
Alunan musik yang mengalun indah di dalam mobilku tak seindah alunan musik di dadaku. Senyum yang tak pudar dari bibirku ini menandakan hatiku yang sedang senang.
Bagaimana tidak senang jika kedua orang tua Celine mengharapkan aku untuk menjadi menantunya. Sayangnya harapan itu sudah sirna, namun aku tak patah semangat untuk tetap menjadi sahabatnya.
Kedua orang tua Celine memang belum mengetahui statusku yang sudah berkeluarga. Dan sepertinya Celine memang tidak berniat memberitahu mereka tentang statusku itu.
Di kala mataku terpejam di waktu tidurku, aku malah teringat akan perbincanganku bersama kedua orang tua Celine.
"Baru kali ini loh Celine membawa teman pria main ke rumah. Jadi gak salah dong kalau kita sebagai kedua orang tua Celine menganggap nak Alex sebagai teman dekatnya Celine? Sedekat apanya kita juga gak tau. Dan spesial atau enggaknya kita juga gak tau," Ibu Celine mengucapkan itu semua dengan terkekeh.
"Ibu, jangan bilang kayak gitu Bu," Celine terlihat tidak suka ibunya mengatakan seperti itu.
Aku tahu bahwa Celine sebenarnya enggan mendengar itu semua karena aku sudah berkeluarga, dan terasa tidak mungkin bila kita bersama.
Namun Celine juga tidak mengatakan statusku yang sebenarnya mungkin agar aku nyaman berada di tengah-tengah keluarganya. Dan agar kedua orang tuanya tidak melarang kami untuk berteman dekat karena statusku yang ya... bisa kalian tahu sendirilah, aku seorang pria yang sudah berkeluarga, sudah mempunyai seorang istri dan dua orang anak.
Menurut pikiranku sih seperti itu. Apa mungkin ada alasan lainnya sehingga Celine tidak memberitahukan statusku yang sebenarnya pada kedua orang tuanya? Entahlah, aku belum bisa bertanya padanya, sekarang aku hanya bisa menerka-nerka saja.
"Sudahlah, Ayah dan Ibu sudah tidak mau menekan kamu lagi Cel, kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jadi kami hanya bisa berdoa saja dan kami menunggu pilihan dari kamu sendiri. Sekarang kami percaya dengan pilihan kamu karena kamu yang memilih untuk dirimu sendiri," Ayah Celine menjelaskan pada Celine.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh ayah Celine. Dalam hatiku aku menyetujuinya. Ini hidup Celine dan Celine berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi suaminya, pasangan hidupnya untuk selamanya.
Jika saja pikiran ayah Celine itu sudah sedari dulu, tidak akan mungkin Celine menikah dengan Gio.
Ah... mengingat nama Gio kemarahanku menjadi memuncak kembali. Sempat aku bertanya-tanya, kenapa dia sepertinya tidak mau melepaskan Celine, apa mungkin dia masih mencintainya? Tapi untuk apa dia terang-terangan berselingkuh di hadapan Celine dengan Reni waktu itu? Dan ketika Celine memergokinya, mengapa dia tidak mengejar Celine pada saat itu juga? Aku rasa itu bukan karena dia mencintai Celine.
Atau mungkin karena dia terobsesi dengan Celine? Terobsesi karena apa? Bukannya dia sudah pernah menjadi suaminya?
__ADS_1
Aaargghhh... sial! Gara-gara semua pikiran-pikiran itu, sekarang mataku enggan terpejam. Wajah Celine malah terbayang di pelupuk mataku, kalau begini bagaimana aku bisa tidur?
Aku ambil ponselku yang tergeletak di nakas. Ku lihat semua foto-foto di galeriku. Inilah salah satu obat untuk meredakan rinduku di setiap waktu.
Foto-foto lucu Dave dan Laura yang selalu aku ambil di saat aku berada bersama mereka. Saat-saat bahagiaku bersama mereka menjadi seorang ayah seutuhnya bagi mereka. Tawa mereka yang sangat ceria, wajah polos mereka yang ku rindukan, dan tingkah-tingkah lucu mereka yang membuatku selalu ingin pulang ke rumah.
