
Langkahku yang tadinya ringan kini tiba-tiba berhenti. Mataku membola seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.
"Apa ini?" pertanyaan ini lolos begitu saja dari mulutku.
Taman di belakang rumahku yang terdapat kolam renang di sana, kini disulap menjadi tempat yang sangat indah layaknya tempat berpesta.
Dan benar saja, ini outdoor party yang diadakan oleh Diana untuk anggota sosialitanya. Mewah, itu kata yang bisa aku ucapkan ketika melihatnya.
Tapi dalam rangka apa ini diadakan? Kenapa aku bisa tidak tahu? Aku kepala rumah tangga di sini, di keluarga ini, di rumah ini, tapi kenapa sepertinya aku tidak tahu soal ini semua?
"Dave ada acara apa ini?" tanyaku pada Dave yang masih berada dalam gendonganku.
"Gak tau. Sepertinya ini acara biasa seperti yang kami hadiri," jawab Dave sambil memakan coklat yang aku berikan tadi padanya.
"Acara yang biasa kalian hadiri? Acara apa itu Dave? Dan kalian biasa menghadirinya di mana?" tanyaku kembali pada Dave.
"Pa-pa!" Laura memanggilku dengan suara khasnya yang terdengar lucu dan bervolume tinggi.
Aku menoleh ke arah Laura yang telah memanggilku, dan ternyata dia sedang berjalan ke arahku.
Ku turunkan Dave dan ku raih tubuh Laura untuk ku gendong. Seperti yang ku lakukan pada Dave, ku ciumi wajah Laura dan dia pun terkekeh kegelian.
Sedangkan Diana, aku cari di mana dia berada. Mataku menelisik seluruh area di sana, ternyata dia sedang asyik dengan kegiatannya di gazebo taman yang menghadap ke kolam renang.
Ku bawa Laura mendekati Diana untuk mencari tahu apa yang dia sedang lakukan sehingga membiarkan Laura berjalan sendiri tanpa pengawasannya.
"Ma-ma, Ma-ma, Pa-pa-pa," Laura berceloteh ketika kami sudah berjalan mendekati Diana.
Diana pun menoleh sekilas dan menyapaku dengan tidak memandangku, dia lebih asyik dengan kegiatannya.
"Kamu sudah pulang?" ucapnya tanpa melihatku ataupun tersenyum padaku.
"Kamu sedang apa?" tanyaku padanya tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang diajukannya padaku.
"Seperti yang kamu lihat," jawabnya dengan enteng tanpa melihatku dan tetap dengan kegiatannya.
"Untuk apa itu semua?" tanyaku dengan penuh penasaran.
"Give away," jawabnya singkat.
"Give away? Untuk apa? Dan ada acara apa ini semua?" tanyaku dengan tidak sabaran.
"Acara rutin pertemuan kami," jawabnya singkat kembali.
"Arisan?" tanyaku menyelidik.
__ADS_1
Dan Diana pun mengangguk. Dia masih saja sibuk dengan kegiatannya memasukkan barang-barang yang disebutnya give away itu ke dalam beberapa goody bag yang telah dia sediakan.
"Ini semua-"
"Hai Jeng....," suara dari teman-teman Diana itu membuat pembicaraanku terputus.
Dengan rasa kesal yang memenuhi dadaku, ku tinggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam kamarku.
Ku lihat mereka berdandan sangat wah dan dari atas sampai bawah pun memakai barang mewah dengan brand ternama. Mereka tersenyum manis dan memasang wajah genitnya melihatku.
Pantas saja Diana sekarang menyukai barang-barang seperti itu, ucapku dalam hati ketika berpapasan dengan mereka.
Ku lihat Dave bermain bersama dengan teman-temannya yang datang bersama mama-mamanya yang kini sedang arisan bersama Diana.
Ku gendong Laura menuju kamarku. Baru kali ini aku mengerti Diana yang lebih mengutamakan acaranya dengan teman-temannya dibandingkan dengan Laura yang butuh perhatiannya.
Pantas saja Laura bisa tiba-tiba jatuh sakit pada saat itu, ternyata karena Diana lebih asyik dengan teman-teman dan acaranya.
Memang anak seumur Laura sedang aktif-aktifnya, seharusnya dia tahu itu karena Laura bukan anak pertamanya, tapi apa? Lihat saja Laura bermain tanpa pengawasannya.
Sebenarnya niatku ketika sampai rumah adalah bersih-bersih badan, tapi kini aku sedang bersama Laura, tidak mungkin dia akan ku tinggalkan sendirian.
Beberapa jam kemudian Laura tertidur, mungkin dia kelelahan bermain. Ku tinggalkan Laura sebentar untuk membersihkan badanku.
Wajah Laura begitu polos dan tenang, sehingga aku betah sekali memandangnya. Hingga tak terasa aku tertidur bersama Laura di sampingnya.
Selama itu aku tidak mendapati Diana membangunkan aku.
