
Jantungku berdebar ketika Dave memberitahukan penyebab mengapa Laura bisa berada di rumah sakit. Bahkan aku saja belum tahu penyakit apa yang sedang di derita oleh Laura saat ini.
Bukannya aku tidak care pada Laura. Dia anakku, tidak mungkin aku tidak care padanya. Hanya saja pada saat aku datang tadi, Diana sedang menangis. Sangat tidak mungkin sekali bukan jika aku tega menanyakan tentang penyakit atau penyebab Laura bisa berada di rumah sakit saat ini.
Dan sekarang aku mengetahui itu dari Dave. Baru kemarin aku berpikir Diana sangat berat mengasuh dan mendidik Dave serta Laura tanpa diriku berada di sampingnya.
Namun kini aku tidak begitu yakin jika Diana benar-benar menjaga Laura dengan baik. Ku yakinkan hatiku agar tidak menyalahkan sepenuhnya pada Diana. Mungkin saja Diana sangat lelah mengurus Dave dan Laura sendirian setiap hari. Sehingga dia ingin sedikit saja bersantai.
Aku mencoba memakluminya walaupun jauh dari dalam hatiku tetap saja menyalahkannya.
Oh God... aku harus bagaimana? Menurutku cara satu-satunya hanya dengan memaksa Diana untuk mau pindah bersamaku ke kota tempat aku bekerja saat ini.
Ku bulatkan tekadku agar aku bisa memaksa Diana dan anak-anak kami mengikutiku kembali ke sana. Tapi sepertinya aku harus menunggu hingga Laura sembuh dan keluar dari rumah sakit.
"Dave di rumah dengan Om dan Nenek dulu ya. Papa akan menjaga Laura di rumah sakit dulu," ucapku pada Dave ketika aku akan meninggalkannya untuk berangkat ke rumah sakit.
Dave mengangguk dan melambaikan tangannya seraya berkata,
"Hati-hati Papa...."
Aku berbalik kembali dan tersenyum pada Dave untuk membalas lambaian tangannya.
"Dave apa Dave senang di sekolahmu yang sekarang? Apa Dave senang dengan semua kegiatan Dave setiap hari?" tanyaku sebelum aku masuk ke dalam mobilku.
Dave terdiam. Dia tampak berpikir sebentar, namun setelah itu Dave menjawab,
"Apa ada pilihan?"
__ADS_1
Aku tertarik dengan jawaban dari Dave. Ku dekati kembali dia dan kutanyakan apa yamg ingin aku tanyakan selama ini padanya.
"Dave maunya gimana?"
"Dave pengen ada waktu bermain lebih lama lagi, karena Mama hanya memberikan waktu satu jam saja untuk bermain. Dan Dave ingin Papa bersama kita lagi agar Dave bisa bermain bola dan pergi ke taman hiburan bersama dengan Papa," ucap Dave dengan antusias.
Aku sangat iba pada Dave. Di usianya yang masih kecil ini, Dave sudah harus belajar lebih keras daripada teman-temannya yang lain. Dan lebih kasihan lagi karena Dave tidak memiliki waktu bermain layaknya anak-anak seusianya.
Memang aku akui jika semuanya menjadikan Dave lebih berprestasi di sekolahnya, namun dibalik semua itu pasti dia merasa tertekan karena jadwalnya yang lebih padat dibandingkan anak seusianya.
Menurutku imbangkan saja waktu bermain dan belajarnya, aku yakin Dave pasti akan menjadi juara kelas bahkan juara sekolah. Karena di samping Dave memang pintar, dia juga mempunyai keinginannya sendiri. Siapa tahu jika keinginannya ditepati pasti dia akan lebih bahagia, dan itu akan berimbas juga pada akademisnya.
"Baiklah, Papa akan usahakan agar Mama mau untuk mengabulkan permintaan Dave," ucapku sambil mengusap kepalanya.
Dave pun bersorak senang dan dia mencium pipiku dengan gembira. Ah... betapa senangnya hatiku melihat Dave sangat bahagia. Aku takut jika selama ini dia hanya terpaksa saja mengikuti semua keinginan dari Diana.