Jangan kira jika aku selalu terbayang Celine lantas aku melihat fotonya. Jangan kira jika aku merindukan Celine lantas aku menghubunginya, aku tidak serendah itu. Aku tahu posisiku di mana.
Dan inilah caraku menghilangkan semua rasa itu, dengan melihat foto-foto Dave dan Laura, atau dengan menghubungi mereka melalui video call.
Aku memang pria yang berengsek karena pernah terjebak oleh seorang Reni Wijaya. Dan aku akui jika nama Celine masih ada di dalam hatiku.
Tapi aku yang sekarang berusaha sekuat tenaga untuk tidak keluar dari jalurku. Aku ingin keluargaku tetap utuh dan hidup bahagia bersama mereka. Bisakah itu terjadi?
...****************...
Diana, istriku, dia masih tetap sama seperti waktu itu, masih hobi belanja dan arisan dengan teman-teman sosialitanya.
Dan ada yang masih sama juga, tagihan semua kartu kredit yang aku berikan pada Diana. Cicilan barang-barang mewah yang dibeli oleh Diana setiap hari bertambah, bahkan jumlahnya bertambah pesat. Sehingga tidak ada putusnya, setelah lunas ada tagihan baru, begitulah seterusnya.
Sedangkan Dave dan Laura, mereka benar-benar anak-anakku yang hebat. Mereka bertambah pintar dan bertambah menggemaskan.
Sebenarnya Dave sangat ingin ikut denganku ke kota di mana aku bekerja sekarang, namun lagi-lagi Diana selalu menolak dan beralasan bahwa sekolah Dave saat ini adalah yang terbaik.
Sempat aku ingin bertanya padanya, sekolah Dave yang terbaik atau teman-temanmu yang merupakan mama-mama dari teman Dave itu yang terbaik? Namun pertanyaan itu aku tahan di dalam hati saja, karena aku tidak mau Diana mengamuk kembali dan mengungkit-ungkit tentang kesalahanku, perselingkuhanku dengan Reni. Aku sangat menghindari itu, dan aku tidak mau itu terjadi lagi.
Selama itu juga aku masih memantau Celine. Di sela kerjaku, kadang kami bertemu. Bukan untuk alasan lainnya, aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja dan tidak lagi diganggu atau dibuntuti oleh Gio.
__ADS_1
Aku rasa Gio sudah menyerah untuk mendekati ataupun mengikuti kegiatan Celine, karena aku tidka menemukan dia akhir-akhir ini. Entahlah, apa mungkin karena dia sibuk? Pergi ke luar kota? Atau mungkin dia terperangkap oleh sangkar Reni? Entahlah, yang pasti aku lega karena dia tidak lagi meresahkan dan mengganggu Celine.
Dan inilah saatnya aku pulang menemui keluargaku, istri dan anak-anakku. Walaupun pagi ini sangat mendung, tak menghentikanku untuk pulang menemui mereka.
Awalnya penerbangan pesawatku ditunda karena cuacanya yang sangat meresahkan, namun beberapa menit setelah itu pesawat sudah bisa mulai terbang kembali.
"Dave... Laura... Papa pulang.....," aku berteriak layaknya tarzan yang memanggil kawan-kawannya yang berada di hutan luas.
"Yeeee.... Papa pulang....!" Dave melonjak-lonjak bersorak kegirangan.
Ku gendong dan ku peluk erat-erat Dave untuk melepaskan kerinduaku. Ku ciumi seluruh wajahnya hingga dia terkekeh kegelian.
"Aduuuh... geli Papa....," ucapnya sambil terkekeh dan tubuhnya meliuk-liuk kegelian di gendonganku.
"Laura mana Dave?" tanyaku pada Dave yang masih berada di gendonganku.
"Sama Mama," jawabnya.
"Mama di mana?" tanyaku kembali pada Dave.
"Ada di taman belakang," jawabnya sambil menunjuk taman belakang rumah kami
Aku berjalan menuju taman belakang dengan Dave masih digendonganku. Langkah kaki ku begitu ringan dan semangat mengingat kerinduanku pada Laura yang sudah bisa berbicara lebih banyak lagi dan sudah mulai berjalan.
Tiba-tiba langkahku terhenti di pintu yang akan menuju ke taman belakang. Aku seolah tak percaya melihatnya.
"Apa ini?"
__ADS_1