
"Ayo kita jalan-jalan ke tempat yang kalian inginkan setelah kita sarapan," aku mengajak mereka berjalan-jalan menghabiskan weekend bersama.
"Yeee.... asik jalan-jalan...!" Dave bersorak kegirangan.
"Mau ke mana kita?" Diana bertanya padaku disela kegiatan makannya.
"Terserah kalian mau ke mana. Kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin pada saat kita bersama," jawabku menanggapi pertanyaan Diana.
"Sepertinya aku gak bisa ikut deh. Ada pertemuan dengan yang lain," ucap Diana di sela makannya.
"Ayolah Sayang... Kita hanya bertemu seminggu sekali saja, apa tidak bisa kamu luangkan waktu untuk kita bersama-sama?" aku memohon padanya dengan wajah mengiba agar dia mau menurut padaku kali ini.
"Ah Mama gitu... padahal udah tiap hari sama mereka. Apa Mama gak bosen? Hari ini kita pergi sama Papa aja Ma, kan gak bisa tiap hari pergi sama Papa," Dave merengek memohon pada Mamanya.
Diana terdiam sejenak. Dia memikirkan keinginan anaknya. Kalau dipikir-pikir memang kita jarang sekali pergi bersama. Kadang weekend kami hanya habiskan di rumah untuk bermain bersama. Dan itupun tanpa Diana. Dia lebih mementingkan pertemuannya dengan teman-temannya itu.
Aku memegang tangan Diana dan menatapnya penuh permohonan.
"Please...," ucapku padanya.
Dan Dave juga mengikuti aku, dia memohon pada Mamanya dengan berkata,
"Please Mom...."
Aku memandang Dave yang sepertinya sangat mengharapkan bisa bepergian dan bersenang-senang dengan kedua orang tuanya. Sangat kasihan.
Ketika anak-anak seusia Dave sering bepergian dan bersenang-senang dengan kedua orang tua mereka, Dave hanya berteman dengan keinginannya saja. Dia anak kecil yang hanya bisa memendam keinginannya padahal dia bisa mewujudkan keinginannya itu.
Banyak anak yang tidak beruntung karena tidak mempunyai orang tua lengkap, namun Dave punya, kedua orang tuanya masih lengkap. Lalu, mengapa dia tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk bepergian dan bersenang-senang dengan kedua orang tuanya? Sungguh sangat mencengangkan bukan?
Diana nampak berpikir, dia melihat ke arahku dan ke arah Dave, beberapa detik kemudian dia mengangguk dan tersenyum pada kami.
Seketika Dave bersorak kegirangan. Sudah bisa dipastikan jika Dave sangat bahagia.
Mungkin Diana tadi berpikir hingga benar-benar memutuskan untuk mau mengikuti keinginan kami.
Tapi pertanyaan mulai timbul di benakku? Apa benar, Diana mau meninggalkan acaranya yang menurutnya lebih penting itu daripada bepergian bersama dengan suami dan anak-anaknya? Aku jadi ragu.
__ADS_1
Ok kita buktikan saja, aku berkata dalam hatiku.
Dan akhirnya kami pun berangkat untuk menyenangkan hati Dave. Memang tempat ini yang diinginkan oleh Dave. Katanya sih Dave ingin sekali pergi ke tempat ini karena diiming-iming oleh teman-teman sekelasnya.
Sungguh miris hatiku mendengar anakku menjadi bahan olokan teman-temannya hanya karena tidak tinggal bersamaku, tinggal jauh dari papanya.
Hati orang tua mana yang tidak trenyuh mendengar hal seperti itu padahal papanya masih hidup dan kedua orang tuanya pun masih bersama.
Lihatlah, Dave sangat senang dan gembira sekarang. Rasanya kesedihan, kemarahan dan pikiranku sudah bebas, hilang semua tanpa ada rasa frustasi ketika melihat Dave gembira dan senang seperti itu.
"Sepertinya Dave sangat menikmati liburannya. Lihat, dia sangat senang sekali," ucapku yang masih melihat Dave bermain di wahana favoritnya.
Tidak ada jawaban dari Diana. Dia tidak meresponku. Aku menoleh padanya, ternyata dia sangat sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan dengan ponselnya? Padahal Laura sudah ada dalam gendonganku.
"Papa.. Mama... Dave mau main di sana," ucap Dave sambil menunjuk kolam renang dengan wahana airnya.
