gak. Aku gak mau mengorbankan sekolah Dave hanya demi menuruti kita," Diana membentakku.


"Tapi Dave gak masalah. Dia lebih senang kita bersama. Aku tadi udah tanya sama Dave," aku mengucapkan apa yang benar-benar ingin aku ucapkan sedari tadi.


"Lancang!" Diana berteriak padaku.

__ADS_1


Plak!!!


tangannya kembali mendarat di pipiku. Kini pipiku bertambah panas dan nyeri. Tak ku sangka Diana, wanita yang ku pilih jadi istriku, tidak hanya berani membentakku dan tidak menghormatiku, tapi dia sangat berani menamparku, bahkan memukulku. Apa aku harus selalu mengalah padanya?


Memang itu semua kembali lagi pada kesalahanku yang memang sangat fatal dan mungkin masih membekas di ingatan dan hatinya, namun aku sudah berusaha semampuku, berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang terbaik bagi keluargaku, dan aku sudah tidak berhubungan dengan wanita manapun. Lalu apakah aku tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan hak ku kembali sebagai seorang kepala keluarga?


"Apa kamu sudah puas menamparku? Apa kamu tidak bisa menghormatiku sebagai seorang kepala keluarga? Seorang suami yang menjadi ayah dari anak-anak kita?" ku sampaikan kekesalanku padanya.


"Seorang suami? Seorang ayah? Apa kamu mengingat itu pada saat berselingkuh? Pada saat kamu melakukannya, apa kamu ingat kami?" ternyata aku malah memancing kemarahannya, Diana semakin mengamuk histeris.


"Aku minta maaf, aku memang salah, aku khilaf. Sudah lama itu terjadi, bahkan sudah hitungan tahun aku tidak melakukannya, apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya kembali untuk menjadi seperti dulu? Menjadi seorang suami dan ayah yang bisa kalian andalkan dan kalian hormati?" entah apa yang keluar dari mulutku aku tidak bisa mengontrolnya lagi.


"Yang bisa diandalkan? Ok, tentu saja bisa. Kamu bekerjalah di sana dengan baik dan jangan coba-coba untuk berselingkuh kembali. Tapi aku yakin kamu tidak bisa berselingkuh karena ya, kamu tau sendiri keadaanmu sekarang bagaimana," Diana melihat milikku dengan senyum meremehkan.


Aku sungguh benci diriku yang sangat terlihat lemah seperti ini. Bahkan terlalu lemah sampai diinjak-injak seperti ini oleh istriku sendiri. Tapi apa dayaku, aku hanya bisa mengalah agar keluargaku tetap utuh, demi anak-anakku, Dave dan Laura.


"Aku bilang gak bisa ya gak bisa. Jangan coba-coba membahasnya lagi. Sekolah itu paling tepat untuk Dave, di sana kualitas sekolahannya bagus," ucapnya dengan sangat ketus.


"Bukan karena sekolah elit dengan latar belakang keluarga yang bersosial tinggi?" entah kenapa mulutku tidak bisa terkontrol lagi.


"Tentu saja. Kamu bisa lihat sendiri teman-teman Dave tadi. Bangga bukan bisa berteman dengan mereka?" ucapnya dengan bangga.


"Dan menghabiskan banyak uang?" mulutku kembali reflek mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa aku kontrol lagi.

__ADS_1


"Kamu keberatan? Bukannya kamu bilang ingin menjadi kepala keluarga yang bisa diandalkan? Lagipula aku tidak selingkuh seperti kamu!" ucapannya seperti petir yang menyambarku.


Diana kembali mengingatkanku akan kesalahanku. Dia selalu mengungkitnya setiap waktu, membuatku jengah dan rasanya ingin sekali menghindar. Tapi aku tidak bisa, karena aku ingin membawa mereka, aku ingin bersama dengan mereka apapun yang terjadi, karena mereka adalah keluargaku.


Dengan cepat aku pakai pakaianku dan keluar dari kamar kami, kamar yang berisi perabotan baru yang sangat mewah dengan harga yang tidak murah. Ku tinggalkan kamar itu dengan kesal dan omelan Diana yang mengiringi langkah kakiku menuju kamar Dave. Aku lebih memilih tidur dengan Dave, jagoanku yang berwajah mirip denganku.


Tak terasa air mataku menetes melihat wajah damai Dave. Aku menyesal, aku sangat menyesal atas kesalahanku itu. Aku ingin memperbaiki semuanya dan berbahagia dengan keluargaku.


Tanpa kusadari Dave bergerak dan bangun. Mungkin karena aku terlalu erat memeluknya sehingga dia merasa tidak nyaman atau mungkin karena tidak seperti biasanya yang tidak ada memeluknya.


"Emmm... Papa? Papa nangis? Papa kenapa nangis?" Dave bertanya padaku dengan suara seraknya karena terbangun dari tidurnya.


Aku menggelengkan kepalaku sebab aku tak kuasa berkata-kata. Mungkin jika aku mengucapkan sesuatu, hanya ada penyesalan dan kalimat maaf yang keluar dari mulutku.


"Papa jangan nangis, nanti Dave sedih kalau Papa nangis. Papa kenapa?" tangan kecil Dave mengusap air mataku yang menetes di pipiku dengan perkataan yang sangat menenangkan hatiku.


"Enggak, gapapa Sayang. Papa hanya kangen sama Dave. Papa ingin bisa tidur bersama Save setiap hari. Papa ingin bermain bersama Dave setiap hari. Apa Papa bisa?" aku bertanya pada Dave untuk mengalihkan pertanyaannya.


Hati Dave sangat lembut, aku yakin dia anak yang baik dan bisa diandalkan oleh Laura nantinya sebagai kakaknya.


"Bisa dong Pa. Dave juga mau seperti teman-teman Dave yang lain, yang bisa bertemu dan bermain bersama Papanya setiap hari. Apa Papa tidak akan pergi lagi?" kalimat yang keluar dari bibir mungil Dave ini membuatku trenyuh, dan air mataku kembali mengalir saat aku tak kuasa memeluknya kembali.


"Dave mau ikut Papa ke tempat Papa bekerja? Dave bisa sekolah di sana. Dan kita bisa bertemu juga bermain setiap hari. Bagaimana?" aku kembali menanyakan apa yang ingin aku tanyakan pada Dave.

__ADS_1


Dan seperti dugaanku, reaksinya sangat menyenagkanku. Dia mengangguk setuju dan berkata,


"Yes Papa, Dave mau!"


__ADS_2