Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 52 Setitik keberuntungan dalam kesialan


__ADS_3

Hina lah aku, aku tak mengapa. Jadikan aku bahan olokan kalian pun aku tak mengapa. Tapi... tapi tolong jangan Celine yang kalian jadikan bahan hinaan dan olokan mulut kotor kalian itu. Celine terlalu suci untuk mulut kalian yang merasa sok suci itu. Kini aku tahu, mungkin saja salah satu dari perceraian Anton dengan istrinya karena hal seperti ini, tidak bisa menghargai orang lain.


Aku ingin mengatakan itu semua pada mereka, tapi sayangnya tak bisa. Bibirku terlekat sempurna layaknya terkena lem dan tidak bisa terbuka. Aku ingin membelanya, membela nama Celine di hadapan mereka. Namun sayangnya itu hanya bisa aku lakukan dalam anganku saja.


Hahahaha... aku sangat tidak berguna sekali. Aku menertawakan diriku sendiri dan menertawakan kebodohanku.


Tapi ada beberapa kalimat yang membuat tanganku menggebrak meja.


"Kamu pasti tergila-gila pada Celine bukan?" ucap Andre padaku.


"Wajar Bro, cantik luar dalam dia," Anton membela Celine yang sebenarnya mereka memang mengaguminya.


"Di mana-mana wanita penggoda, pelakor itu cantik-cantik Bro. Mangkanya mereka berani menggoda pria," kini Dika yang bermulut pedas itu menjatuhkan harga diri Celine.


"Brak!


Aku menggebrak meja karena tidak tahan mendengar mereka yang merendahkan Celine di depanku. Entah apa tujuannya, namun aku tidak bisa mentolerir lagi.


"Lex, kamu-"


Bukk!


Aku memukul Dika yang terhuyung ke belakang karena dirinya yang belum siap menerima pukulanku yang mengenai pelipisnya.


Bukk!!!


Aku terkena pukulan dari Andre ketika sedang lengah melihat Dika yang kesakitan karena terkena pukulanku. Badanku terasa tak kuat menahan perutku yang tekena pukulan dari Dika.

__ADS_1


Anton menolongku untuk bangkit dan berdiri, namun beberapa detik kemudian dia memukulku di wajahku.


Bukk!!!


Lebam? Sudah pasti banyak lebam di wajahku akibat pukulan mereka. Terasa nyeri dan panas wajah dan perutku. Kami memang suka bercanda dan bertengkar, namun tidak sehebat ini. Jikalau bertengkar pun pasti kami hanya memukul ringan saja. Aku tahu jika semua itu karena aku yang memulai memukul Dika terlebih dahulu, tapi itu karena mulut dia yang sangat tidak berpendidikan.


Aku kalah. Aku tidak bisa bangkit karena aku tidak ingin. Rasa sakit hatiku karena perkataan mereka mengenai Celine dan sakit hatiku karena Celine menjauhiku membuatku lebih menyakitkan.


Aku memang mendalami taekwondo dan menjadi perwakilan sekolah dalam pertandingan, namun sekarang aku tidak ingin mengeluarkan keahlianku itu untuk menghukum teman-temanku. Padahal dulu aku yang tak terkalahkan ini tidak pernah menyerah begitu saja terhadap apapun.


"Ah cemen! Gitu aja udah nyerah! Pantas aja gampang digoda sama pelakor rendahan macam Celine!" Dika yang sepertinya masih tidak terima dengan pukulanku mencoba untuk memprovokasi diriku.


Mataku terpejam menahan perih di perutku. Sekelebat bayangan Celine memohon padaku untuk berhenti berkelahi dan berhenti menanggapi mereka.


Aku tidak yakin Celine tahu apa yang ku rasakan sekarang. Namun aku ingin menyenangkan dan menenangkan diriku sendiri dengan menganggap Celine mempunyai ikatan batin khusus denganku sehingga dia melarangku sekarang ini.


Aku bangkit dan berdiri, mereka bertiga sudah mempersiapkan kepalan tinju mereka padaku. Namun sayangnya aku tidak melayani mereka.


Oh God...