Apa mungkin acara Diana dan teman-temannya belum selesai?
Ku lihat dari jendela kamar yang menghubungkan langsung ke taman belakang. Sangat indah, kolam renang dan taman itu sangat indah dengan hiasan lampu warna-warni dan hiasan-hiasan layaknya kami sedang berpesta.
Ah... aku jadi teringat hal yang akan aku tanyakan pada Diana tadi. Tentang biaya dari acara arisan yang mirip seperti orang yang sedang pesta ini.
Beberapa jam ku tunggu, akhirnya acara itupun selesai. Diana dengan riangnya menuju ke kamar setelah teman-temannya dan teman-teman Dave sudah pulang. Sedangkan pihak dari event organizer telah sibuk membenahi taman belakang yang digunakan oleh Diana mengadakan acara tadi.
"Sudah selesai?" tanyaku pada Diana ketika dia sedang melepas semua perhiasannya.
"Seperti yang kamu lihat," jawabnya dengan singkat.
"Sepertinya kamu sangat senang sekali," ucapku untuk mengetahui apa yang sedang dia rasakan.
"Ya iyalah, acaraku berjalan dengan lancar dan sangat mengesankan, sehingga mereka semua memujiku. Jadi gak ada alasan aku untuk bersedih," jawabnya dengan senyuman yang sedari tadi tak pernah luntur.
Ku perhatikan Diana yang sangat senang dan berdendang membuat keinginanku untuk bertanya padanya semakin kuat.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin bertanya padaku?" tanyaku padanya.
"Tanya apa?"
"Apa kamu tidak ingin mengetahui kabarku? tanyaku kembali.
"Mmm... sepertinya kamu baik-baik saja di sana, apa kamu sudah sembuh? Apa kamu berhubungan lagi dengannya?" tanyanya padaku.
"Aku tidak sakit, dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku sungguh ingin kita hidup bahagia bersama anak-anak kita."
"Lalu kenapa milikmu tidak bereaksi jika kamu tidak sakit?" tanyanya padaku.
"Entahlah, aku tidak tau," jawabku.
"Awas saja jika kamu berani berselingkuh dariku lagi," dia mengancamku.
"Sudahlah, aku sudah berjanji padamu dan pada diriku sendiri. Aku jamin aku tidak akan mengingkarinya kembali."
"Jangan hanya janji, buktikan!" ucapnya dengan raut wajah yang seolah meremehkanku.
"Apa kamu sudah makan?" tanyaku padanya.
"Tentu saja," jawabnya singkat.
Dia benar-benar melupakanku dan Laura. Entahlah Dave ku rasa juga dia lupakan. Beruntungnya Dave yang bersama teman-temannya sehingga dia tidak membutuhkan perhatian Diana pada saat itu.
"Apa kamu tidak menanyaiku, aku sudah makan apa belum?" tanyaku padanya.
"Hahaha.... Kamu sudah dewasa, untuk apa aku menanyaimu. Beda lagi kalau kamu adalah Laura, pasti kamu akan aku suapi," jawabnya.
"Benarkah? Aku suamimu. Aku baru pulang dari kerjaku yang di luar kota. Pantaskah kamu mengacuhkan ku seperti itu?"
Aku menjeda perkataanku untuk mengambil nafas.
"Laura? Apa kamu ingat dengan Laura? Dia kamu biarkan berjalan-jalan sendiri di sekitar kolam renang karena kesibukanmu dengan kegiatanmu membungkusi give away mu itu. Bagaimana jika Laura tercebur di kolam renang dan kamu tidak mengetahuinya?"
"Pasti aku tau, kan ada suaranya," jawabnya dengan enteng.
"Aku tidak percaya, buktinya saja kamu gak tau pada saat aku datang. Dan buktinya Laura bisa jatuh sakit pada saat itu karena keteledoranmu. Aku tau semuanya. Kamu lebih asyik dengan acaramu dan teman-temanmu sehingga kamu lupa akan kehadiran Laura, dan akhirnya..... Laura memakan apapun yang ada di sekitarnya dan berakhir di rumah sakit karena diare yang sudah parah."
Aku menghela nafasku dan menata kembali pernafasanku.
"Apa maksudmu menyalahkanku? Aku juga ingin mempunyai waktu untuk diriku sendiri. Selama ini aku di sini hanya mengasuh anak+anak saja. Sedangkan kamu di sana, enak-enakan berselingkuh dengan wanita lain. Masih untung aku setia, tidak membalas perselingkuhanmu dengan Perselingkuhan juga."
"Kenapa kamu bahas-bahas lagi masalah selingkuh? Semuanya sudah selesai dan tidak akan terjadi lagi," aku sangat kesal mengucapkan ini semua padanya.
__ADS_1
"Mangkanya biarkan aku bersenang-senang dengan teman-temanku dan jangan melarangku," ucapnya menentangku.
"Apa dengan membuat acara berlebihan seperti ini?"