
Ingin rasanya aku mengumpat kasar dan meneriakinya. Kenapa wanita ja**ng ini bisa sampai di rumahku? Dari mana dia tahu rumahku? Mengapa dia bisa sampai di sini? Pertanyaan-pertanyaan itu semua ada di benakku dan ingin aku tanyakan.
Namun tak semudah itu menanyakannya. Dia memang benar-benar wanita licik. Kini aku tidak bisa berkutik lagi, karena istriku duduk didekatnya. Entah apa yang mereka bicarakan tadi sebelum aku pulang.
Apa aku boleh mengumpatnya? Apa aku boleh memakinya? Atau jika bisa aku ingin menghilangkannya dari muka bumi ini.
Oh God.... apa yang harus aku lakukan? Aku menghela nafasku dan hanya bisa berbicara dalam hati, kemudian aku maki dan ku hujani dia umpatan, tentunya hanya bisa kulakukan dalam hati.
"Sayang, duduk sini, Reni udah nunggu lama dari tadi," Diana memanggilku seperti biasanya.
Dan hal itu yang membuatku curiga. Kenapa istriku bersikap biasa saja? Mungkinkah Reni tidak membahas hubungan kita? pertanyaan-pertanyaan ini berputar di otakku.
Aku mencoba tersenyum namun tak bisa. Senyumku hanya bisa aku berikan pada istriku. Namun ketika aku melihat Reni, senyumku lenyap dengan sendirinya.
"Baru pulang Lex?" Reni bertanya padaku seperti biasanya.
"Mau apa kamu kemari?" aku sudah tidak bisa menahan lagi pertanyaan yang akan aku tanyakan.
"Sayang, kamu apa-apaan sih. Dia udah jauh-jauh ke sini loh," Diana menegurku karena pertanyaanku yang menurutnya tidak sopan.
Aku mengusap wajahku kasar dan menghela nafas berat. Ku lirik sekilas Reni, senyum liciknya sungguh membuatku muak dan ingin mengeluarkannya dari rumahku ini.
"Aku ke sini hanya ingin memberitahu jika semua baju dan barang-barangku di apartemenmu sudah aku ambil. Dan kamu sungguh jahat Lex, kamu kembali ke sini tidak berpamitan padaku," dengan senyum liciknya Reni berbicara sambil menatapku.
Sialan!!! umpatan ini aku teriakkan dalam hati. Dan aku hanya bisa menatap Reni dengan penuh amarah dan kebencian. Aku ingin menghentikannya untuk berbicara, namun tidak bisa, lidahku terasa kelu tidak bisa digerakkan, sehingga aku tidak bisa berucap apapun.
__ADS_1
"Sebentar... sebentar... tunggu, barang? Baju? Apartemen? Kok bisa baju dan barang kamu ada di apartemen suamiku?" Diana nampak bingung dengan ucapan Reni.
Atau mungkin Diana tidak percaya dengan apa yang dia dengar? Entahlah aku tidak tau dan tidak mau tahu. Yang aku ingin urus sekarang masalah yang disebabkan oleh Reni. Akankah dia berhenti begitu saja? Rasanya tidka mungkin, karena Reni yang aku kenal penuh dengan ambisi, ambisi untuk memiliki dan ambisi untuk menghancurkan.
"Dia menempati apartemenku ketika aku pindah ke sini Sayang," aku mencoba menjelaskan pada Diana dengan menahan emosiku dan ku genggam tangannya.
Reni? Sudah tentu dia menyeringai menatapku yang sudah kelimpungan menjelaskan pada Diana. Mungkin saja dia tertawa di dalam hatinya.
"Benarkah itu Ren?" Diana bertanya pada Reni, sepertinya dia tidak mudah percaya dengan penjelasanku.
"Hahahaha..," wanita licik itu malah tertawa.
Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga dia bersikap seperti ini.
Aku sudah kehabisan kata-kata lagi. Percuma jika aku membujuk ataupun menjelaskan pada Diana jika masih ada Reni di sini.
"Lex, kenapa kamu tidak berbicara terus terang pada istrimu? Bukankah kita sepakat akan menikah?" Reni terkekeh mengucapkannya.
Jedar!
Seperti tersambar petir rasanya aku mendengar penuturan dari Reni tentang hubungan kita.
"Lex apa ini?!" raut amarah dan emosi Diana membuatku menciut.
Sungguh aku tidak pernah membayangkan dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku menjerit dalam hati.
"Tidak Sayang, aku tidak pernah ada niatan untuk menikahinya, sungguh, aku tidak pernah mengatakan itu padanya. Percayalah padaku," aku mengiba pada Diana, berharap dia akan percaya padaku.
"Tapi dia mengata-"
"Apa Lex kamu tidak pernah punya niatan untuk menikahiku? Jadi selama ini kamu anggap apa aku? Hanya teman tidur saja? Teman bermain kuda-kudaan? Atau teman untuk saling memuaskan?" Reni menyela perkataan Diana dengan perkataan vulgarnya yang membeberkan apa yang kita lakukan selama ini.
"Alex!" Diana meneriakkan namaku, dan tiba-tiba...
Plak!
Tangan Diana menampar pipi kanan dan kiri ku secara bergantian, dan berulang kali hingga pipi ku terasa sangat panas dan perih.
Aku memang tidak berniat menghentikannya ataupun membalasnya, karena aku memang bersalah.
Reni tertawa terbahak-bahak melihatku di tampar oleh Diana. Sepertinya dia sangat puas menertawakanku.
"Keluar kau wanita sialan! Pergi dari sini dan jangan ganggu hidupku lagi!" aku berteriak mengusirnya.
"Tenanglah Lex, ini aku akan meninggalkan kenang-kenangan untukmu," Reni melemparkan beberapa lembar foto di meja, kemudian dia tertawa dan pergi keluar dari rumahku.
Diana memungut semua foto itu dan dia memukuliku sekuat tenaganya. Aku hanya pasrah, biarlah dia memukulku semaunya asalkan dia mau memaafkanku.
"Alex, apa ini semua?" kobaran kemarahan terlihat jelas di mata Diana dengan menunjukkan semua lembaran foto itu padaku.
__ADS_1