Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 44 Vonis yang membuat stres


__ADS_3

Pagi ini aku harus pulang kembali ke kota di mana aku harus bekerja. Semalam aku sudah berbicara dengan Diana. Dan dia tetap bersikukuh untuk tetap berada di kota ini.


Sebenarnya aku sangat bingung dengan keteguhan hati Diana yang tidak mau ikut bersamaku ke tempatku yang sekarang ini. Bukannya dia harusnya senang karena kami bisa berkumpul seperti layaknya keluarga? Tapi nyatanya, dia malah lebih memilih tinggal berjauhan denganku dan bertemu hanya satu minggu sekali saja.


Aku tidak bisa memaksanya lagi, karena aku juga tidak mau hubungan kami semakin memburuk, jadi haruslah aku yang mengalah.


Dave sengaja diberangkatkan pagi sekali oleh Diana agar dia tidak mengetahui jika aku kembali hari ini. Sungguh licik bukan istriku? Aku tidak tahu bagaimana reaksi Dave nanti jika mengetahui aku sudah tidak ada di rumah pada saat dia pulang ke rumah nanti.


Sungguh berat langkah kakiku menapaki bandara ini. Biasanya aku merasa bersemangat karena mendapat dukungan dari istri dan anak-anakku yang mengantarkanku di bandara ini. Tapi kini, aku hanya seorang diri dan merasa sangat kosong dalam hati ini. Hingga aku ingin sekali berteriak agar semua orang tau jika aku sangat membutuhkan dukungan dari orang yang terkasih.


Hariku berjalan seperti biasanya, antara rumah dan kantor. Aku tidak pernah bertemu dengan Celine karena dia juga sibuk dengan pekerjaannya dan cafe barunya. Dan aku juga masih dengan pengobatanku.


Saking frustasinya aku hingga aku juga berobat alternatif agar aku bisa cepat sembuh, dan mungkin saja jika aku sembuh, istriku mau ikut bersamaku datang ke kota ini.


Tidak ada yang salah dengan diriku dan kesehatanku. Hingga dokter memvonisku dengan penyakit disfungsi ereksi. Dan aku harus melakukan pembedahan jika berkenan. Aku berpikir panjang tentang itu, sehingga aku semakin stres memikirkannya.


Aku menghubungi Diana malam ini berniat untuk memberinya kabar, namun sepertinya dia sangat sibuk sehingga tidak menjawab teleponku. Entahlah dia sibuk apa, mungkin sibuk mengurusi Laura dan Dave atau mungkin sibuk yang lain. Aku tidak tahu dia benar-benar sibuk ataukah menghindari teleponku.


Semakin aku memikirkan hidupku, semakin frustasi yang aku rasakan. Hingga lambungku kembali terasa sakit karena sibuknya aku dengan pikiranku dan tidak mengingat akan jadwal makanku.


Ku langkahkan kakiku keluar dari apartemenku untuk membeli makanan. Mobil ku lajukan dengan kecepatan sedang untuk melihat apa yang aku inginkan untuk bisa mengisi kekosongan perutku.


Pandangan mataku terkunci pada sebuah cafe yang sangat menarik perhatianku. Cafe milik Celine yang memang aku sukai makanan dan suasananya. Tanpa aku komando, tanganku sudah menggerakkan kemudiku untuk berbelok pada cafe tersebut.


Kakiku dengan ringannya masuk dengan hati yang sangat senang. Entah mengapa aku juga tidak mengerti. Perasaan siapa yang tahu, bahkan aku sendiri yang merasakannya tidak mengetahui penyebabnya.


Jantungku semakin berdebar. Sangat aneh aku rasakan.


Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini? Padahal aku tadi baik-baik saja. Apa sekarang ada yang salah dengan jantungku? Oh God... kenapa hidupku jadi serumit ini? Aku berkata dalam hatiku dengan langkahku yang tidak berhenti memasuki cafe milik Celine.

__ADS_1


"Al!" suara ini, suara wanita yang sangat aku inginkan, namun aku tidak bisa menggapainya.


Ku balikkan badanku untuk mencari tahu kebenaran dari pendengaranku. Aku takut jika semua itu hanya ilusi karena aku terlalu berharap untuk bertemu dengannya.


