
Baru saja aku bisa membuat Celine tertawa dan melupakan kesedihannya tentang semalam, dan kini kami bertemu kembali dengan mereka, teman-temanku yang menjuluki Celine sebagai wanita penggoda.
"Hai kalian semua apa kabar?" tanyaku pada mereka semua.
Aku berdiri dari tempat duduk dan ku ulurkan tanganku pada mereka. Mereka semua menjabat tanganku, namun senyuman mereka seolah mengejekku. Aku mencoba menahan emosiku dan menetralkan sikapku seperti biasa.
"Hai Lex, kamu di kota ini rupanya. Kenapa kamu gak pernah menghubungi kita atau kumpul-kumpul bersama kita di tempat biasanya?" Anton bertanya padaku.
Ku rasa mereka hanya ingin mencari tahu dengan memojokkan kami saja. Entah apa yang dikatakan oleh Reni pada mereka sehingga mereka memandang kami seperti kami sedang tertangkap basah oleh mereka.
"Maaf, aku sering sekali lembur, agar aku bisa pulang sebelum akhir pekan menemui keluargaku. Jadi maaf, aku belum bisa menemui kalian," ucapku pada mereka.
Celine hanya diam saja dan menunduk. Aku yakin kini nafsu makannya pasti sudah hilang. Ingin sekali aku mengusir mereka, namun aku tidak bisa karena pastinya Celine pun juga akan marah padaku. Dan jika aku mengajak Celine untuk pergi dari tempat itu, sudah pasti mereka akan berkomentar yang lebih buruk lagi tentang kami. Lalu apa yang harus aku lakukan?
Dengan seenaknya mereka duduk di meja kami. Mereka pun mulai memesan makanan, sepertinya mereka sengaja berada diantara aku dan Celine. Entah apa yang ingin mereka ketahui dari kami.
Aku menoleh ke arah Celine yang berada di sampingku sedari tadi, dan secara kebetulan Celine pun menoleh padaku. Aku yakin dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Namun aku yang bodoh ini tidak tahu apa maksud dari tatapan mata Celine padaku.
"Lex, ku dengar kalian akan menikah. Benarkah?" tanya Andre padaku.
"Apa istrimu mau dipoligami?" kini Dika yang bertanya padaku.
Mereka saling menyahuti untuk bertanya padaku meskipun aku belum menjawabnya. Entahlah apa maksud mereka. Apakah mereka bermaksud benar-benar bertanya padaku atau hanya bermaksud mengejekku.
"Cel, harusnya kamu sama aku aja yang masih single," Anton terkekeh mengajak bicara Celine dengan menghadap padanya.
Sungguh aku ingin sekali memukulnya. Kurasa mereka kekanak-kanakan sekali. Atau mungkin aku saja yang terlalu emosi?
__ADS_1
Celine hanya diam saja, mungkin dia masih memegang teguh ucapannya kemarin malam. Percuma memberitahu mereka jika mereka tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya ingin dengar apa yang ingin mereka dengar. Itulah ucapan Celine yang benar-benar aku ingat.
"Kalian semua salah sangka. Aku dan Celine tidak ada hubungan apa-apa. Dan kami hanya berteman seperti biasa aja, sama seperti kalian," aku mencoba menjelaskan pada mereka sebagai bentuk pembelaan diriku dan Celine.
"Ah kamu bisa aja Al. Buktinya kalian selalu bersama. Padahal jika aku mengajak Celine jalan, dia selalu aja menolak," ucap Anton yang memang sepertinya tertarik pada Celine.
"Tapi hebat loh kamu Al, kamu bisa ngalahin Gio. Celine lebih milih kamu daripada Gio, dan sekarang Gio nikah sama Reni yang tadinya mau nikah sama kamu. Apa ini seperti barter pasangan?" ucap Andre yang disambut tawa teman-teman yang lain.
Andre, Dika dan Anton memang bekerja satu kantor, mangkanya mereka selalu ke mana-mana bersama.