Segera aku berdiri dengan Laura masih dalam gendonganku. Sedangkan Diana masih sibuk dengan ponselnya. Aku menatap heran padanya karena dia tak juga berdiri ataupun memperdulikan Dave yang menarik-narik lengan bajunya.
"Ma... Mama... ayo kita ke sana," Dave merengek padanya.
Mataku terbelalak melihat Diana yang membentak Dave hingga Dave kaget dan ketakutan melihatnya.
"Kenapa kau bentak Dave? Lihat dia ketakutan!" reflek saja aku berseru padanya.
Ku raih tubuh mungil Dave dan ku peluk dia. Matanya yang tadinya berkaca-kaca, kini mengalirkan air matanya tanpa terdengar suara tangisnya.
Aku menatap Diana dengan kesal. Dan anehnya, dia tidak merasa bersalah pada Dave. Harusnya dia memeluknya dan meminta padanya, tapi ini apa? Dia malah kembali sibuk dengan ponselnya.
Saking kesalnya aku, ku rampas ponselnya dan ku letakkan di saku celanaku.
"Kembalikan!" dia berseru dengan mata membelalak padaku.
"Akan ku kembalikan setelah kita pulang ke rumah," ucapku dengan tegas.
"Kurang ajar!"
Plak!
__ADS_1
Dia mengataiku dan menamparku. Aku sungguh kaget, dan tidak mengira jika ini terjadi padaku di tempat umum.
Kini kita menjadi tontonan semua irang yang ada di sana. Sedangkan Dave berdiri dengan memeluk kakiku dan menangis tersedu-sedu.
Baru kali ini Dave melihat kami berdebat yang mengarah untuk pertengkaran. Dan baru kali ini juga Dave melihatku ditampar oleh Diana.
Selama ini yang dilihat Dave hanyalah kebahagiaan kami. Mama dan Papanya bahagia, tidak pernah bertengkar ataupun ada perlakuan kasar diantara kami.
Sebisa mungkin aku hindari itu agar Dave tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat dan bahagia.
"Keterlaluan kamu Diana," ucapku dalam keadaan marah dengan mengeratkan gigiku untuk menahan kemarahanku agar tidak menarik perhatian orang-orang disekitar kami lagi.
Aku pikir dia akan meminta maaf padaku dan mengaku salah memperlakukanku dengan Dave seperti itu. Namun apa yang kulihat ini membuatku tecengang. Dia memelototkan matanya padaku dengan wajah penuh kemarahan sambil berkacak pinggang di hadapanku seolah dia menantangku.
Aku sempat berpikir, apa dia benar istriku? Kenapa aku bisa memperistri dia waktu itu?
Penyesalan, ya, hanya penyesalan yang kini aku rasakan. Dan kini aku sebagai seorang suami harus mendidiknya dan meluruskannya agar tidak seperti teman-temannya itu.
"Kembalikan! Kembalikan HP ku!" dia berseru padaku di hadapanku.
"Kamu sudah berjanji padaku dan Dave akan menikmati liburan ini bersama. Ayolah... jarang-jarang bukan kita bisa berkumpul bersama?" aku merendahkan harga diriku untuk memohon padanya.
"Aku gak pernah janji pada kalian. Aku hanya menyetujui untuk pergi bersama kalian ke sini. Dan sekarang aku sudah ada di sini bersama kalian, lalu kurang apa lagi?" suaranya meninggi di saat aku sudah merendahkan suara dan harga diriku untuk memohon padanya di tempat umum seperti ini.
Aku berjongkok mensejajarkan tinggi badanku dengan Dave dan memberikan pelukan padanya. Kemudian aku berkata,
"Baiklah Dave, kita main di sana bersama Laura ya. Biarkan Mama menunggu kita di sini saja."
"Enak aja. Kembalikan HP ku! Aku mau pulang. Aku sudah ditunggu teman-temanku," Diana menyahuti ucapanku pada Dave dengan ketus sambil mengulurkan tangannya untuk meminta kembali ponselnya.
"Sebentar saja, ok? Bertahanlah di sini sebentar saja demi Dave, anak kita," aku memohon kembali padanya.
"Kembalikan HP ku!" serunya kembali padaku dan tangannya masih terulur untuk meminta ponselnya.
Aku hanya menghela nafas dan berbalik dengan tanganku menggandeng Dave dan menggendong Laura hendak berjalan meninggalkan Diana di tempat itu.
"Brengsek!" teriaknya padaku sehingga membuat orang-orang di sekitarku kembali memperhatikan kami.
__ADS_1