
Janjiku pada diriku sendiri akan aku tepati. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi Celine kapanpun itu, meskipun hanya dari kejauhan. Dan kini itu benar-benar terjadi. Aku hanya bisa melihat Celine dari jauh saja.
Sejak kejadian makan siang di restoran Jepang itu, Celine menghindariku. Dia menolak semua panggilan teleponku. Pesanku pun dia acuhkan. Hingga aku sengaja mendatangi kantornya di jam makan siang, namun aku tidak seberani yang semua orang bayangkan. Aku hanya menunggunya di tempat biasanya aku menjemputnya.
Aku benar-benar seperti orang bodoh yang sedang menunggu orang yang belum tentu ada di dalam sana. Celine tidak keluar dari kantornya hingga jam makan siang selesai. Dan dengan terpaksa aku kembali ke kantorku tanpa bertemu ataupun melihat Celine.
Bisa dibayangkan bukan bagaimana perasaanku? Aku benar-benar cemas dan merasa bersalah padanya. Karena aku Celine difitnah oleh Reni sehingga dia harus menikah dengan laki-laki sialan itu. Karena aku Celine menjadi alat balas dendam Reni. Karena aku Celine jadi bahan cemoohan teman-teman. Dan karena aku Celine merasakan sakit hati dan menderita.
"Bodoh... bodoh... bodoh....," aku berteriak di dalam mobil dengan memukul-mukul kemudiku, dan aku merasa benar-benar seperti orang bodoh.
Aku tidak menyerah begitu saja, aku menghubunginya kembali beberapa kali dan juga mengiriminya pesan beberapa kali. Hingga ku rasa sepertinya aku sedang menerornya.
Beberapa hari sudah Celine menghindari bertemu denganku. Menghindari telepon dan juga pesan dariku. Aku sangat frustasi hingga rasanya aku ingin berteriak memanggil namanya agar dia mau menemuiku.
God....
Bolehkah aku bertanya? Kenapa disaat hubunganku membaik dengan keluargaku disaat itu pula persahabatanku dengan Celine merenggang? Apa artinya ini? Apakah aku harus memilih? Dan jika memang aku harus memilih, maka aku tahu jawabannya. Pasti Celine menyuruhku untuk tidak berhubungan dengannya agar hubunganku dengan keluargaku membaik. Aku sangat yakin itu.
Ku lajukan mobilku ke suatu tempat yang aku yakin Celine selalu ada di sana. Tempat itu sangat ramai, jadi tidak akan mungkin Celine berani mengusirku bukan? Ok, ku putuskan untuk mendatangi tempat itu.
Setelah mobilku ku parkirkan dengan sempurna, aku menyiapkan hatiku untuk masuk ke dalam tempat yang ada di hadapanku. Mataku menyusuri setiap sudut dalam tempat ini, dan hasilnya nihil, aku tidak menemukan Celine di sana.
"Mbak, apa Celine datang ke sini?" tanyaku pada seorang waitress yang sedang berjalan seusai mengantarkan makanan.
__ADS_1
"Beberapa hari ini Bu Celine tidak datang Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" jawaban dari waitress ini tidak membantuku sama sekali, jawaban darinya malah membuatku menjadi cemas.
"Apa dia sakit? Kenapa dia tidak datang dalam beberapa hari ini?" tanyaku tidak sabar mendengar jawaban dari waitress tersebut.
"Kami tidak tau Pak. Bu Celine tidak memberi kabar sama sekali," jawabnya.
Aku diam, mataku menyusuri tempat itu karena aku berpikiran jika Celine hanya menghindariku dan tidak mau bertemu denganku.
"Saya permisi dulu Pak," waitress tersebut berpamitan padaku.
Dengan terpaksa aku keluar dari cafe milik Celine. Aku tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi. Seketika aku teringat dengan restauran milik Tante Shela. Ingin rasanya aku pergi ke sana dan bertanya pada Tante Shela, namun ketakutanku lebih besar daripada rasa inginku. Aku takut jika Tante Shela tahu yang sebenarnya, dia akan melarang Celine untuk bertemu atau berhubungan denganku selamanya. Lebih menakutkan bukan?
Hati, pikiran dan tubuhku tidak sinkron. Ingin sekali aku pergi ke tempat Tante Shela, namun seketika hatiku mengatakan jangan, tapi pikiranku selalu mengarah pada Celine dan akhirnya tanpa ku sadari, mobilku sudah berada di depan restauran milik Tante Shela.
Dan inilah akhirnya aku harus memutuskan untuk pergi dari tempat ini, karena Tante Shela sudah keluar dari restorannya dan masuk ke dalam mobilnya. Sepertinya dia akan pulang. Sangat tidak mungkin jika Celine masih berada di dalam sana.
Sial!
Aku lupa jika perutku belum terisi sama sekali semenjak pulang dari kantor tadi. Seperti biasanya, penyakit lambungku kembali terasa. Bodohnya aku, kenapa tadi tidak makan saja di cafe milik Celine atau di restoran milik Tante Shela. Ckckck... aku merasa sangat bodoh hanya karena memikirkan Celine.
Terpaksa aku menghentikan mobilku di cafe yang berjarak tidak jauh dari restoran milik Tante Shela. Cafe itu menjadi tempat berkumpulnya teman-teman SMP ku dan Celine. Entah kapan saja mereka berada di sana, aku tidak tahu. Apa mungkin pada saat mereka janjian saja, atau bahkan tiap hari, aku juga tidak tahu tentang itu. Sekarang yang aku pikirkan hanya perutku agar aku tidak jatuh sakit karena mengabaikannya.
Semoga aku tidak bertemu dengan mereka di sini, doaku dalam hati ketika memasuki cafe tersebut.
__ADS_1
Segera aku pesan makanan dan duduk di tempat yang dekat saja agar aku bisa cepat pergi setelah aku selesai makan. Rasanya sangat lama ketika aku menunggu makananku di meja ini.
Ku perhatikan jam tanganku dan aku tertawa dalam hati. Hanya sekitar lima menit aku menunggu dan aku bilang sudah sangat lama menunggu, sangat lucu bukan?
"Wah Lex... akhirnya kami datang juga," suara ini, suara yang aku kenal.
"Ternyata kamu masih Alex teman kami," dan suara yang satu ini juga, aku mengenalnya.
"Kenapa gak hubungi kami dulu Lex sebelum datang ke sini? Untung saja kita mampir ke sini tadi, kalau gak... ya gak bakalan ketemu kita," dan suara ini juga, lengkap sudah, tiga suara yang tidak asing di telingaku.
Anton merangkul pundakku dan duduk di kursi yang berada di sampingku. Sedangkan Andre dan Dika duduk di kursi yang ada di hadapanku.
Aku tersenyum dengan terpaksa. Aku harap mereka tidak menyadari senyum paksaku itu. Mereka masih saja seperti yang dulu, selalu saling mengolok, tapi itu menjadi hiburan untuk kami tersendiri.
Namun tiba saatnya aku yang terkena giliran untuk mereka jadikan sasaran candaan mereka. Tapi yang satu ini membuatku emosi. Mereka menyangkut pautkan Celine dalam candaannya. Mereka tidak berubah, bahkan setelah Celine menampar dan mengguyurnya dengan jus milik Celine waktu itupun dia tetap memandang rendah Celine, hingga menyebutnya dengan wanita penggoda dan wanita pelakor.
Brak!!!
Bukk!
Bukk!!!
Bukk!!!
__ADS_1
Bukk!!!