"Doakan Laura agar cepat sembuh ya Dave," ucapku melalui jendela mobilku.
Ku lajukan mobilku menuju rumah sakit tempat Laura dirawat saat ini. Dengan semangat dan iringan doa dalam hatiku, aku ingin anakku cepat sembuh dan Diana mau aku ajak pindah ke kota tempat ku bekerja saat ini.
Tepat pada saat aku akan masuk ke dalam kamar Laura, pada saat itu juga dokter masuk dan memeriksa keadaan Laura.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanyaku pada dokter tersebut setelah selesai memeriksa keadaan Laura.
"Anak Bapak sudah lebih membaik, hanya saja tolong untuk tidak memberikan makanan yang belum bisa dicernanya. Bersyukur anak Bapak cepat bisa ditangani. Jika pada saat itu tidak secepatnya dibawa ke sini, mungkin anak Bapak akan lebih parah dari ini, bahkan bisa saja kritis karena dehidrasi yang sangat berlebihan," dokter tersebut menjelaskannya pada Alex yang tampak syok mendengarkan tentang keadaan anaknya.
"Kira-kira kapan anak saya bisa pulang dok?" tanya Alex pada dokter tersebut.
__ADS_1
"Mungkin besok, bisa juga lusa. Kita tunggu dulu hasil pemeriksaan yang selanjutnya," jawab dokter tersebut pada pertanyaan Alex.
"Baik, terima kasih dok," ucap Alex pada dokter tersebut.
Aku duduk di kursi sebelah Laura. Ku pandangi wajahnya lama, dan aku merasa bersalah padanya.
Diana terlihat seperi cemas, namun dia tidak berani mengatakannya pada Alex. Karena sudah bisa dipastikan bahwa suaminya itu pasti akan melarangnya.
"Ada apa? Apa ada yang aku tidak ketahui?" tanya Alex yang merasa sedikit heran melihat Diana yang cemas.
"Mmm... itu.... aku mau keluar sebentar, aku titip Laura sama kamu ya. Aku udah telat dari tadi," jawab Laura sambil berdiri merapikan bajunya.
"Mau ke mana?" tanyaku padanya.
"Arisan dengan mama-mama temannya Dave," jawaban Diana ini membuatku tertawa dalam hati.
"Arisan? Apa arisan lebih penting dari anakmu? Laura pasti mencari Mamanya jika dia bangun nanti," ucapku dengan sedikit menaikkan nada bicaraku.
"Karena aku sudah mendapatkan arisan itu minggu lalu," jawabnya dengan ikut menaikkan nada bicaranya.
"Apa yang kamu dapatkan dari arisan yang bisa melupakan tugasmu menjadi ibu Laura?" tanyaku dengan kesal.
"Satu set perhiasan bertabur berlian. Pasti kamu gak akan bisa membelikannya buatku. Jadi, please biarkan aku pergi arisan sebentar. Aku gak mau mereka menyebutku yang tidak-tidak hanya karena aku telat sedikit saja," jawabnya dengan tersenyum membayangkan perhiasannya yang berada dalam box perhiasan.
"Kamu keterlaluan Diana. Tadinya aku hanya mau diam saja, namun ternyata kamu tidak berubah, bahkan kamu lebih parah dari kemarin, sejak kamu berkumpul dengan mereka kaum elit yang membuatmu jadi seperti ini sekarang," aku sudah tidak bisa lagi menahan amarahku.
"Apa maksudmu? Apa aku salah? Bukannya memang benar kamu sekarang hampir seperti pria yang tak berguna yang hanya bisa bekerja untuk mencari uang saja," tukas Diana sambil tersenyum meremehkanku.
__ADS_1
"Kamu.... ahh... aku bahkan gak bisa berkata buruk padamu. Ternyata hanya itu saja penilaianmu terhadapku? Apa kamu tidak lagi menghormatiku menjadi seorang suami dan Papa dari anak-anak kita?" tanyaku padanya dengan lirih karena sungguh aku lelah dengan semuanya ini.
"Aku... aku minta kita bercerai, bagaimana? Apa kamu mau menceraikanku?"