Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 22 Desakan Reni


__ADS_3

"Menikah... menikah... menikah... apa hanya itu yang bisa kamu katakan?"


"Lalu apa? Apakah kita akan begini saja tiap hari tanpa status?" Reni berteriak marah padaku.


"Apa perlu kita menikah?" suaraku kini melemah agar dia mau memahamiku.


"Kalau kayak gini terus, enak di kamu gak enak di aku Lex," jawab Reni yang membuatku kaget.


Sejak kapan dia merasa dirugikan? Bukankah dia yang selama ini mendatangiku? Lalu kenapa kini seolah dia yang menjadi pihak yang dirugikan?


"Hahaha... lucu kamu Ren, sejak kapan kamu merasa rugi?" tanyaku sambil terkekeh.


"Sialan kamu Lex, aku juga ingin memilikimu. Biar aku juga punya hak seperti istrimu itu," jawaban Reni membuatku sadar jika dia ingjn menyingkirkan istriku dari hidupku.


"Aku bukan siapa-siapa Ren, kamu bisa dengan mudah mendapatkan lelaki lain yang lebih dari aku," aku mencoba membujuknya agar dia mau menjauhiku yang tidak ada niatan untuk menikahinya karena aku sudah mempunyai anak dan istri.

__ADS_1


"Kamu jahat Lex. Pokoknya aku maunya kamu ya kamu. Lagian kamu sangat menikmati jika bersamaku. Iya kan? Apa istrimu bisa memuaskanmu seperti aku memuaskanmu?" pertanyaan Reni ini membuatku mengingat-ingat pergumulanku kemarin bersama Diana.


Ah, bodohnya aku yang malah dengan gampangnya terhasut oleh ucapan Reni. Aku akui sensasinya memang berbeda karena sensasi halal begitu nyaman tanpa harus buru-buru, dan sensasi bersama wanita lain harus berhati-hati agar tidak ketahuan oleh orang lain terutama pasangan sah kita.


"Hahaha... Alex... Alex.. kamu pasti membenarkan ucapanku kan? Bukannya memang benar kalau kamu lebih menikmatinya bersamaku daripada bersama istrimu?" Reni mengatakannya dengan sangat percaya diri sekali.


Aku beranjak dan lebih memilih untuk berada di balkon dengan meminum sekaleng soda. Sedangkan Reni, aku menoleh sekilas padanya dan...


Aaaah... aku lupa jika ponselku masih berada disitu. Pantas saja dia diam tidak menyusulku kemari, ternyata dia sedang melihat-lihat isi dari ponselku.


Aaaah... ternyata aku memang bodoh, pesan-pesanku dengan Celine tempo hari belum aku hapus. Aku lupa karena Diana sudah tidak lagi mencari ponselku, sehingga aku lupa menghapusnya karena sudah merasa aman.


Semoga Reni tidak mengetahui pesan-pesanku dengan Celine waktu itu, ketika aku membahas ingin menggagalkan pernikahannya dan aku yang akan menggantikan mempelai laki-lakinya, aku juga membahas akan membawa Celine lari jika kami tidak direstui.


Hahaha... ternyata dewi fortuna tidak memihak padaku untuk saat ini. Sekarang ini aku mendapatkan tatapan membunuh dari Reni setelah dia melihat ponselku.

__ADS_1


Lalu, apakah itu artinya dia membaca pesan-pesanku tempo hari bersama Celine?


Sial... sial... sial.. sangat sial sekali jika dia benar-benar membacanya. Karena aku tidak bisa membayangkan, bagaimana nantinya dia akan memperlakukan Celine setelah membaca pesan-pesan tersebut.


Sepertinya aku tidak harus mengkhawatirkannya bukan? Celine sekarang sudah mempunyai suami, jadi untuk apa aku mengkhawatirkannya?


Suami? Sumpah demi apapun aku benci kata itu jika disandingkan dengan nama Celine untuk sebutan laki-laki lain. Aku tidak bisa membayangkan Celine melakukannya dengan laki-laki lain. Aku tidak ingin kegadisannya ternodai oleh laki-laki lain.


"Lex kamu selingkuh?" Reni membuyarkan lamunanku.


Aku mengernyitkan dahiku tidak mengerti arah pembicaraannya, karena iya memang aku selingkuh tapi itu dengannya, jadi mengapa malah dia mempertanyakannya. Bukankah sudah jelas dia itu selingkuhanku.


"Kamu berselingkuh kan?" Reni memukuliku sekuat tenaga dengan tangannya secara bertubi-tubi, bahkan dia mencakar tanganku dengan kukunya yang sangat terawat karena meni pedi di salon yang biasanya dia kunjungi.


"Apa maksudmu Ren?" tanyaku sambil memegang tanganku yang dicakar olehnya.

__ADS_1


"Apa ini?"


__ADS_2