
Entah mengapa Celine lebih memilih makan di tempat yang lain dari pada di cafenya. Katanya sih ingin mencari suasana lain. Ok, aku turuti saja kemauannya karena aku melihat suasana hatinya sepertinya tidak baik. Setiap aku bertanya, selalu dia mengelak.
Tunggulah Celine, aku akan membuatmu mengaku, aku berjanji dalam hatiku.
Sekarang, di sinilah kami berada. Di sebuah restoran yang terkesan unik dengan interior nya. Celine yang memilih tempat ini, dia yang menunjukkan ku jalan untuk menuju restoran ini. Dan setibanya kami di sana, Celine menuju atap restoran tersebut yang memiliki pemandangan indah dan sangat menyenangkan. Sepertinya Celine sudah sering ke tempat ini. Pertanyaannya, dengan siapa dia makan di tempat yang indah dan romantis ini?
"Hai Ce, udah datang? Udah pesan makanan?" suara seorang wanita membuatku dan Celine menoleh ke arah tangga.
Aku tidak tahu siapa wanita tersebut, tapi sepertinya dia dan Celine sudah saling mengenal. Bahkan terkesan akrab karena panggilannya terhadap Celine berbeda dengan namanya.
"Tante apa kabar? Maaf aku jarang datang ke sini," ucap Celine ketika melihat wanita tersebut.
"Tante?" ucapku tanpa sadar.
"Iya Al, kenalkan ini Tante Shela, tanteku yang menyembunyikan aku dari mantan suamiku dan yang mengajari aku berbisnis cafe," Celine menjelaskannya padaku.
"Saya tantenya Celine. Apa kamu pacarnya keponakan Tante yang cantik ini?" Tante Shela memperkenalkan dirinya padaku.
Pertanyaan Tante Shela membuatku tersenyum, sungguh dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku bersorak kegirangan.
Maunya sih gitu Tante, tapi takdir berkata lain, jawabku dalam hati.
"Ah Tante kalau ngomong suka asal. Dia Alex teman SMP ku. Kami berteman baik sampai sekarang," jawaban Celine membuat Tante Shela tersenyum jahil, sepertinya dia tidak percaya dengan jawaban Celine.
"Really? Tapi kenapa hanya dia yang kamu ajak ke sini? Bukannya teman laki-lakimu ada banyak?" Tante Shella kembali bertanya.
Right... apa kataku, Tante Shella tidak begitu saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh Celine. Aku hanya tersenyum mendengarkan perdebatan mereka.
"Karena hanya Al yang paling dekat denganku," jawaban Celine membuat Tante Shella tertawa.
__ADS_1
"Ya udah terserah kamu Ce. Kalian tampak serasi," ucap Tante Shela kembali sambil terkekeh.
"Tante...," sahut Celine yang aku yakin dia sedang malu sekarang.
Tante Shela kembali tertawa, sepertinya dia puas menggoda keponakan cantiknya itu.
"Lalu kalian mau ke mana? Eh wait, kamu sangat cantik Sayang, kamu berdandan seperti ini bukan hanya karena akan makan malam bersama Alex kan?" Tante Shela mengernyitkan alisnya bertanya pada Celine.
"Ih Tante sok tau deh. Aku baru saja menghadiri acara pernikahan Gio," ucapnya dengan senyum getir.
"Gio? Giovani Mahendra? Mantan suami kamu itu?" Tante Shela bertanya seolah dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya, dengan Reni Wijaya," jawabnya dengan kembali tersenyum getir.
"Dengan wanita tidak tau diri itu?" Tante Shela benar-benar tidak percaya dengan ekspresinya yang seolah tidak percaya itu dia menggelengkan kepalanya dan kaget mendengar nama Reni Wijaya disebut oleh Celine.
Celine mengangguk dan tidak menjawab apapun, dia kembali tersenyum getir menerima kenyataan yang ada.
"Allah udah menuliskan jalan hidup kita Tan, dan aku ikhlas menjalaninya. Semoga nanti aku akan bahagia dengan keluargaku kelak," ucap Celine pasrah dan tersenyum manis untuk menenangkan Tante Shela yang sedang kesal.
"Ya sudah, Tante tinggal dulu. Kalian nikmati saja suasana di sini," Tante Shela berpamitan pada kami dan meninggalkan kami hanya berdua saja di tempat yang indah ini.
Aku memandang Celine yang sedang berdiri di tembok pembatas dengan memandang pemandangan malam dari atas bangunan ini. Memang terasa sangat indah pemandangan dari atap ini, dengan konsep outdoor dan semua yang serba unik di tempat ini membuat suasana nyaman dan sangat betah berada di sana.
Aku berdiri di samping Celine dan memandang langit serta pemandangan malam yang gemerlap dari cahaya lampu serta bulan dan bintang.
Sebenarnya aku ingin sekali memeluk Celine dari belakang dan melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Pasti sangat romantis sekali bukan? Memandangi pemandangan malam yang indah dengan memeluk dari belakang wanita cantik yang memang sangat ku kagumi. sungguh benar-benar sangat indah dan menyenangkan.
Sial! Hanya dengan membayangkannya saja tubuhku jadi menegang. Dan apa ini? Dia bereaksi! Milikku ikut menegang hanya dengan membayangkan memeluk Celine saja. Apa ini? Apa aku benar-benar sakit? Tidak, aku yakin ini ada yang salah. Dan detik itu juga aku memutuskan untuk tidak mengikuti saran dari dokter.
__ADS_1
Bukannya aku tidak percaya, aku hanya ingin membuktikan saja apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dan hanya aku yang tahu, karena aku yang merasakannya.
"Al, apa kebahagian itu ada?" suara Celine membuyarkan pikiranku.
Aku menoleh padanya, melihat wajah cantik itu yang terkena serpihan cahaya bulan menambah kadar kecantikannya.
"Apa kamu meragukan itu?" tanyaku padanya.
Celine tersenyum getir melihatku, kemudian dia menghadap ke depan, melihat kembali pemandangan kota di malam hari dengan gemerlap cahaya lampu dari tempat kami berada.
"Bukannya aku meragukannya Al, aku hanya ingin merasakannya," ucapnya dengan melihat langit atas.
Aku yakin Celine sedang sedih sekarang ini. Dia tidak pernah mengatakan kelemahannya seperti sekarang ini. Dan dia menghadap ke atas, aku yakin dia menahan agar air matanya tidak jatuh ke bawah.
"Ada apa sebenarnya Cel? Apa yang terjadi di pesta tadi? Katakan padaku, kamu sudah berjanji akan mengatakan semuanya padaku bukan?" aku terus saja memaksanya untuk mengaku padaku, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di pesta itu.
Celine masih saja terdiam, sepertinya dia ragu akan mengatakannya padaku. Aku jadi semakin geram dan ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Ok jika kamu memang tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi. Aku akan berhenti mencari tau," ucapku sembari berbalik, bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Kalian pikir aku akan meninggalkannya? Hey come on... Mana bisa aku meninggalkan Celine ku sendirian, aku tidak akan tega melakukannya. Aku hanya menggertaknya saja agar Celine mau bercerita padaku.
"Al!" Celine berseru menghentikanku untuk pergi dari tempat itu.
See... Celine benar-benar menghentikanku bukan? Aku kembali berbalik dan kembali berdiri di sampingnya.
"Kamu percaya padaku kan Cel?" tanyaku untuk membuatnya bercerita padaku.
Celine mengangguk dan dia menghadap padaku, menatapku dengan pandangan mata yang menurutku penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
"Apa aku wanita penggoda Al?" pertanyaan Celine membuat mataku terbelalak.