Aku lupa. Aku lupa belum membayar makananku. Tapi aku yakin pihak cafe menagihnya pada mereka bertiga. Tapi aku akan membayarnya pada pihak cafe, besok, bukan sekarang.


Rintihan keluar dari mulutku ketika aku mencoba memegang luka memar di wajahku. Cemen sekali aku saat ini. Aku tersenyum meremehkan diriku sendiri yang sedang bercermin untuk melihat seberapa parah lukaku.


Tanpa pikir panjang, aku melajukan mobilku entah ke mana, aku tidak memilik tujuan pasti. Dan disinilah aku sekarang, di depan sebuah apartemen yang dekat dengan apartemenku.


Aku ingin melihat sosok orang yang seharian ini membuatku khawatir padanya. Di depan apartemen ini aku berdoa agar aku bisa melihat orang tersebut walaupun hanya dalam jarak jauh saja.

__ADS_1


Aku tahu jika ahri ini mungkin hari sialku, tapi tidak ada salahnya bukan jika aku berharap untuk bisa mendapatkan keberuntungan dari sisa hari ini?


Mataku terbelalak sempurna ketik melihat sosok wanita yang aku khawatirkan sejak hari-hati kemarin dan sangat ingin aku temui. Celine berjalan keluar dari apartemennya dengan memakai hoodie dan baju rumahan. Aku yakin jika itu memang dia, karena hoodie itu pernah dipakainya ketika berada di ibu kota kala itu.


Aku turun dari mobilku dan berjalan mengikuti di belakangnya. Ku langkahkan kakiku dengan hati-hati agar dia tidak curiga ada yang mengikutinya.


Sialnya aku karena kakiku malah tersandung batu yang entah mengapa bisa membuatku tersandung dan.... jatuh.


Aku meringis karena kini lutut dan telapak tanganku tergores bebatuan kecil tempat aku mendarat karena terjatuh. Sebenarnya batu itu kecil, tapi kenapa dia sampai bisa menjatuhkanku? Aku tertawa bodoh melihat kebodohanku yang memiliki hari terburuk dalam sejarah hidupku.


Mengharapkan keberuntungan di sisa hariku ini? Harapan apa itu? Ku rasa tidak ada yang namanya keberuntungan dalam hidupku. Lihat saja, aku menikah dengan wanita yang ternyata tidak benar-benar aku cintai, dan parahnya di saat aku mengikhlaskan cintaku pada seseorang, istriku kini berulah. Dan cintaku? Pemilik hatiku kini malah menjauhiku karena aku yang tidak bisa melindunginya dari mulut-mulut pedas teman-temanku.


"Al, kamu gapapa?" suara ini, suara yang aku kenal, suara dari wanita yang sangat aku rindukan.


Kaki yang terbalut celana joger warna coklat di hadapanku ini ternyata adalah wanita yang ingin ku temui. Celine, dia berada di hadapanku sekarang.


Aku tersenyum lebar memandangnya. Senyumku memperlihatkan kebahagiaanku yang tidak bisa aku ungkapkan sekarang ini. Dan wajah Celine yang sekarang membuatku sedih, wajahnya terlihat sangat khawatir padaku.


"Al... Al... kamu kenapa?" tanyanya padaku sambil mengulurkan tangan kanannya padaku untuk membantuku berdiri.


Aku dengan senang hati menerima uluran tangannya padaku untuk membantuku berdiri. Ku tatap wajahnya untuk mencari apa yang berbeda darinya ketika aku tidak bertemu dengannya beberapa hari ini.


Tidak ada yang berbeda, dia tetap Celine yang seperti biasanya aku temui, hanya saja dia lebih cantik tanpa memakai make up seperti saat sedang bekerja.


"Cel, apa aku bersalah padamu sehingga kamu menghindariku?" tanyaku padanya ketika aku sudah berdiri di hadapannya.


Celine hanya diam tanpa memberi jawaban padaku. Namun wajahnya sangat merasa bersalah padaku, itu yang aku baca dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Cel, apa kamu menjauhiku?" tanyaku kembali karena tidak juga mendapatkan jawaban darinya.


"Cel, apa kamu membenciku?" pertanyaan ini sepertinya akan menjadi pertanyaan terakhir untuk kedekatan kami.


__ADS_2