Senyumku memgembang tatkala melihat sosok wanita tersebut benar-benar wanita yang aku harapkan. Celine Amartha, wanita yang namanya selalu ada di dalam hatiku.


"Cel, kamu masih di sini?" ucapku seraya berjalan menghampirinya.


"Nanti Al, sampai closing kayaknya," ucapnya sambil memberikan senyum manisnya, senyum yang selalu bisa membuat hatiku berdebar dan selalu terbayang di pelupuk mataku.


Jantungku semakin berdebar hanya karena melihatnya. Dan kini aku mengerti jika tidak ada yang salah dengan jantungku. Dia hanya bereaksi karena aku akan bertemu dengan pujaan hatiku.


Entah mengapa namanya tidak bisa hilang dalam hatiku. Padahal selama ini aku sudah mengikhlaskan perasaanku dan berusaha menghadirkan orang baru yang lebih dekat denganku. Orang itu adalah Diana, istriku, ibu dari anak-anakku. Sangat dekat dan lebih intim bukan daripada Celine yang hanya menjadi temanku saja? Namun tetap saja nama Celine tidak bisa terhapus dalam hatiku.


"Al, Al... kok bengong sih? Kamu kesini mau bertemu denganku?" Celine mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajahku.


Bodohnya aku hingga terbengong hanya karena melihat senyum manis Celine yang sudah beberapa lama tidak aku jumpai.


"Kamu itu Al kebiasaan. Sibuk boleh, tapi harus tetap makan. Udah, kamu masuk ke ruangan yang biasanya aja, biar aku pesankan makanan buat kamu," Celine mendorong tubuhku masuk ke dalam ruang VIP yang waktu itu kami tempati.


Sekitar sepuluh menitan Celine masuk ke dalam ruangan yang ku tempati. Dengan membawa sesuatu dan tersenyum getir.


"Kok lama Cel? Apa kamu memesan banyak makanan seperti waktu itu untuk menyambutku kembali ke cafe ini?" aku mengeluarkan candaanku agar aku bisa kembali melihat senyum manisnya.


See... Celine benar-benar tersenyum, bahkan dia terkekeh ketika duduk di hadapanku.


"Kamu ini Al ada-ada aja," ucapnya dengan terkekeh.


Aku ikut terkekeh dan bahagia melihat tawanya. Sungguh aku jadi lupa akan penyakitku dan beban hidupku.

__ADS_1


Apa Celine merupakan obat yang tepat untukku? Hanya dengan melihatnya saja aku bisa lupa akan segalanya. Ah... seandainya.... aku membatin dan kembali berandai-andai dalam pikiranku.


"Al... emmm.. ," Celine sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Ada apa Cel? Ada masalah?" aku bertanya dengan perasaan cemas padanya.


"Enggak, cuma... mmm.. ini Al," ucapnya dengan ragu-ragu.


Celine memberikan sesuatu yang dia bawa tadi padaku dengan menaruhnya di meja.


"Apa ini Cel?" tanyaku ketika aku mengambil benda itu.


"Bukalah Al. Bacalah," ucapnya dengan senyum yang getir.


Aku menurutinya. Ku buka dan ku bacalah lembaran itu. Mataku melotot kaget melihat tulisan yang ada pada undangan tersebut.


"Cel... undangan ini...," aku tidak bisa meneruskan perkataanku.


Celine mengangguk dan senyuman getir itu kembali terlihat di bibirnya. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Dan aku tidak mengira jika hal ini akan terjadi secepat ini.


"Cel, kamu... undangan ini...," lidahku kelu untuk berucap, hingga apa yang ku katakan tidak seperti yang akan aku ucapkan.


"Iya Al, itu undangannya," jawab Celine dengan kembali memaksakan senyumnya.


"Kamu gapapa kan Cel?" aku bertanya karena aku benar-benar khawatir dengannya.


"I'm fine. Kamu gak perlu khawatir," jawabnya dengan senyum yang masih dipaksakannya.


"Tapi Cel-"

__ADS_1


Tok... tok... tok..


__ADS_2