"Kalian salah. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Aku dan Reni memang tidak akan pernah menikah karena aku sudah berkeluarga. Reni saja yang selalu memaksa datang menemuiku. Dan untuk Gio, dia berselingkuh dengan Reni. Jadi kalian jangan berburuk sangka dulu dengan kami. Belum tentu apa yang kalian pikirkan itu benar," aku mencoba lagi menjelaskan pada mereka.
"Kalau begitu Celine sama aku aja. Aku kan single," Anton mencoba mendekati Celine kembali.
"Single dari Hongkong?" sahut Dika sambil tertawa.
Celine hanya diam dan mengaduk-aduk minumannya, sambil menikmati makanannya agar kelihatan sibuk. Aku yakin Celine sangat tidak nyaman dengan mereka. Semoga pencernaannya baik-baik saja karena dia makan dengan tidak nyaman.
"Gimana Cel? Daripada kamu dibilang jadi wanita penggoda suami orang, lebih baik sama yang single aja Cel," ucapan Anton ini seolah-olah dia memaksa Celine untuk menerimanya.
"Kalian jangan menyebut Celine seperti itu. Dia bukan wanita seperi yang kalian bicarakan. Dan kami benar-benar tidak ada hubungan apa-apa," aku mencoba menjelaskan kembali pada mereka.
"Cieee dibelain. Lagian Celine cantik gini, siapa yang gak mau sama dia. Ibaratnya, dia cuma ngangkang aja, cowok-cowok udah berebut pengen sama dia," ucap Andre yang disambut tawa oleh yang lain kecuali aku dan Celine.
Byur!
Muka dan baju Andre basah karena tersiram air. Dan pelakunya adalah Celine. Dia mengguyur Andre dengan minumannya.
__ADS_1
Yess!!!
Aku tertawa dan bersorak dalam hatiku. Aku sangat puas melihat Andre yang bermulut pedas disiram air dari gelas minumannya oleh Celine. Mungkin Celine sudah geram pada mereka. Bayangkan saja, Celine yang sabarnya bukan main itu bisa melakukan hal itu pada mereka. Berarti mereka sudah sangat keterlaluan bukan?
"Kamu...," ucap Andre yang tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Celine padanya.
Andre berdiri hendak meraih tubuh Celine namun dengan sigapnya aku menghalanginya.
"Hei Lex, mungkin sekarang kamu dibutakan oleh kecantikannya. Asalkan kamu tau, Gio aja sekarang menyesal menikah dengan wanita penggoda ini."
Plak!!!
Telapak tangan Celine mendarat sempurna pada pipi Andre. Anton dan Dika hanya diam melihat Celine yang pendiam sekarang berubah menjadi emosi dan orang yang pendiam biasanya lebih menyeramkan jika sudah marah dan emosi. Lihat saja mereka jadi diam karena Celine yang kini berani melawan mereka, tidak lagi menjadi Celine yang hanya mengalah dan diinjak-injak harga dirinya.
"Aku balik Al, terima kasih atas makanannya," ucap Celine dengan suara yang tidak biasanya.
Ya, benar, dia benar-benar marah. Celine marah sekarang ini. Aku harus menenangkannya. Aku harus bagaimana? Aku harus tetap di sini atau ikut dengan Celine? Dan ku putuskan bahwa aku akan mengantarkan Celine kembali karena memang sudah menjadi tanggung jawabku yang membawanya ke tempat ini tadi.
"Yang benar saja Al, kamu meninggalkan kami hanya karena mengejar wanita penggoda itu?" Dika bertanya padaku ketika aku sudah melangkahkan kakiku selangkah saja.
"Karena aku yang mengajaknya ke sini. Jadi aku harus mengantarkannya kembali" aku menjawab dengan apa adanya.
"Penasaran gak Al jika keluargamu tau tentang hubunganmu dengan Celine?" suara Andre membuatku menoleh kembali pada mereka.
Aku bingung akan tetap berada di tempat itu bersama mereka atau menyusul Celine. Namun seketika aku teringat akan janjiku pada diriku sendiri yang tidak akan membiarkan Celine sedih ataupun menangis, terlebih lagi akulah yang menjadi penyebabnya. Dengan langkah pasti aku meninggalkan mereka dan berlari menyusul Celine yang berjalan dengan sangat cepat.
"Cel... tunggu!"
__ADS_1